Mudik yang Tertunda, Drama di Balik Terungkapnya Pembunuhan di Hari Fitri 1447H

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Kamis, 26 Maret 2026 - 17:22 WIB

501,029 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kasatreskrim Polres Galus, Iptu M Abidinsyah bersama tim saat membekuk tersangka |doc\Polres|

Kasatreskrim Polres Galus, Iptu M Abidinsyah bersama tim saat membekuk tersangka |doc\Polres|

PARIWARA | insetgalusnews.com | Pagi itu seharusnya menjadi milik kebahagiaan. Takbir masih menggema, pelukan hangat keluarga baru saja usai, dan rindu kampung halaman tinggal selangkah lagi ditunaikan. Namun takdir berkata lain.

Di tengah suasana Idul Fitri yang sakral, sebuah kabar duka memecah ketenangan.

“Innalillahi wa innaillaihi raji’un…” Kalimat itu terucap pelan dari bibir Kasatreskrim Polres Gayo Lues, Iptu M Abdidinsyah SH MH. Bukan sekadar ucapan belasungkawa, tetapi awal dari sebuah perjalanan panjang yang menguras jiwa dan raga.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sabtu, 21 Maret 2026. Usai salat Idul Fitri di Lapangan Pancasila, Blangkejeren, ia bersiap menunaikan tradisi yang selalu dinanti: mudik. Mobil pribadinya telah penuh-tas, bingkisan, dan harapan untuk bertemu orang tua di Aceh Tengah.

Namun sekitar pukul 10.00 WIB, telepon itu datang.

Di seberang sana, suara panik keluarga korban dari Desa Raklunung, Blangkejeren, terdengar bergetar. Mereka menemukan jasad seorang perempuan-kakak mereka sendiri-terbaring kaku di dalam kamar, dengan bau kematian yang mulai menyeruak.

Waktu seakan berhenti. Tanpa ragu, tanpa berpikir panjang, ia menutup pintu kebahagiaan hari itu dan membuka lembaran tugas yang berat.

“Refleks saya langsung ke lokasi. Mobil masih penuh barang mudik. Tapi mau bagaimana… ini panggilan,” ucapnya, suaranya datar, namun menyimpan beban yang tak terucap.

Sejak saat itu, hari raya berubah menjadi medan perburuan.

Tak ada lagi suasana lebaran. Yang ada hanya jejak yang hilang, teka-teki yang membingungkan, dan tekanan untuk segera mengungkap kebenaran.

Pelaku, kata dia, bukan orang biasa. “Dia sangat rapi. Bahkan puntung rokok pun dibersihkan. Tidak ada satu pun petunjuk yang bisa kami pegang di awal,” ungkapnya.

Bayangkan… sebuah tempat kejadian perkara yang sunyi dari jejak. Tak ada kamera pengawas. Tak ada saksi kunci. Hanya dinding bisu dan waktu yang terus berjalan.

Tim Satreskrim bergerak tanpa henti. Siang menjadi malam, malam menjadi pagi. Mereka menyisir setiap sudut, mengetuk setiap pintu, berharap secercah informasi muncul dari keheningan.

“Kami sampai di titik frustrasi. Tapi kami tidak boleh berhenti. Kami hanya bisa berusaha dan berdoa,” katanya.

Di tengah kelelahan dan kebuntuan, harapan itu akhirnya datang-pelan, namun pasti.

Sehari setelah tragedi itu, sebuah titik terang muncul. Sebuah nama mulai mengemuka. Seutas benang merah mulai terlihat di tengah gelapnya penyelidikan.

Dan perburuan pun dimulai. Jejak pelaku mengarah ke Kampung Akul, Kecamatan Blang Jerango. Tim bergerak cepat, menembus jarak dan waktu. Namun di tengah perjalanan, informasi kembali berubah-pelaku ternyata telah kembali ke Blangkejeren.

Tanpa jeda, tanpa keluh, arah kendaraan diputar. Kejar-kejaran dengan waktu pun terjadi. Hingga akhirnya, pada Senin siang, 23 Maret 2026-ketegangan itu mencapai puncaknya. Pelaku berhasil diamankan. Tak ada lagi pelarian.

Di ruang interogasi, kebenaran yang selama ini diburu akhirnya terucap. Pengakuan itu pecah seperti bendungan yang runtuh. Kasus yang sempat membungkus Gayo Lues dalam ketakutan perlahan menemukan jawabannya. “Alhamdulillah… sudah ada titik terang,” ucapnya lirih.

Namun di balik keberhasilan itu, ada harga yang harus dibayar; waktu bersama keluarga yang tertunda, rindu yang belum tertunaikan, dan lelah yang tak sempat dirasakan.

Kini, setelah semua terurai, ia kembali pada niat awalnya-menghadap Kapolres, meminta izin untuk melanjutkan mudik yang sempat tertinggal.

Sebuah perjalanan yang tertunda… demi sebuah keadilan. Di hari ketika banyak orang berkumpul dengan keluarga, ada mereka yang justru berlari menuju duka, menyibak misteri, dan memastikan kebenaran tidak terkubur bersama korban.

Sebab bagi mereka, tugas bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah panggilan. Dan panggilan itu… tak pernah mengenal hari libur.

Redaksi | Insetgalusnews

Berita Terkait

EPISODE 4 (TAMAT) SERIAL FEATURE EDWAR CANTO; Pada akhirnya, setiap perjalanan akan bermuara pada satu tujuan “pulang”.
SERIAL FEATURE EDWAR CANTO; Kembali ke Gayo Lues, Mengabdi Tanpa Henti
SERIAL FEATURE “EDWAR CANTO” Di Antara Dentuman Senjata dan Mimpi Menjadi Peneliti
SERIAL FEATURE “EDWAR CANTO” Dari Pedalaman Pining Menuju Pentas Pengabdian Nasional
Meniti Jalan Dakwah dan Pengabdian, Secuil Kisah Ustad Amsyarullah di Negeri Seribu Bukit
Mengenal Lebih Dekat Sosok Inspiratif Doktor Sartika Mayasari
Menapaki Jejak Pengabdian Bung Khairuddin, dari Ruang Kelas hingga Kursi Ketua KIP Gayo Lues
Dia bernama Ibnu Hasim

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 10:25 WIB

Polisi Sasar Judi Online di Gayo Lues, Dua Pria Diamankan di Warung

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:51 WIB

Ibnu Hafit: Pencegahan Narkoba Dimulai Dari Lingkungan Keluarga 

Selasa, 27 Oktober 2026 - 11:22 WIB

Polres Gayo Lues Gelar Operasi Patuh Seulawah 2026, Sasar Knalpot Brong dan Helm

Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:42 WIB

BNNK Gayo Lues Perkuat Relawan, Fauzul Iman: Cegah Narkoba dari Desa

Selasa, 27 Oktober 2026 - 09:50 WIB

BNNK Libatkan Relawan dari Sembilan Desa. Plt Sekda: Kita Butuh Keterlibatan Semua Pihak

Kamis, 22 Oktober 2026 - 22:44 WIB

Dua Paket Sabu Seberat 0,38 Gram Disita dari Pria di Durin

Rabu, 21 Oktober 2026 - 23:02 WIB

KPK Anugerahi Kampung Kota Rikit Gaib Penghargaan Desa Bebas Korupsi, Raih Skor 90,5

Rabu, 21 Oktober 2026 - 08:05 WIB

Pemkab Gayo Lues Luncurkan Program Kopi untuk Ekonomi Kerakyatan

Berita Terbaru

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan