GAYO LUES | insetgalusnews.com | Gunung Kappi yang berada di zona inti Taman Nasional Gunung Leuser dinilai memegang peran vital sebagai penyangga hidrologi utama di Aceh. Kawasan ini dikenal sebagai “menara air” Pulau Sumatra karena berfungsi mengatur ketersediaan air bagi jutaan warga di wilayah hilir. Kerusakan fungsi hutan di kawasan tersebut disebut berkontribusi terhadap meningkatnya risiko banjir bandang yang melanda sejumlah kabupaten di Aceh, Sabtu (20/12/2025).
Pemerhati lingkungan Kabupaten Gayo Lues, AML menjelaskan, Gunung Kappi merupakan ekosistem hutan pegunungan yang bekerja seperti spons raksasa. Kawasan ini menyerap curah hujan ekstrem dan melepaskannya secara perlahan sehingga menjaga kestabilan debit air pada beberapa daerah aliran sungai utama di Aceh.
“Ketika tutupan hutan terganggu, mekanisme alami itu runtuh. Air hujan mengalir tanpa kendali, membawa lumpur dan material kayu ke wilayah hilir,” ujar AML.
Menurut AML, kerusakan di kawasan Gunung Kappi berdampak langsung pada tiga sektor wilayah Aceh yang berjauhan. Pada sektor barat, limpasan air membentuk Sungai Tripe yang melintasi Kecamatan Dabun Gelang, Rikit Gaib, Tripe Jaya, dan Terangun di Kabupaten Gayo Lues. Aliran sungai ini kemudian melewati perbatasan Aceh Barat Daya dan Kabupaten Nagan Raya sebelum bermuara ke laut.
Di sektor timur, sebagian limpasan air mengalir ke Sungai Lesten di Kecamatan Pining dan diperkuat aliran dari pegunungan Goh Lemu. Air tersebut melintasi Pining, masuk ke wilayah Aceh Timur (kawasan Lokop/Serbejadi), kemudian terus mengalir melalui Kabupaten Aceh Tamiang hingga bermuara di Selat Malaka.
Sementara di sektor selatan, limpasan air mengarah ke Sungai Alas yang melintasi wilayah Kutacane, Subulussalam, dan Aceh Singkil sebelum bermuara di Samudra Hindia. Aliran Sungai Alas juga diperkuat oleh Sungai Agusen yang bersumber dari zona inti Leuser Blang Beke.
AML mengingatkan, apabila fungsi “spons” alami Gunung Kappi terus rusak, ancaman banjir bandang akan semakin sering terjadi. “Tanpa penyangga di hulu, banjir bisa datang tiba-tiba ke hilir, membawa lumpur dan material hutan, serta merusak permukiman dan lahan pertanian di Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Tamiang, Aceh Timur, Nagan Raya, hingga Singkil,” katanya.
Redaksi | insetgalusnews


































