“Di Senyap Gedung Rakyat”
By Malik Lingga
Di tengah lembah Gayo Lues yang pilu, ekonomi terhuyung, harapan pun layu. Tak lagi terdengar nyanyian pasar, yang ada hanya sunyi, menggantung di udara.
Gedung tinggi di Blangkejeren berdiri, megah namun tak bersuara, tak peduli. Mobil lalu-lalang tanpa arah, sementara perut rakyat makin susah.
Proyek diam, tak ada tangan yang meneken, gaji tertunda, hidup makin tertekan. Namun ruang legislatif hening membatu, dalih efisiensi jadi selimut semu.
Wahai para wakil yang duduk di sana, rakyat menunggu, bukan drama, tapi sikap, nyali, dan suara. Tak cukup rapat tanpa makna, tak cukup hadir hanya di daftar nama.
Hakmu bertanya, hakmu menyelidik, kemana itu semua saat rakyat tercekik? Apakah lupa? Atau pura-pura tidak tahu? Ataukah nyaman di balik ruang semu?
Sementara itu, Kutepanyang dan Putri Betung, menyemai harap di ladang yang agung. Mereka menanam bukan karena kaya, tapi karena mereka tak hidup dari rapat dan wacana.
Namun tak semua punya ladang dan tanah, banyak yang menggantung hidup pada anggaran yang entah. Inilah waktunya kau berdiri, wahai DPRK, bukan diam, bukan menunduk, bukan menyeka muka.
Diam di saat ini, bukan lagi netral, tapi pengkhianatan hak konstitusi. Karena bagi rakyat, ini bukan soal kuasa, tapi soal nasi, soal anak sekolah, dan harga sembako yang tak bisa ditunda.
Bangkitlah dari kursi nyamanmu, lihatlah rakyat di ujung kampung dan dusun bisumu. Mereka tak butuh janji baru, hanya hak yang tertunda dan masa depan yang layu.
Jangan biarkan sunyi ini jadi nisan, bagi harapan Gayo Lues yang kian terpinggirkan. Karena jika pengawasan ikut diam, maka matilah suara rakyat dalam gelap yang dalam.
Blangkejeren, 2 Juli 2025


































