PUISI
Senja Sunyi di Blangkejeren
By Malik Lingga
Di perempatan Rikit Gaib-Kutelintang angin menyapu kursi-kursi kosong warung kopi, seperti menghitung mimpi yang tertunda diujung bulan tanpa gaji.
Tanda harga terpasang di jendela, tapi dompet-lebih ringan dari bayangan senja; para tukang bangunan duduk di beranda sunyi, menjejaki debu yang tak sempat jadi semen.
Dari kutipan keluh anak honor terdengar desir, “Enam purnama berlalu tanpa upah,
sementara seragam sekolah menanti dijahit harap.”
Ekonomi pun pelan seperti jam tua, bergerak tetapi tak tiba, sebab lembar lembar anggaran tersangkut di lajur birokrasi yang tiba‑tiba bisu.
Namun di Kutepanyang, Putri Betung, Blang Jerango, tanah masih membuka telapak bagi benih palawija merekah mengingatkan kita harapan bukan selalu beralamat kantor, kadang tumbuh dari bau humus, getah keringat, doa yang tak dicatat rapat.
Di gedung rakyat pintu berderit, tetapi mikrofon tak kunjung bernyanyi kursi empuk menahan gema “Siapa mengingatkan eksekutif jika legislatif terlelap dalam diam?”
Tarik‑menarik kepentingan jadi jaring halus, menjerat janji-membungkam kata. Lalu kita terkenang bilik suara tempat nurani pernah ditukar amplop, demokrasi murah, biaya yang dibayar rakyat terlampau mahal.
Maka, wahai pemuda, suaramu bukan sekadar gema dinding media sosial, ia bara dalam tulang, dentum pada jalan, cahaya yang menyala di gelap ruang sidang.
Berdirilah di tengah sunyi Blangkejeren, keraskan kata, tegakkan kepala, karena jika kau menunggu gedung sunyi bersuara mungkin fajar lebih dulu menua.
Dan kami-akan menuliskan setiap denyutnya, menjaga rahasia saksi, menjemput kebenaran agar tak lagi tertahan di titik koma anggaran.
Blangkejeren, 3 Juli 2025


































