ACEH TAMIANG | insetgalusnews.com | Banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang pada akhir November lalu membawa dampak besar. Ribuan kayu gelondongan terbawa arus deras dan tertahan di kompleks sebuah pondok pesantren di Kampung Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru. Tumpukan kayu itu menutupi hampir seluruh area pesantren dan merusak fasilitas pendidikan.
Pantauan di lokasi menunjukkan kayu-kayu berdiameter besar menumpuk setinggi hingga lima meter, menutupi lapangan, asrama santri, hingga area sekitar masjid. Bangunan pesantren justru berfungsi seperti benteng yang menahan terjangan kayu, sehingga pemukiman warga di sekitarnya terhindar dari kerusakan lebih parah.
Ketua Yayasan pengelola pondok pesantren, Subhan, mengatakan kayu-kayu tersebut datang secara tiba-tiba pada malam hari saat banjir terjadi. “Kami tidak tahu persis dari mana asalnya. Saat magrib mulai banjir, pagi harinya kawasan pesantren sudah dipenuhi kayu,” ujarnya, Selasa (17/12).
Menurut Subhan, ketinggian air saat banjir mencapai hampir 10 meter dan nyaris menyentuh atap bangunan. Sekitar 200 santri sempat dievakuasi ke rumah warga yang berada di lokasi lebih tinggi dan kemudian dipulangkan ke rumah orang tua masing-masing. “Alhamdulillah tidak ada korban jiwa,” katanya.
Hingga dua pekan pascabanjir, kondisi di sekitar pesantren masih memprihatinkan. Aliran listrik belum pulih dan warga kesulitan mendapatkan air bersih. Bau menyengat juga tercium dari area tumpukan kayu, diduga berasal dari bangkai hewan ternak yang terbawa arus banjir.
Sementara itu, bantuan logistik berupa sembako, perlengkapan memasak, dan kasur mulai berdatangan dari para donatur. Namun, warga berharap ada solusi cepat untuk mengevakuasi kayu-kayu gelondongan yang masih menumpuk agar aktivitas pendidikan dan kehidupan warga dapat kembali normal.
Dalam laporannya, jurnalis Zilvia Iskandar menyebutkan salah satu dugaan penyebab parahnya banjir bandang dan longsor di wilayah Sumatera pada akhir November 2025 adalah meningkatnya deforestasi. Data menunjukkan, luas hutan yang beralih fungsi di Sumatera melonjak dari sekitar 33 ribu hektare pada 2023 menjadi 91 ribu hektare pada 2024.
Redaksi | insetgalusnews | dilansir dari Metro TV


































