GAYO LUES | insetgalusnews.com | Pagi itu seharusnya berjalan biasa. Namun di sebuah rumah yang tenang, detik-detik terakhir kehidupan dr Shanti Hastuti justru dipenuhi ketakutan, perlawanan, dan keheningan yang mencekam.
Polres Gayo Lues melalui Kasatreskrim IPTU M Abidinsyah SH MH, Kamis (26/3/2026), mengungkap rangkaian peristiwa yang tak hanya menyisakan luka, tetapi juga mengguncang nurani.
Semua bermula dari suara kecil gemerincing tirai yang memecah sunyi. Suara itu membangunkan korban dari tidurnya. Dalam kondisi setengah sadar, ia mendapati seseorang telah berada di dalam rumahnya.
Ketegangan seketika pecah. Pelaku yang panik langsung mengancam, meminta korban untuk diam. Namun di tengah rasa takut, naluri bertahan hidup berbicara lebih keras. Korban berteriak, berusaha memanggil pertolongan yang tak kunjung datang.
Teriakan itu menjadi pemicu kekerasan. Dalam hitungan detik, pelaku berubah brutal. Dari belakang, ia memiting leher korban, membungkam dengan paksa. Namun korban tidak menyerah begitu saja. Dalam kondisi terdesak, ia melawan. Menggigit jari pelaku, sebuah refleks terakhir untuk bertahan hidup.
Pelaku semakin beringas. Cekikan diperkuat, tekanan tak dihentikan. Tubuh korban mulai kehilangan tenaga, jatuh dalam posisi miring, napasnya memburu, berat, lalu perlahan melemah. Bahkan saat kondisi korban sudah kritis, pelaku masih menindih dan mempertahankan cekikan, seolah memastikan tak ada lagi perlawanan.
Hingga akhirnya… semuanya senyap. Namun kekerasan tidak berhenti di situ. Dalam kondisi korban yang tak lagi berdaya, pelaku justru melanjutkan perbuatannya. Ia mengambil kabel listrik, memotongnya, lalu mengikat kedua tangan korban. Mulut korban disumpal menggunakan jilbab-sebuah ironi menyakitkan di detik-detik terakhir hidupnya. Wajahnya kemudian ditutup dengan selimut, seolah ingin menghapus jejak, sekaligus mengubur kemanusiaan.
Rumah itu berubah dari tempat aman menjadi saksi bisu kebiadaban. Pelaku lalu menggeledah setiap sudut. Di lantai dua, hanya Rp100 ribu yang ditemukan-jumlah kecil yang tak sebanding dengan nyawa yang telah direnggut. Namun keserakahan belum usai. Ia kembali ke tubuh korban dan mengambil anting emas putih yang masih melekat.
Di tengah keheningan yang mencekam, pelaku sempat duduk di sofa. Sejenak. Seolah berpikir. Seolah tak terjadi apa-apa.
Lalu ia pergi melalui pintu belakang, ia menemukan sepeda motor korban yang masih tergantung kuncinya. Dengan mengenakan jas hujan, helm, dan masker, pelaku melarikan diri, meninggalkan rumah yang kini tak lagi memiliki kehidupan.
Pelarian berlanjut hingga ke Kutacane. Dalam perjalanan, barang-barang hasil kejahatan dibuang satu per satu. Upaya menghapus jejak dari perbuatan yang tak mungkin terhapus dari ingatan.
Sepeda motor dijual seharga Rp2 juta, anting emas putih Rp1,95 juta. Nilai yang begitu kecil dibanding harga sebuah nyawa.
Namun yang paling menyayat, pelaku ternyata sempat kembali. Beberapa hari kemudian, ia datang lagi ke rumah korban, masuk ke klinik, dan mengambil sebuah laptop. Saat melihat foto korban di layar, ia merusaknya-sebuah tindakan yang seolah ingin menghapus keberadaan orang yang telah ia habisi.
Laptop itu pun dijual murah. Seolah semua yang berkaitan dengan korban tak lagi memiliki arti.
Kisah ini bukan sekadar kronologi kejahatan. Ini adalah potret detik-detik terakhir seorang manusia yang berjuang mempertahankan hidupnya, melawan hingga batas akhir, meski akhirnya harus kalah oleh kekerasan.
Di balik angka dan barang yang dirampas, ada nyawa yang hilang, ada keluarga yang berduka, dan ada luka yang akan terus membekas di hati masyarakat Gayo Lues.
Redaksi | insetgalusnews.com | Tulisan ini mengandung deskripsi peristiwa kekerasan yang dapat menggugah emosi dan rasa tidak nyaman. Penyajian dilakukan sebagai bentuk pengungkapan fakta sekaligus pengingat akan pentingnya nilai kemanusiaan. Pembaca diharapkan bijak dalam menyikapi isi cerita ini.


































