Selsung: Salam Sakral di Tengah Rimba Gayo

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Jumat, 1 Agustus 2025 - 18:11 WIB

501,921 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Karikatur Tokoh Spiritual Jack Gayo | doc | inset |

Karikatur Tokoh Spiritual Jack Gayo | doc | inset |

Artikel ini ditulis bukan untuk bikin Anda ikut-ikutan bertapa atau buka lahan di hutan. Tapi semata untuk mengenalkan budaya Gayo yang penuh makna dan sopan santun spiritual. Semua praktik Selsung diawali dengan menyebut nama Allah, bukan sembarangan ritual. Jadi, santai saja… selagi Anda tetap waras dan tidak nyolong pisang emas dari piring ritual

BUDAYA | insetgalusnews.com | Di balik lebatnya hutan Gayo, tersimpan sebuah tradisi tua yang masih dijaga hingga hari ini. Namanya Selsung, sebuah simbol penghormatan, doa, dan salam kepada seluruh ciptaan Tuhan, baik yang kasat mata maupun tak terlihat oleh manusia biasa.

Bagi masyarakat adat Gayo, Selsung bukan sekadar ritual, melainkan bentuk kesadaran spiritual yang dalam terhadap alam semesta.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam bahasa Gayo, Selsung dimaknai sebagai salam atau tanda hormat kepada pemilik tempat-baik yang nyata maupun gaib-yang selalu diawali dengan penyerahan diri kepada Allah SWT. Barulah setelah itu, salam diberikan kepada para penjaga alam yang dipercaya menghuni hutan, gunung, sungai, dan seluruh penjuru bumi.

Menurut Jack Gayo, seorang tokoh spiritual, Selsung diracik dari empat bahan utama: daun sirih, kapur, buah pinang, dan tembakau. Kadang-kadang ditambahkan kulit kayu khusus yang dikenal dengan sebutan konyel. Ini berbeda dengan Mangas-Mangas, ramuan lain yang selalu menggunakan lima bahan tetap, termasuk gambir dan konyel.

Digunakan dalam Momen Sakral

Penggunaan Selsung bukan untuk sembarangan waktu. Ia hanya dikeluarkan dalam situasi tertentu yang dianggap sakral, seperti saat-Berburu di hutan, Melakukan perjalanan jauh ke dalam hutan, Atau saat membuka lahan baru di belantara rimba.

Ritual Berburu: Dalam ritual perburuan, seorang pawang akan menyiapkan alas dedaunan, lalu meletakkan Selsung di atasnya. Duduk bersila, ia memegang Selsung sembari membaca istighfar dan mantra khusus, lalu menyampaikan salam kepada seluruh penghuni hutan, termasuk makhluk gaib dan roh penjaga hewan buruan.

“Ini bentuk adab kami, Menghargai yang terlihat dan tak terlihat,” kata Jack Gayo. “Tanpa ini, kami percaya perjalanan atau perburuan bisa membawa celaka.”

Perjalanan ke Dalam Hutan: Jika digunakan untuk perjalanan ke hutan, Selsung dipegang pada bagian ujung, diarahkan ke depan saat berjalan, sambil membaca doa perlindungan dari hewan buas, racun, dan kesesatan arah.

Membuka Lahan: Saat membuka lahan, ritual Selsung lebih kompleks. Empat buah Selsung, empat pisang emas, dan sebutir telur ayam putih diletakkan di atas bertih (beras kering yang digongseng seperti popcorn) dalam sebuah piring. Asap menyan mengepul, doa-doa pun dilantunkan. Tujuannya: memohon izin dan mengusir makhluk penghuni hutan agar tidak mengganggu proses pembukaan lahan.

Warisan yang Perlu Dijaga: Di tengah gempuran modernisasi dan hilangnya banyak nilai adat, tradisi Selsung masih hidup di sebagian masyarakat Gayo. Ia bukan sekadar warisan leluhur, tapi juga cermin cara hidup yang menyatu dengan alam dan menghormati ciptaan Tuhan dalam segala bentuknya.

“Selsung bukan syirik, ini bagian dari adab spiritual kami. Semuanya diawali dengan menyebut nama Allah, lalu memberi salam kepada yang lain,” tutur Jack Gayo.

Sebagai bagian dari identitas budaya Gayo, tradisi seperti ini tidak hanya layak dikenang, tapi juga perlu dipahami dan dilestarikan. Karena dalam kearifan lokal, tersimpan cara hidup yang penuh hormat kepada semesta – sesuatu yang jarang dimiliki dunia modern.


Redaksi | insetgalusnews | Artikel ini masih banyak kekurangan dan disusun untuk tujuan edukasi dan pelestarian budaya lokal masyarakat Gayo. Selsung adalah bagian dari tradisi adat yang diwariskan turun-temurun dan tidak dimaksudkan untuk dikaitkan dengan praktik syirik atau bertentangan dengan ajaran agama islam. Pembaca diharapkan bijak dalam menafsirkan isi artikel sesuai latar budaya masing-masing. Redaksi insetgalusnews.com menghormati semua tradisi lokal yang masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Insetgalusnews.com tidak bertanggung jawab jika setelah baca artikel ini Anda malah pengen belajar jadi pawang.

Berita Terkait

“Gegurun” Saat Ruh Turun dan Tubuh Jadi Kuat
“Nyarang!”
Syair, Gerak, dan Tauhid: Menelusuri Akar Sufi Tari Saman
BAEN ITEM: Penjaga Bayangan Jiwa Dari Gayo
APAH ONOT: Makhluk Jelmaan
Kisah Menyentuh dari Tanah Huruf: Antara Gelar dan Makna
Membaca Ulang Cerita Rakyat. Yang Disembunyikan Dibalik Senyum Kancil
Ntube: Cerita rakyat Gayo Lues tentang Sosok Yang Bersahabat Dengan Dunia Gaib

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 07:42 WIB

SERIAL FEATURE EDWAR CANTO; Kembali ke Gayo Lues, Mengabdi Tanpa Henti

Kamis, 11 Juni 2026 - 20:21 WIB

SERIAL FEATURE “EDWAR CANTO” Di Antara Dentuman Senjata dan Mimpi Menjadi Peneliti

Kamis, 11 Juni 2026 - 20:07 WIB

SERIAL FEATURE “EDWAR CANTO” Dari Pedalaman Pining Menuju Pentas Pengabdian Nasional

Jumat, 15 Mei 2026 - 20:58 WIB

Mengenal Lebih Dekat Sosok Inspiratif Doktor Sartika Mayasari

Rabu, 13 Mei 2026 - 17:38 WIB

Menapaki Jejak Pengabdian Bung Khairuddin, dari Ruang Kelas hingga Kursi Ketua KIP Gayo Lues

Kamis, 26 Maret 2026 - 17:22 WIB

Mudik yang Tertunda, Drama di Balik Terungkapnya Pembunuhan di Hari Fitri 1447H

Sabtu, 7 Maret 2026 - 19:33 WIB

Dia bernama Ibnu Hasim

Sabtu, 7 Maret 2026 - 18:23 WIB

Jejak Pengabdian “Bang Bram Aceh” Di Tanoh Gayo

Berita Terbaru

INTERNASIONAL

Shakira Kembali Jadi Pelantun Lagu Resmi Piala Dunia 2026

Kamis, 11 Jun 2026 - 22:01 WIB

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan