GAYO LUES | insetgalusnews.com | Sebuah kabupaten yang dikenal dengan alamnya yang subur dan potensi pertaniannya yang besar, ternyata menyimpan persoalan serius terkait ketersediaan beras bagi warganya. Secara angka, Gayo Lues disebut-sebut sebagai daerah surplus beras, namun kondisi di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya.

Ibnu Hasim, tokoh masyarakat sekaligus mantan pemimpin daerah yang telah menjabat selama lebih dari satu dekade, mengungkapkan kepada kru-insetgalusnews, Sabtu (7/6/2025).
Dikatakannya, berdasarkan data statistik, jumlah penduduk Gayo Lues saat ini diperkirakan mencapai 104.000 jiwa. Dengan standar konsumsi beras nasional 6,25 kg per orang per bulan, maka kebutuhan beras Gayo Lues dalam setahun mencapai:
6,25 kg x 12 bulan x 104.000 jiwa = 7.800.000 kg atau 7.800 ton per tahun.
Sementara itu, produksi padi Gayo Lues tercatat sebanyak 32.000 ton gabah per tahun. Jika dikonversikan menjadi beras (dengan standar rendemen 62,74 persen), maka total produksi beras mencapai:
32.000.000 kg x 62,74% = 20.076.800 kg atau sekitar 20.076 ton beras per tahun.
Dari hitungan tersebut, Gayo Lues mengalami surplus beras sebesar 12.276 ton per tahun (20.076 ton produksi dikurangi 7.800 ton kebutuhan). Namun, kenyataan di lapangan berkata lain.
Kenapa hal itu bisa terjadi, ujar Ibnu Hasim sembari menjelaskan, karena sebagian besar padi Gayo Lues justru dijual keluar daerah oleh para petani.
“Petani lebih memilih menjual gabah ke luar daerah karena harga yang ditawarkan lebih tinggi dibandingkan harga pengadaan oleh Bulog. Ini menjadi masalah klasik yang belum terselesaikan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, selama ia menjabat, ia sempat memperketat pengawasan di perbatasan untuk membatasi arus keluar gabah, namun masyarakat tetap lebih lihai dibanding petugas. Akibatnya, beras lokal menjadi langka di pasaran, dan Gayo Lues justru mengimpor beras dari luar daerah, yang sering kali bermutu lebih rendah.
“Secara hitungan memang kita surplus. Tapi realitanya, kita defisit karena beras terbaik kita keluar, dan masyarakat malah mengonsumsi beras dari luar yang mutunya kurang bagus,” kata Ibnu Hasim menegaskan.
Kesimpulan, tambahnya, meski secara statistik Gayo Lues merupakan daerah surplus beras, kenyataan di lapangan menunjukkan adanya defisit pasokan lokal akibat arus keluar padi ke daerah lain. Situasi ini menuntut perhatian serius dari pemerintah dan pemangku kebijakan agar ketersediaan dan kualitas beras lokal dapat terjaga untuk masyarakat Gayo Lues sendiri. Demikian dikatakan Ibnu Hasim.
Redaksi | insetgalusnews.com


































