Ntube: Cerita rakyat Gayo Lues tentang Sosok Yang Bersahabat Dengan Dunia Gaib

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Senin, 14 Juli 2025 - 11:28 WIB

501,613 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar ilustrasi menari dibawah purnama | doc | inset |

Gambar ilustrasi menari dibawah purnama | doc | inset |

“Di lembah sunyi tempat waktu tertambat, Bulan bundar menggantung tanpa suara, Seorang penari datang-telanjang jiwa dan raga, Berputar pelan dalam peluk keheningan semesta.
Ia menari bukan untuk manusia, Namun bagi yang tak kasat mata, Bagi bayang yang hidup di balik kabut rimba.

Sesajen terhidang: bertih, apam, telur dan ayam Dalam dalung tanah, tujuh warna menari dalam doa Kemenyan melingkar-membuka celah antara dunia”

Di Bawah Cahaya Purnama Ia Menari untuk yang Tak Terlihat

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

BUDAYA | Insetgalusnews.com | Di lembah-lembah sunyi Gayo Lues, saat bulan menggantung utuh di langit malam dan hutan berdiri diam seolah menahan napas, konon akan tampak seorang penari-tanpa busana melangkah pelan, berputar perlahan, menari dalam keheningan yang nyaris suci. Bukan di atas panggung, bukan pula di hadapan manusia. Ia menari untuk yang tak terlihat, untuk yang tinggal di balik kelopak alam gaib.

Orang-orang di sana menyebutnya Ntube: sosok yang dipercaya memelihara makhluk halus bukan sebagai pengganggu, melainkan sebagai sahabat atau pelayan. Mereka tak ramai, tak dikenal, tapi ditakuti dan diam-diam disegani.

Malam purnama menjadi waktu sakral. Di Gayo biasa disebut ulen 14. Di bawah cahayanya, sang penari datang membawa sesajen. Bukan sembarangan hidangan, melainkan makanan pilihan yang konon disukai para penghuni alam halus yang disebut masyarakat Gayo sebagai Tasak Matah, terbuat dari beberapa jenis makanan dalam keadaan setengah matang.

Biasanya sesajen itu dibuat dari Bertih; biji beras yang meletup karena panas, seperti suara waktu yang pecah dalam keheningan.

Apam Kolak; kue tradisional bundar pipih, selembut bisikan rahasia. Tenaruh; telur rebus utuh, lambang keutuhan janji dan ikatan gaib. Kurik Tasak Matah; seekor ayam setengah masak, utuh dan mengilap, sebagai persembahan utama, ditempatkan dalam dalung, wadah tanah liat yang menyatu dengan bumi. Dan kemudian Oros Pitu Warna; beras tujuh warna, metode dan pengolahan tidak diketahui, atau mungkin hanya sekedar analogi dari sebutan sesajen itu sendiri.

Kemenyan pun dibakar, asapnya melingkar-lingkar di udara, seolah membuka celah antara dunia fana dan dunia tak kasat mata. Tempat sesajen itu tak sembarangan biasanya di kaki bukit, celah batu, atau bawah pohon tua yang daunnya jarang gugur.

Tariannya tanpa gendang, tak ada seruling. Namun tubuh penari bergerak lembut seolah menyambut irama tak bersuara. Kadang tangannya mendayu, kadang kepalanya tunduk dalam khusyuk. Seakan ia sedang berdoa, namun bukan kepada langit-melainkan kepada sesuatu yang hidup di balik kabut, dalam sunyi yang pekat.

Orang-orang dulu percaya, tarian itu bukan sekadar persembahan, tapi juga perintah, atau mungkin perjanjian. Ada kekuatan yang datang, ada permintaan yang disampaikan, dan ada sesuatu yang tak boleh dilanggar.

Beberapa saksi mengaku pernah melihat bayang-bayang penari dari kejauhan. Sosok itu bergerak anggun, kadang menghilang di balik asap. Yang lain mendengar nyanyian lirih dari balik rimbun semak, seperti bisikan yang memanggil dari dunia lain.

Cerita ini tak pernah sepenuhnya padam, walaupun harus diakui. Kisah Jema Ntube nyaris hanya tinggal bisikan. Generasi biru tak lagi menyalakan kemenyan atau menaruh bertih di dalung tanah liat. Lampu listrik menggantikan cahaya rembulan, dan dongeng pun terkubur di antara sinyal ponsel dan layar gawai.

Namun bagi mereka yang masih percaya, atau sekadar ingin percaya, kisah ini tetap hidup-mengendap di celah waktu, menanti malam bulan penuh, menunggu satu tarian terakhir dengan segudang tanda tanya? Apakah para Jema Ntube masih ada di antara kita-atau mereka hanya menunggu malam purnama berikutnya?

Catatan insetgalusnews:

Artikel ini banyak kekurangan dan masih perlu banyak perbaikan. Walaupun harus diakui cerita ini adalah bagian sisi gelap masyarakat Gayo Lues pada dekade tahun 1990-an kebawah. Namun di zaman generasi Z ini kita harus melihat cerita ini sebagai dokumentasi budaya dan refleksi sastra lisan masyarakat, yang menggambarkan hubungan manusia dengan alam dan dunia tak terlihat. Cerita tentang Ntube bukan sekadar mitos, tapi cermin dari kebudayaan yang sarat makna, sekaligus pengingat bahwa tak semua yang tak terlihat harus diabaikan.

Berita Terkait

“Gegurun” Saat Ruh Turun dan Tubuh Jadi Kuat
“Nyarang!”
Selsung: Salam Sakral di Tengah Rimba Gayo
Syair, Gerak, dan Tauhid: Menelusuri Akar Sufi Tari Saman
BAEN ITEM: Penjaga Bayangan Jiwa Dari Gayo
APAH ONOT: Makhluk Jelmaan
Kisah Menyentuh dari Tanah Huruf: Antara Gelar dan Makna
Membaca Ulang Cerita Rakyat. Yang Disembunyikan Dibalik Senyum Kancil

Berita Terkait

Rabu, 29 Juli 2026 - 00:20 WIB

Akses Rusak, Kegiatan Belajar Siswa SMPN Satu Atap Kendawi Dipindahkan ke Meunasah

Sabtu, 25 Juli 2026 - 15:03 WIB

Terungkap! Oknum ASN yang Ditangkap dalam Kasus Sabu di Gayo Lues Ternyata Bukan Pegawai Pemkab

Sabtu, 25 Juli 2026 - 13:39 WIB

ASN di Gayo Lues Ditangkap dalam Kasus Dugaan Peredaran Sabu, Polisi Sita Dua Paket Narkotika

Rabu, 22 Juli 2026 - 11:34 WIB

Gempa M5,6 Guncang Gayo Lues, Terbesar di Indonesia dalam Sepekan

Selasa, 21 Juli 2026 - 21:21 WIB

BNNK Gayo Lues; 4,15 Juta Warga Indonesia Terjerat Narkoba, Instansi Diminta Perkuat Benteng Pencegahan

Selasa, 21 Juli 2026 - 19:53 WIB

BNNK Gayo Lues dan Starbucks FSC Monitoring Program Kopi, 160 Petani Binaan Kelola 104 Hektare Lahan

Kamis, 16 Juli 2026 - 10:03 WIB

Kelangkaan BBM Kian Mengkhawatirkan, Aktivitas Warga Lumpuh, Sejumlah Siswa Tak Bisa Bersekolah

Senin, 13 Juli 2026 - 12:07 WIB

Temu Ramah MPLS, Kacabdin Galus Dorong Gerakan Bersama Bentuk Generasi Berkarakter

Berita Terbaru

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan