SERIAL FEATURE “EDWAR CANTO” Dari Pedalaman Pining Menuju Pentas Pengabdian Nasional

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Kamis, 11 Juni 2026 - 20:07 WIB

50230 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Edwar Canto | Fhoto | ist |

Edwar Canto | Fhoto | ist |

EPISODE 1

Warisan Dua Kakek, Lahirnya Seorang Pejuang

Pagi itu, secangkir kopi hangat mengepul di atas meja. Di tengah obrolan santai, sosok berpenampilan sederhana itu lebih banyak tersenyum daripada bercerita tentang dirinya sendiri. Tak banyak yang tahu, di balik kesederhanaannya, tersimpan perjalanan panjang seorang anak kampung dari Gayo Lues yang menapaki jalan hidup penuh perjuangan, mengikuti jejak dua tokoh besar dalam keluarganya.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namanya Edwar Canto.

PARIWARA | insetgalusnews.com | Bagi sebagian orang, ia hanyalah seorang aparatur sipil negara yang telah lama mengabdi. Namun bagi mereka yang mengenalnya dekat, Edwar adalah cerminan ketangguhan yang tumbuh dari akar sejarah, pendidikan, dan pengabdian.

Edwar Canto lahir di Blangkejeren, 22 Juni 1969. Ia tumbuh di lingkungan keluarga yang menjadikan ilmu pengetahuan sebagai warisan paling berharga.

Dari garis ayah, mengalir darah seorang pendidik legendaris bernama Abdul Munaf atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Guru Angong. Pada era kolonial Belanda sekitar tahun 1928, Guru Angong telah mengajar di kawasan terpencil Pining, ketika akses pendidikan masih menjadi barang mewah bagi masyarakat pedalaman.

Tubuhnya tinggi besar. Kacamata tebal menghiasi wajahnya. Tongkat rotan khas Gayo selalu menemaninya berjalan dari satu kampung ke kampung lain. Sosok itulah yang kelak menjadi simbol keteguhan bagi keluarga besarnya.

Guru Angong bukan hanya mengajar membaca dan menulis. Ia ikut membangun peradaban di daerah yang kala itu nyaris terisolasi.

Sementara dari garis ibu, Edwar mewarisi keteladanan Buya Djamaan Fahmi, ulama kharismatik sekaligus tokoh pendidikan yang turut membidani lahirnya Muhammadiyah di Gayo Lues pada era 1950-an.

Buya Djamaan bukan sekadar guru agama. Ia juga dikenal sebagai tokoh masyarakat yang disegani dan pernah menjadi anggota DPR Kabupaten Aceh Tenggara mewakili wilayah Kewedanaan Gayo Lues.

Dua sosok berbeda.

Satu mengabdikan hidup untuk pendidikan di pedalaman.

Satu lagi menanamkan nilai agama dan kepemimpinan.

Keduanya membentuk fondasi karakter seorang Edwar Canto.

“Sejak kecil saya selalu mendengar cerita perjuangan mereka. Itu yang menjadi pegangan hidup saya,” kenangnya.

Di rumah sederhana keluarga itu, pendidikan bukan pilihan, melainkan kewajiban.

Edwar menempuh pendidikan dari SD Muhammadiyah Blangkejeren, lalu melanjutkan ke Banda Aceh hingga akhirnya diterima di Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala.

Namun perjalanan sesungguhnya baru akan dimulai ketika ia menyelesaikan kuliahnya pada tahun 1994.

Saat itu, Gayo Lues masih menjadi bagian Kabupaten Aceh Tenggara. Informasi pekerjaan sangat terbatas. Kesempatan hidup terasa sempit.

Di hadapan Edwar muda terbentang dua pilihan: menyerah pada keadaan atau berani menantang nasib.

Ia memilih jalan kedua.

Keputusan itu membawanya meninggalkan kampung halaman menuju perkebunan sawit di wilayah Aceh Timur.

Ia belum tahu bahwa langkah tersebut akan membawanya memasuki daerah konflik bersenjata yang setiap hari diwarnai dentuman senjata.

Di sanalah ketangguhan seorang Edwar Canto mulai ditempa.

(Bersambung ke Episode 2; “Di Antara Dentuman Senjata dan Mimpi Menjadi Peneliti”)


Redaksi | insetgalusnews

Berita Terkait

SERIAL FEATURE “EDWAR CANTO” Di Antara Dentuman Senjata dan Mimpi Menjadi Peneliti
Meniti Jalan Dakwah dan Pengabdian, Secuil Kisah Ustad Amsyarullah di Negeri Seribu Bukit
Mengenal Lebih Dekat Sosok Inspiratif Doktor Sartika Mayasari
Menapaki Jejak Pengabdian Bung Khairuddin, dari Ruang Kelas hingga Kursi Ketua KIP Gayo Lues
Mudik yang Tertunda, Drama di Balik Terungkapnya Pembunuhan di Hari Fitri 1447H
Dia bernama Ibnu Hasim
Jejak Pengabdian “Bang Bram Aceh” Di Tanoh Gayo
Mengenal Lebih Dekat Muhtarudin, Kepala SMA Negeri 1 Putri Betung yang Visioner dan Membumi

Berita Terkait

Jumat, 29 Mei 2026 - 11:55 WIB

Petani Resah, Harimau Dilaporkan Berkeliaran di Pegunungan Blang Pegayon

Senin, 25 Mei 2026 - 12:13 WIB

Bantuan Bibit Kopi Pemerintah Picu Kebingungan Petani soal Aturan Hutan Lindung

Selasa, 19 Mei 2026 - 20:01 WIB

Harimau Sumatera Serang Warga di Gayo Lues

Rabu, 13 Mei 2026 - 20:11 WIB

Kunjungi Gayo Lues, Kapolda Aceh Minta Polisi Perkuat Pelayanan ke Masyarakat

Selasa, 5 Mei 2026 - 18:40 WIB

Kapolres Gayo Lues Ganjar Personel Berprestasi, IDI Beri Apresiasi atas Pengungkapan Kasus Dokter Muda

Senin, 4 Mei 2026 - 19:40 WIB

Akses Perkebunan Rusak, Warga Terpaksa Panggul Bibit Kopi Kelokasi Tanam

Kamis, 30 April 2026 - 19:29 WIB

Atasi Gangguan Pascabencana, Diskominfo Galus Wacanakan Jaringan Internet Mandiri

Kamis, 23 April 2026 - 21:22 WIB

Jakaria S Hut; Tanaman Kopi Dorong Pertumbuhan Ekonomi Warga

Berita Terbaru

INTERNASIONAL

Shakira Kembali Jadi Pelantun Lagu Resmi Piala Dunia 2026

Kamis, 11 Jun 2026 - 22:01 WIB

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan