Beijing, 26 Juli 2025 | Insetgalusnews.com | Cina dilanda gelombang panas ekstrem, dengan suhu permukaan yang mencetak rekor tertinggi dalam sejarah negara tersebut.
Menurut laporan Administrasi Meteorologi Nasional Cina (CMA), suhu udara di lebih dari 16 provinsi tercatat melebihi 40 derajat Celsius, sementara suhu permukaan di beberapa wilayah seperti Turpan di Xinjiang dan bagian barat laut Gansu dilaporkan mencapai lebih dari 70 derajat Celsius.
Fenomena cuaca ekstrem ini berdampak serius terhadap kehidupan masyarakat, infrastruktur, hingga ekosistem lokal. Beberapa laporan media lokal dan video yang beredar di media sosial memperlihatkan pekerja konstruksi yang harus disemprot air secara rutin agar terhindar dari heatstroke. Bangunan dan jalan mengalami retak bahkan meleleh, sementara kendaraan listrik, termasuk mobil dan motor, dilaporkan mengalami kerusakan akibat suhu tinggi.
Kerusakan juga terjadi pada lampu jalan dan fasilitas umum lainnya, yang tidak mampu menahan lonjakan suhu. Beberapa warga mencoba menghibur diri dengan melakukan eksperimen memasak telur di atas aspal dan kap mobil, menunjukkan betapa ekstremnya panas yang dirasakan.
Fenomena ini turut berdampak pada hewan liar. Salah satu video menunjukkan seekor burung gagak yang hanya berjalan di sisi jalan yang teduh, menghindari bagian yang terlalu panas. Hal ini menunjukkan gangguan nyata terhadap keseimbangan ekosistem akibat perubahan suhu ekstrem.
Menanggapi situasi ini, pemerintah Cina telah mengeluarkan peringatan dini dan imbauan agar warga tetap berada di dalam ruangan dan menghindari aktivitas luar ruang, terutama pada siang hari. Namun, sebagian masyarakat tetap harus beraktivitas di luar demi kebutuhan ekonomi.
Menurut pakar perubahan iklim dari Universitas Tsinghua, Prof Zhang Wei, suhu ekstrem ini merupakan peringatan nyata atas krisis iklim yang semakin memburuk. “Lonjakan suhu hingga 70 derajat di permukaan bukan lagi anomali. Ini adalah sinyal bahwa perubahan iklim telah nyata dan membahayakan,” ujar Zhang kepada harian South China Morning Post.
Zhang juga menyoroti perlunya pembaruan desain infrastruktur dan kendaraan untuk menghadapi gelombang panas yang makin sering terjadi. Ia menyarankan adanya regulasi ketat terkait keselamatan kerja serta inovasi dalam material bangunan dan transportasi.
“Panas ekstrem ini tidak hanya memengaruhi manusia, tapi juga infrastruktur dan ekosistem. Pemerintah harus segera menyesuaikan kebijakan adaptasi iklim, atau kita akan menghadapi risiko lebih besar di masa depan,” pungkasnya.
Redaksi | Insetgalusnews | Sumber: China Meteorological Administration, SCMP, Reuters, DW, NetEase, Douyin


































