EPISODE 1
Warisan Dua Kakek, Lahirnya Seorang Pejuang
Pagi itu, secangkir kopi hangat mengepul di atas meja. Di tengah obrolan santai, sosok berpenampilan sederhana itu lebih banyak tersenyum daripada bercerita tentang dirinya sendiri. Tak banyak yang tahu, di balik kesederhanaannya, tersimpan perjalanan panjang seorang anak kampung dari Gayo Lues yang menapaki jalan hidup penuh perjuangan, mengikuti jejak dua tokoh besar dalam keluarganya.
Namanya Edwar Canto.
PARIWARA | insetgalusnews.com | Bagi sebagian orang, ia hanyalah seorang aparatur sipil negara yang telah lama mengabdi. Namun bagi mereka yang mengenalnya dekat, Edwar adalah cerminan ketangguhan yang tumbuh dari akar sejarah, pendidikan, dan pengabdian.
Edwar Canto lahir di Blangkejeren, 22 Juni 1969. Ia tumbuh di lingkungan keluarga yang menjadikan ilmu pengetahuan sebagai warisan paling berharga.
Dari garis ayah, mengalir darah seorang pendidik legendaris bernama Abdul Munaf atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Guru Angong. Pada era kolonial Belanda sekitar tahun 1928, Guru Angong telah mengajar di kawasan terpencil Pining, ketika akses pendidikan masih menjadi barang mewah bagi masyarakat pedalaman.
Tubuhnya tinggi besar. Kacamata tebal menghiasi wajahnya. Tongkat rotan khas Gayo selalu menemaninya berjalan dari satu kampung ke kampung lain. Sosok itulah yang kelak menjadi simbol keteguhan bagi keluarga besarnya.
Guru Angong bukan hanya mengajar membaca dan menulis. Ia ikut membangun peradaban di daerah yang kala itu nyaris terisolasi.
Sementara dari garis ibu, Edwar mewarisi keteladanan Buya Djamaan Fahmi, ulama kharismatik sekaligus tokoh pendidikan yang turut membidani lahirnya Muhammadiyah di Gayo Lues pada era 1950-an.
Buya Djamaan bukan sekadar guru agama. Ia juga dikenal sebagai tokoh masyarakat yang disegani dan pernah menjadi anggota DPR Kabupaten Aceh Tenggara mewakili wilayah Kewedanaan Gayo Lues.
Dua sosok berbeda.
Satu mengabdikan hidup untuk pendidikan di pedalaman.
Satu lagi menanamkan nilai agama dan kepemimpinan.
Keduanya membentuk fondasi karakter seorang Edwar Canto.
“Sejak kecil saya selalu mendengar cerita perjuangan mereka. Itu yang menjadi pegangan hidup saya,” kenangnya.
Di rumah sederhana keluarga itu, pendidikan bukan pilihan, melainkan kewajiban.
Edwar menempuh pendidikan dari SD Muhammadiyah Blangkejeren, lalu melanjutkan ke Banda Aceh hingga akhirnya diterima di Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala.
Namun perjalanan sesungguhnya baru akan dimulai ketika ia menyelesaikan kuliahnya pada tahun 1994.
Saat itu, Gayo Lues masih menjadi bagian Kabupaten Aceh Tenggara. Informasi pekerjaan sangat terbatas. Kesempatan hidup terasa sempit.
Di hadapan Edwar muda terbentang dua pilihan: menyerah pada keadaan atau berani menantang nasib.
Ia memilih jalan kedua.
Keputusan itu membawanya meninggalkan kampung halaman menuju perkebunan sawit di wilayah Aceh Timur.
Ia belum tahu bahwa langkah tersebut akan membawanya memasuki daerah konflik bersenjata yang setiap hari diwarnai dentuman senjata.
Di sanalah ketangguhan seorang Edwar Canto mulai ditempa.
(Bersambung ke Episode 2; “Di Antara Dentuman Senjata dan Mimpi Menjadi Peneliti”)
Redaksi | insetgalusnews


































