AML Nilai MBG Lebih Tepat Dikelola Melalui Dapur SPPG

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Kamis, 10 September 2026 - 15:58 WIB

50353 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dapur SPPG Blang Jerango yang dikelola Yayasan Bustanul Quran. SPPG tersebut telah menerapkan standar operasional prosedur, didukung peralatan pengolahan makanan serta tenaga yang menangani proses produksi.

Dapur SPPG Blang Jerango yang dikelola Yayasan Bustanul Quran. SPPG tersebut telah menerapkan standar operasional prosedur, didukung peralatan pengolahan makanan serta tenaga yang menangani proses produksi.

GAYO LUES | Insetgalusnews.com | Pemerhati kebijakan Kabupaten Gayo Lues, AML, menilai Program Makan Bergizi Gratis lebih tepat tetap dilaksanakan melalui dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi dibandingkan dialihkan pengelolaannya ke kantin atau dapur sekolah.

Menurut AML, penilaian tersebut didasarkan pada sejumlah pertimbangan, mulai dari teknis pelaksanaan, pengawasan kebersihan dan pemenuhan gizi, hingga fungsi utama sekolah sebagai tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.

“Jika ditempatkan di sekolah dikhawatirkan akan menimbulkan persoalan baru. Sekolah biar difokuskan sebagai tempat belajar mengajar,” ujar AML, Kamis (10/9/2026).

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia mengatakan, pengolahan makanan dalam jumlah besar di lingkungan sekolah membutuhkan ruang, tenaga, serta penerapan standar pengolahan makanan, kebersihan, keamanan pangan dan pemenuhan gizi.

AML khawatir, apabila aktivitas memasak dilakukan di sekolah, kegiatan tersebut berpotensi mengganggu proses belajar mengajar. Selain aktivitas memasak, keluar-masuk petugas, distribusi makanan, asap dan suara juga dinilai dapat memengaruhi aktivitas siswa dan guru.

“Harus dipikirkan dampaknya” katanya.

AML menilai dapur SPPG memiliki fungsi yang lebih spesifik karena dapat difokuskan untuk pengolahan dan pendistribusian makanan bagi penerima manfaat MBG tanpa bercampur dengan aktivitas pendidikan.

Ia mencontohkan operasional SPPG Blang Jerango yang dikelola Yayasan Bustanul Quran. Menurutnya, SPPG tersebut telah menerapkan standar operasional prosedur, didukung peralatan pengolahan makanan serta tenaga yang menangani proses produksi.

“Di SPPG ini semua berjalan sesuai SOP, higienis dan bersih, dan juga didukung peralatan sesuai SOP. Petugas di sini juga memberdayakan dan mengutamakan bahan kebutuhan pokok dari para petani langsung,” ujarnya.

Selain aspek teknis, AML menilai sistem pengawasan menjadi alasan penting agar pelaksanaan MBG tetap dilakukan melalui SPPG.

Menurut dia, pengawasan pada dapur SPPG dapat dilakukan secara lebih terarah dengan melibatkan pihak yang memiliki kewenangan dan kompetensi terkait keamanan pangan serta pemenuhan gizi.

“Masak makanan memang harus difokuskan ke dapur yang sudah berjalan. Di sana ada pengawasan berlapis dari BGN, dinas kesehatan, dan ahli gizi,” katanya.

Sebaliknya, AML khawatir jika pengolahan makanan diserahkan kepada masing-masing sekolah, penerapan standar pengolahan makanan, kebersihan dan pemenuhan gizi tidak akan seragam karena kemampuan setiap sekolah berbeda.

Ia juga mempertimbangkan dampak perubahan pola pengelolaan tersebut terhadap tenaga kerja dan pelaku usaha yang selama ini telah terlibat dalam operasional SPPG.

“Jika dipusatkan di sekolah maka akan ada persoalan baru, contoh seperti perekrutan tenaga kerja dan lain-lain. Itu kan sama saja program MBG ini kembali ke nol,” ujarnya.

AML menilai keberlanjutan ekonomi masyarakat yang telah terlibat dalam program juga perlu menjadi pertimbangan pemerintah.

“Ini bukan hanya soal makan. Ini soal keberlanjutan ekonomi masyarakat. Jangan sampai program baik ini justru mematikan usaha orang,” katanya.

Atas sejumlah pertimbangan tersebut, AML meminta Badan Gizi Nasional bersama pemerintah daerah mengevaluasi terlebih dahulu pelaksanaan MBG melalui SPPG sebelum mengambil kebijakan terkait perubahan pola pengelolaan.

Ia menyarankan pemerintah memperkuat SPPG yang telah berjalan, dan melakukan pengawasan secara intensif.

“Biarkan SPPG jalan sesuai tupoksinya. Sekolah jalan sesuai tupoksinya. Jangan dicampur. Kalau mau efektif, perkuat dapur yang sudah ada, bukan bikin dapur baru di setiap sekolah,” jelas AML.

Redaksi | Insetgalusnews

Berita Terkait

Satu Pelaku Diburu, Satresnarkoba Polres Gayo Lues Sita 957 Gram Ganja
Kemenekraf Dorong Peserta AdCamp Skill Up Lab Hasilkan Materi Iklan dari Daerah
Pimpinan Dewan Optimis Ekonomi Kreatif Jadi Mesin Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Gayo Lues
Gelar AdCamp Skill Up Lab di Gayo Lues, Kemenekraf Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kreatif
174 Kelompok Tani Lolos Verifikasi, 2.500 Hektare Lahan Segera Ditanami Kopi
Hujan Deras Picu Air Meluap, Kendaraan Roda Enam Terguling di Aih Bobo
Kebakaran Hanguskan 11 Rumah di Kampung Lokop Baru Gayo Lues
Dari Gayo Lues ke Jakarta, Bupati Suhaidi Perjuangkan 7 Jembatan dan Jalan Lesten

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 10:25 WIB

Polisi Sasar Judi Online di Gayo Lues, Dua Pria Diamankan di Warung

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:51 WIB

Ibnu Hafit: Pencegahan Narkoba Dimulai Dari Lingkungan Keluarga 

Selasa, 27 Oktober 2026 - 11:22 WIB

Polres Gayo Lues Gelar Operasi Patuh Seulawah 2026, Sasar Knalpot Brong dan Helm

Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:42 WIB

BNNK Gayo Lues Perkuat Relawan, Fauzul Iman: Cegah Narkoba dari Desa

Selasa, 27 Oktober 2026 - 09:50 WIB

BNNK Libatkan Relawan dari Sembilan Desa. Plt Sekda: Kita Butuh Keterlibatan Semua Pihak

Kamis, 22 Oktober 2026 - 22:44 WIB

Dua Paket Sabu Seberat 0,38 Gram Disita dari Pria di Durin

Rabu, 21 Oktober 2026 - 23:02 WIB

KPK Anugerahi Kampung Kota Rikit Gaib Penghargaan Desa Bebas Korupsi, Raih Skor 90,5

Rabu, 21 Oktober 2026 - 08:05 WIB

Pemkab Gayo Lues Luncurkan Program Kopi untuk Ekonomi Kerakyatan

Berita Terbaru

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan