GAYO LUES | insetgalusnews.com | Di tengah meningkatnya minat masyarakat menanam kopi di dataran tinggi Gayo, persoalan biaya pembukaan lahan dan proses penanaman masih menjadi tantangan bagi sebagian petani. Namun di Kabupaten Gayo Lues, solusi itu sebenarnya telah lama hidup dalam tradisi masyarakat melalui budaya gotong royong yang dikenal dengan istilah “Panglo”.
Budaya ini kembali didorong sebagai bagian dari strategi efisiensi penanaman kopi berbasis kearifan lokal. Melalui pola kerja bersama antarpetani dan kelompok tani, masyarakat dinilai dapat mengurangi beban biaya sekaligus memperkuat hubungan sosial di lingkungan kampung.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Gayo Lues, Ridwansyah SP, Selasa (26/5/2026) mengatakan, kelompok tani yang telah terbentuk seharusnya dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk mendukung program penanaman kopi masyarakat.
Menurutnya, sistem gotong royong yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Gayo memiliki nilai ekonomi dan sosial yang sangat besar apabila kembali diterapkan dalam aktivitas pertanian.
“Budaya Panglo ini sebenarnya sangat efektif. Hari ini masyarakat bersama-sama bekerja di kebun si A, setelah selesai dilanjutkan ke kebun si B, begitu seterusnya secara bergiliran. Dengan cara seperti ini, biaya tenaga kerja bisa ditekan dan kebersamaan masyarakat juga tetap terjaga,” ujar Riduansyah.
Ia menilai semangat kebersamaan masyarakat Gayo selama ini masih kuat, hanya saja lebih sering terlihat pada kegiatan adat dan perjamuan. Padahal, nilai yang sama dapat dihidupkan kembali dalam aktivitas bercocok tanam sebagaimana dilakukan masyarakat pada masa lalu.
“Kita jangan hanya berserinen saat ada perjamuan atau tari saman saja. Akan lebih baik jika budaya berserinen ini kembali digalakkan dalam kegiatan pertanian seperti zaman dahulu. Kalau bisa, dibuat juga perjamuan tanam antar kampung,” katanya.
Bagi masyarakat Gayo, budaya “berserinen” bukan sekadar berkumpul, melainkan simbol persaudaraan dan solidaritas sosial. Dalam praktiknya, tradisi itu mampu menciptakan rasa kekeluargaan, mempererat hubungan antarmasyarakat, sekaligus menjadi ruang saling membantu tanpa harus bergantung penuh pada biaya besar.
Di sejumlah wilayah pedalaman Gayo Lues, pola kerja bersama seperti ini pernah menjadi tradisi yang mengakar. Warga saling membantu membuka lahan, menanam, hingga panen secara bergiliran. Selain mempercepat pekerjaan, metode tersebut juga menjadi cara masyarakat menjaga hubungan sosial antarwarga kampung.
Kini, di tengah semangat pengembangan kopi rakyat, nilai-nilai lama itu mulai kembali diperbincangkan. Tidak hanya dipandang sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai solusi nyata untuk mendukung program pertanian yang lebih hemat, mandiri, dan berkelanjutan.
Redaksi | insetgalusnews


































