Jika biasanya jabatan kepala sekolah identik dengan sosok serius dan penuh wibawa, Ia justru membalikkan anggapan itu. Di sela acara buka puasa bersama, ia lebih sering terlihat tertawa ringan, menyapa satu per satu guru dan siswa, bahkan tak sungkan duduk lesehan bercengkerama. Namun jangan salah-di balik senyumnya yang santai, tersimpan visi besar tentang masa depan pendidikan di Gayo Lues
PARIWARA | insetgalusnews.com | Senja perlahan turun di Putri Betung. Di sela suasana hangat buka puasa bersama, sosok itu menyambut dengan senyum tenang dan tutur kata bersahaja. Dialah Muhtarudin SPdI, MPd, Gr, kepala SMA Negeri 1 Putri Betung, yang dikenal sebagai pribadi rendah hati, ramah, dan dekat dengan siapa saja.
Lahir di Gayo Lues pada 1983, Muhtarudin merupakan putra daerah yang menapaki kariernya dari bawah. Di usia 34 tahun, ia dipercaya mengemban amanah sebagai kepala sekolah. Sebuah pencapaian yang tidak datang secara instan, melainkan melalui proses panjang dan konsistensi dalam dunia pendidikan.
Meniti Karier dari Satu Sekolah ke Sekolah Lain
Perjalanan kepemimpinan Muhtarudin dimulai di SMA Negeri 2 Blangkejeren (2017–2019). Ia kemudian melanjutkan pengabdian di SMA Negeri 1 Blangjerango (2019–2021), sebelum akhirnya dipercaya memimpin SMA Negeri 1 Putri Betung sejak 2021 hingga sekarang.
Di setiap tempat tugasnya, ia membawa visi yang sama. Mewujudkan peserta didik yang disiplin, cerdas, terampil, dan berakhlak mulia. Baginya, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi pembentukan karakter.
“Sekolah harus menjadi ruang tumbuh. Anak-anak bukan hanya pintar secara akademik, tetapi juga kuat dalam moral dan spiritual,” ujarnya dalam perbincangan ringan.
Prestasi dan Pengakuan
Dedikasi Muhtarudin mendapat pengakuan di tingkat provinsi. Pada 2025, ia meraih penghargaan sebagai Kepala Sekolah Dedikatif Terbaik II dalam ajang Apresiasi GTK tingkat Provinsi Aceh. Penghargaan tersebut menjadi bukti, kerja sunyi di daerah juga mampu berbicara di panggung yang lebih luas.
Namun, bagi Muhtarudin, penghargaan bukan tujuan akhir. “Yang terpenting adalah perubahan nyata di sekolah dan masa depan anak-anak,” katanya.
Aktif Berdakwah dan Berorganisasi
Di luar tugasnya sebagai pendidik, Muhtarudin juga aktif berdakwah dari masjid ke masjid. Ceramah-ceramahnya kerap mengangkat tema pendidikan karakter dan pentingnya kejujuran dalam kehidupan.
Dalam organisasi, ia tercatat aktif di Kwartir Cabang Pramuka Kabupaten Gayo Lues sebagai sekretaris, serta terlibat di KNPI, PGRI, dan Majelis Dikdasmen dan PNF PD Muhammadiyah Gayo Lues sejak 2015 hingga sekarang. Aktivitas tersebut memperkaya pengalaman kepemimpinannya, sekaligus memperluas jejaring kolaborasi dalam memajukan pendidikan.
Disiplin, Jujur, dan Amanah
Menurutnya, kunci sukses dalam karier adalah disiplin, kejujuran, dan amanah. Kepercayaan dari Dinas Pendidikan Provinsi Aceh, kata dia, tidak datang begitu saja. Semua harus dibuktikan melalui kinerja, integritas, serta kemampuan menunjukkan jati diri dan prestasi di bidang pendidikan.
Sejumlah tokoh masyarakat dan warganet menilai pengalaman dan rekam jejaknya layak menjadi pertimbangan untuk promosi jabatan di sekolah yang lebih besar. Harapan itu disampaikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasinya selama ini dalam membangun pendidikan di pelosok Gayo Lues.
Hidup adalah Perjuangan dan Doa
Menutup perbincangan, Muhtarudin menyampaikan pesan sederhana namun sarat makna. Hidup adalah perjuangan dan doa.
“Di mana pun kita berada, jadikan diri kita bermanfaat bagi semua orang,” tuturnya.
Di tengah tantangan pendidikan di daerah, sosok seperti Muhtarudin menunjukkan perubahan bisa dimulai dari ruang kelas, dari keteladanan, dan dari komitmen yang dijaga dengan sepenuh hati.
Insetgalusnews |Ir Ibrahim Aceh, MBA


































