INTERNASIONAL | Insetgalusnews.com | Ketegangan di perbatasan Thailand-Kamboja kian memanas usai insiden baku tembak yang menewaskan seorang tentara Kamboja. Akibatnya, warga sipil di wilayah perbatasan terpaksa mengungsi demi keselamatan.
Di Provinsi Surin, Thailand-yang berbatasan langsung dengan Kamboja-warga terlihat berlarian mencari perlindungan. Mereka, mulai dari anak-anak hingga lansia, berlindung di bangker-bangker darurat yang dibangun dari beton, diperkuat dengan tumpukan karung pasir dan ban mobil. Sementara itu, suara tembakan dan ledakan terus bersahutan di sepanjang garis perbatasan.
Bentrok bersenjata ini bermula dari insiden penembakan singkat yang menewaskan seorang tentara Kamboja. Situasi kemudian berkembang menjadi krisis diplomatik, dan kini memicu eskalasi militer yang turut menelan korban dari kalangan warga sipil.
Kondisi WNI di Wilayah Konflik
Untuk mengetahui perkembangan situasi serta kondisi Warga Negara Indonesia (WNI) di wilayah terdampak, Insetgalusnews melansir dari wawancara tv nasional dengan Sekretaris Pertama Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya (Pensosbud) KBRI Bangkok, Neng Siti Sondari. Sabtu (26/7).
“Per hari ini, berdasarkan data lapor diri di portal Peduli WNI, tercatat ada 15 orang WNI yang berada di sekitar perbatasan Thailand-Kamboja. Mereka tersebar di wilayah Trat, Sa Kaeo, dan Ubon Ratchathani,” jelas Neng.
Meski begitu, ia menekankan bahwa angka tersebut bisa berubah. “Ada kemungkinan jumlah aktual lebih banyak atau lebih sedikit, karena bisa saja ada WNI yang belum melapor atau justru sudah meninggalkan wilayah tetapi belum memperbarui data,” tambahnya.
Belum Ada Laporan Korban WNI
Hingga saat ini, belum ada laporan WNI yang menjadi korban maupun terdampak langsung konflik bersenjata tersebut. Neng memastikan bahwa KBRI terus memantau kondisi lapangan.
“Di Ubon Ratchathani sendiri tercatat ada empat WNI, namun sampai sekarang belum ada laporan mengenai adanya korban dari kalangan WNI ataupun WNA lainnya. Kami berkoordinasi dengan komunitas diaspora dan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Thailand (PERMITHA) untuk memastikan keamanan WNI,” ungkapnya.
Rencana Koridor Kemanusiaan
Terkait kemungkinan pembukaan jalur aman jika situasi memburuk, Neng menyampaikan bahwa Pemerintah Thailand aktif memberikan pembaruan situasi kepada perwakilan asing.
“Segala bentuk pengaturan evakuasi atau koridor kemanusiaan akan ditentukan oleh otoritas Thailand. KBRI akan mengikuti dan bekerja sama penuh dengan pihak terkait jika evakuasi diperlukan,” jelasnya.
Situasi di perbatasan Thailand-Kamboja masih sangat dinamis. KBRI Bangkok terus membuka saluran komunikasi darurat bagi WNI dan memastikan seluruh prosedur evakuasi siap jika diperlukan.
Redaksi | insetgalusnews | dilansir dari wawancara Neng Siti Sondari (KBRI Bangkok) dalam siaran berita televisi nasional, 26 Juli 2025.


































