Perjalanan hidup kadang tidak dimulai dari panggung besar. Bagi Bang Bram Aceh, semuanya berawal dari ruang kelas sederhana di sekolah pertanian. Dari sana, langkahnya perlahan membawa ia menapaki berbagai jabatan di pemerintahan Kabupaten Gayo Lues. Hingga akhirnya kembali ke kampung halaman untuk mengabdi dengan cara yang berbeda (red)
PARIWARA| insetgalusnews.com | Di sebuah kebun durian musangking dan kopi ateng super di Dusun Tenirung, Tamak Kolak, Blangkejeren, seorang pria paruh baya tampak menikmati pagi dengan tenang. Sesekali ia menyapa warga yang melintas, lalu kembali memeriksa pohon kopi yang sedang tumbuh subur.
Dialah Ir Ibrahim Aceh MBA yang kerab disapa Bang Bram Aceh. Di balik kesederhanaannya hari ini, tersimpan perjalanan panjang pengabdian. Dari seorang guru sekolah menengah hingga pernah dipercaya memimpin sejumlah jabatan strategis di Pemerintah Kabupaten Gayo Lues.
Lahir pada 28 Oktober 1962 di Dusun Tenirung, Blangkejeren, Bang Bram tumbuh dari lingkungan sederhana masyarakat Gayo. Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Negeri 5 Takengon (1976), dilanjutkan ke SMP Negeri 1 Takengon (1980) dan SMT Pertanian Takengon (1983).
Minatnya pada dunia pertanian membawanya melanjutkan pendidikan ke D3 Politeknik Pertanian IPB Bogor (1988). Tak berhenti di sana, ia kemudian meraih Sarjana dari STP Gajah Putih Takengon (1994) dan Magister dari Distance Learning Institute (DiLLI) Jakarta pada 2001.
Mengabdi dari Dunia Pendidikan
Karier pengabdian Bang Bram dimulai dari dunia pendidikan. Pada 1988, ia mengawali tugas sebagai guru SMT Pertanian di Ulim, Kabupaten Pidie. Empat tahun kemudian, ia kembali ke tanah Gayo dan mengajar di SMT Pertanian Pegasing, Takengon hingga tahun 2001.
Pada masa inilah kehidupan pribadinya juga menemukan pasangan. Tahun 1992, Bang Bram menikah dengan Santi, putri dari Samsul Bahri, Kepala Desa Bukit Merdeka, Kutacane.
Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai empat orang anak:
- Sriwahyuni Pujangga
- Satrio Gunawan Pujangga
- Annisa Pujangga
- Amir Hamzah Pujangga
Kini keluarga besar mereka telah bertambah dengan kehadiran empat orang cucu, dan sebagian besar menetap di Kabupaten Gayo Lues.
Menapaki Karier Birokrasi
Tahun 2001 menjadi titik balik perjalanan kariernya. Atas rekomendasi Gubernur Aceh saat itu, Bang Bram berpindah jalur pengabdian menjadi Pegawai Negeri Sipil di Dinas Kehutanan dan Perkebunan Aceh Tenggara (Kutacane).
Setahun kemudian, ia dipindahtugaskan ke Kabupaten Gayo Lues, daerah yang kemudian menjadi medan pengabdiannya selama puluhan tahun.
Sejak saat itu, berbagai posisi strategis pernah ia emban, antara lain:
- Kabag Humas Pemkab Gayo Lues (2002-2003)
- Kabid Penyuluhan Pertanian Dinas Pertanian (2003-2004)
- Kabid Sosial Dinas Sosial (2004)
- Kabid Perkebunan Dishutbun (2005-2008)
- Kabid Sosial Ekonomi Bappeda (2005-2008)
- Kabid Kehutanan dan Kabid Bina Program Dinas Pertanian (2008-2010)
- Sekretaris Bappeda (2010-2014)
- Kabag Hukum dan Humas Sekretariat DPRK Gayo Lues (2014-2017)
- Sekretaris Badan Kesbangpol (2017-2018)
- Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (2018-2020)
- Staf Ahli Bupati bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan serta bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik (2020-2022)
Berbagai jabatan tersebut memperlihatkan luasnya pengalaman birokrasi yang ia jalani. Mulai dari bidang pertanian, perencanaan pembangunan, hingga pelayanan publik.
Aktif di Dunia Sosial dan Organisasi
Di luar tugas pemerintahan, Bang Bram juga aktif dalam berbagai organisasi sosial dan kemasyarakatan.
Ia pernah terlibat dalam dunia pers lokal sebagai kontributor Tabloid Negeri Antara dan Gayo Tribun di Aceh Tengah (1999-2001) serta Warta Gayo Lues (2001-2002).
Dalam dunia olahraga, ia dikenal sebagai tokoh penggerak Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi). Ia pernah menjabat Ketua Percasi Aceh Tengah (1999-2001) dan kemudian Ketua Percasi Gayo Lues selama tiga periode (2004-2018).
Selain itu, Bang Bram juga pernah menjabat Sekretaris Umum Persatuan Masyarakat Gayo Lues di Aceh Tengah (1992-1997).
Dakwah hingga Mancanegara
Selain sebagai birokrat, Bang Bram juga dikenal aktif dalam kegiatan dakwah. Ia bahkan pernah melakukan perjalanan dakwah ke sejumlah negara, antara lain:
- Qatar, Mekkah dan Madinah (2011)
- Malaysia dan Thailand (2014 dan 2022)
- India (2016)
Baginya, perjalanan adalah cara memperluas wawasan.
“Orang bijak mengatakan, jauh berjalan banyak dilihat dan dirasa,” ujarnya suatu ketika.
Menikmati Masa Purnatugas
Setelah resmi purnatugas pada 2022, Bang Bram memilih kembali ke kampung halamannya di Dusun Tenirung. Ia menghabiskan hari-harinya dengan kegiatan yang sederhana namun penuh makna.
Hampir setiap hari ia berdakwah dari masjid ke masjid, sekaligus merawat kebun durian musangking dan kopi ateng super yang ia tanam sendiri.
Meski usia tak lagi muda, semangatnya tetap menyala.
“Hidup ini adalah perjuangan dan doa. Sebaik-baik manusia adalah yang bisa bermanfaat bagi diri, keluarga, dan orang lain di mana pun berada,” kata Bang Bram.
Bagi dirinya, perjalanan hidup bukan sekadar tentang jabatan atau pencapaian. Lebih dari itu, hidup adalah proses belajar yang penuh dengan suka dan duka. Sebuah perjalanan panjang yang harus dinikmati setiap momennya.
Dan dari perjalanan itu, Bang Bram Aceh meninggalkan satu pesan sederhana. Pengabdian tak pernah benar-benar berhenti, bahkan setelah masa tugas usai.
Redaksi | Insetgalusnews | Cerita dalam tulisan ini bersumber dari pengalaman hidup Bang Bram Aceh. Bila ada bagian yang terasa seperti cerita film inspiratif, harap dimaklumi. Kadang kehidupan nyata memang suka menyalip skenario.


































