EPISODE 4 (TAMAT) SERIAL FEATURE EDWAR CANTO; Pada akhirnya, setiap perjalanan akan bermuara pada satu tujuan “pulang”.

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Selasa, 16 Juni 2026 - 12:49 WIB

50651 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Edwar Canto, Putra sulung dari

Edwar Canto, Putra sulung dari "Din Kul" dan cucu kandung langsung dari Guru Angong salah satu tokoh pendidikan di Gayo Lues pada era tahun 60-an

Bagi sebagian orang, pulang berarti kembali ke tempat kelahiran. Bagi sebagian lainnya, pulang adalah menemukan kedamaian setelah menempuh perjalanan panjang kehidupan. Bagi Edwar Canto, pulang memiliki makna yang jauh lebih dalam. Pulang adalah kembali kepada keluarga, kepada nilai-nilai yang diwariskan para pendahulunya, dan kepada pengabdian yang telah menjadi napas hidupnya selama puluhan tahun.

PARIWARA | insetgalusnews.com | Hampir tiga dekade telah berlalu sejak Edwar Canto meninggalkan kampung halamannya sebagai seorang sarjana muda yang penuh harapan. Ia pernah hidup dan bekerja di tengah daerah konflik. Ia pernah merantau jauh dari keluarga demi menggapai cita-cita. Ia pernah meniti karier dari bawah sebagai petugas lapangan, peneliti, birokrat daerah, hingga menjadi bagian dari tata kelola pangan nasional. Semua itu dijalaninya dengan kesungguhan, kesabaran, dan keyakinan bahwa setiap langkah memiliki makna.

Semakin panjang perjalanan yang ditempuhnya, semakin ia memahami ukuran keberhasilan bukanlah seberapa tinggi jabatan yang berhasil diraih atau seberapa banyak penghargaan yang berhasil dikumpulkan. Baginya, keberhasilan sejati adalah ketika ilmu yang dimiliki mampu memberi manfaat bagi masyarakat dan ketika pengabdian meninggalkan jejak yang dapat dirasakan oleh banyak orang.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Prinsip itu yang selalu ia pegang dalam setiap fase kehidupannya. Ketika menjadi peneliti, ia meyakini ilmu pengetahuan harus hadir menjawab kebutuhan masyarakat. Saat menjadi birokrat, ia percaya kebijakan harus berpihak kepada rakyat dan mampu memberikan dampak nyata. Ketika terlibat dalam pendidikan dan pelatihan, ia berusaha menularkan pengalaman serta membangun kepercayaan diri generasi muda agar berani bermimpi lebih besar daripada generasi sebelumnya.

Mereka yang pernah bekerja bersamanya mengenal Edwar sebagai pribadi yang tidak pernah berhenti belajar. Ia memandang setiap tugas sebagai ruang pembelajaran dan setiap tantangan sebagai kesempatan untuk tumbuh. Kesederhanaan yang melekat dalam dirinya membuat ia mudah diterima oleh berbagai kalangan. Ia dapat berbicara dengan petani di ladang tanpa sekat, berdiskusi dengan akademisi di ruang seminar, hingga berkoordinasi dengan para pengambil kebijakan di tingkat nasional dengan semangat yang sama; mencari solusi dan memberi manfaat.

Di balik berbagai pengalaman dan pencapaiannya, Edwar tetap melihat dirinya sebagai anak kampung dari Blangkejeren. Anak yang tumbuh dari kisah perjuangan Guru Angong, sang kakek yang mengabdikan hidupnya untuk pendidikan di pedalaman. Anak yang dibesarkan dengan keteladanan Buya Djamaan Fahmi, ulama dan tokoh pendidikan yang meletakkan fondasi keislaman serta kemajuan masyarakat Gayo Lues. Dari kedua sosok itulah ia belajar, ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan dengan pengabdian, dan jabatan hanyalah amanah yang suatu saat akan ditinggalkan.

Kini, ketika masa pengabdiannya sebagai aparatur negara perlahan memasuki babak akhir, pandangannya justru semakin sederhana. Ia tidak lagi berbicara tentang posisi atau pencapaian pribadi. Perhatiannya tertuju kepada keluarga, kepada anak-anak yang sedang menapaki masa depan mereka masing-masing. Ia ingin hadir mendampingi mereka, memberikan bekal pengalaman hidup yang selama ini diperolehnya dari berbagai medan perjuangan.

Di sela-sela kesibukannya, ia juga mulai menata langkah menuju fase kehidupan berikutnya. Salah satu harapan yang ingin diwujudkannya adalah menunaikan ibadah haji, menyempurnakan perjalanan spiritual yang selama ini menjadi cita-cita bersama keluarga. Baginya, pengabdian kepada bangsa dan daerah harus berjalan seiring dengan pengabdian kepada Tuhan.

Edwar memahami, suatu saat semua jabatan akan berakhir. Nama mungkin perlahan akan dilupakan oleh waktu. Namun nilai-nilai kehidupan yang diwariskan akan tetap hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah mengenalnya. Sebagaimana Guru Angong dikenang karena dedikasinya terhadap pendidikan, dan Buya Djamaan Fahmi dikenang karena ilmu serta keteladanannya, ia berharap dapat meninggalkan warisan yang sama, “warisan pengabdian”.

Senja perlahan turun di langit Blangkejeren. Kabut tipis menyelimuti pegunungan yang mengelilingi Tanoh Gayo. Di tanah yang membesarkannya itulah perjalanan panjang Edwar Canto menemukan maknanya. Dari seorang anak kampung yang berangkat dengan mimpi sederhana, ia menjelma menjadi peneliti, birokrat, pendidik, dan penggerak pembangunan yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk kemajuan masyarakat.

Perjalanan itu mungkin belum benar-benar berakhir. Selama napas masih berembus, selalu ada ruang untuk memberi manfaat. Namun satu hal telah menjadi pasti; jejak pengabdian yang ditinggalkan Edwar Canto akan terus hidup dalam cerita para petani yang pernah ia dampingi, para penyuluh yang pernah ia bina, para mahasiswa yang pernah ia motivasi, serta masyarakat yang pernah merasakan hasil kerja dan pemikirannya.

Karena pada akhirnya, warisan terbesar seorang manusia bukanlah apa yang berhasil ia miliki selama hidupnya, melainkan apa yang berhasil ia berikan kepada orang lain.

Dan bagi Edwar Canto, pengabdian adalah cara terbaik untuk meninggalkan jejak yang tak lekang oleh waktu.


Redaksi | insetgalusnews |  Setiap orang memiliki cerita, tetapi tidak semua orang meninggalkan jejak. Kisah Edwar Canto mengajarkan keberhasilan bukanlah tentang seberapa tinggi kita berdiri, melainkan seberapa banyak orang yang dapat kita bantu selama perjalanan. Jika setelah membaca kisah ini Anda teringat kepada guru, orang tua, atau kampung halaman, maka tujuan tulisan ini telah tercapai.

Berita Terkait

SERIAL FEATURE EDWAR CANTO; Kembali ke Gayo Lues, Mengabdi Tanpa Henti
SERIAL FEATURE “EDWAR CANTO” Di Antara Dentuman Senjata dan Mimpi Menjadi Peneliti
SERIAL FEATURE “EDWAR CANTO” Dari Pedalaman Pining Menuju Pentas Pengabdian Nasional
Meniti Jalan Dakwah dan Pengabdian, Secuil Kisah Ustad Amsyarullah di Negeri Seribu Bukit
Mengenal Lebih Dekat Sosok Inspiratif Doktor Sartika Mayasari
Menapaki Jejak Pengabdian Bung Khairuddin, dari Ruang Kelas hingga Kursi Ketua KIP Gayo Lues
Mudik yang Tertunda, Drama di Balik Terungkapnya Pembunuhan di Hari Fitri 1447H
Dia bernama Ibnu Hasim

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 20:57 WIB

ANEKDOT Tiga Sekawan Dan Mukjizat Tanaman Kopi

Jumat, 21 Agustus 2026 - 11:31 WIB

Negeri dalam Mode “Siap, Pak!” Kalau Semua Bilang “Siap”, Siapa yang Bilang Salah?

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 08:42 WIB

Kopi Sudah Mau Go International, GERETEK Masih Cari Sinyal

Rabu, 8 April 2026 - 14:45 WIB

Jembatan Darurat Pintu Rime-Pining. Menutup Kekosongan Kebijakan Pasca Bencana. Siapa Yang Berperan?

Senin, 23 Maret 2026 - 22:17 WIB

Kriminal Ramai, Akhlak Sepi

Sabtu, 14 Februari 2026 - 22:40 WIB

Huntara dan Tanggung Jawab Pelaksana yang Tak Boleh Samar

Rabu, 11 Februari 2026 - 15:12 WIB

Ganja Dibasmi, Kemiskinan Dibiarkan? Setelah Dibakar, Lalu Mau Diapain?  

Rabu, 28 Januari 2026 - 21:19 WIB

Bencana Hidrometeorologi Aceh-Pengingat Bagi Kamu Aku dan Dia

Berita Terbaru

Tersangka K diapit Tim Resnarkoba Polres Gayo Lues, Jumat (4/9/2026)

GAYO LUES

Polisi Tangkap Pria di Gele, Sabu 0,64 Gram Jadi Barang Bukti

Jumat, 4 Sep 2026 - 17:54 WIB

TAJUK RENCANA

ANEKDOT Tiga Sekawan Dan Mukjizat Tanaman Kopi

Minggu, 30 Agu 2026 - 20:57 WIB

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan