GAYO LUES | insetgalusnews.com | Kenaikan harga kopi robusta di tingkat petani dinilai sebagai peluang bagi daerah penghasil kopi yang memiliki wilayah bercorak ketinggian berbeda, seperti Kabupaten Gayo Lues. Permintaan robusta global meningkat dalam dua tahun terakhir, berdasarkan data International Coffee Organization (ICO), terutama untuk kebutuhan industri kopi instan.
Dihubungi melalui selulernya, Senin (27/10/2025), Direktur PT Gayo Coffe Nusantara di Lampung, Eka, menyebut harga green bean robusta saat ini untuk grade 1 di Lampung telah mencapai Rp85.000 per kilogram, grade 2 sekitar Rp80.000, dan grade 3 berada di kisaran Rp76.000 per kilogram.
“Robusta lebih mudah dirawat, bisa tumbuh di ketinggian 800 – 1.000 mdpl, dan panennya hanya sekali dalam satu musim,” ujarnya.
Sebaliknya, harga green bean arabika berada di kisaran Rp130.000 hingga Rp140.000 per kilogram, dengan sistem panen berkesinambungan selain masa panen raya, atau dalam istilah masyarakat Gayo dikenal sebagai “uah samang”.
Namun, Eka menegaskan, arabika membutuhkan ketinggian ideal di atas 1.000 mdpl dan perawatan yang lebih intensif.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, produktivitas robusta nasional rata-rata mencapai 1,1-1,3 ton per hektare per tahun, sementara arabika berkisar 0,8-1 ton per hektare, bergantung pada kondisi agroklimatik.
Menurut Eka, wilayah seperti Gayo Lues memiliki potensi pengembangan kopi yang beragam karena perbedaan ketinggian antar kecamatan. Ia mencontohkan dataran tinggi di kawasan pegunungan Pantan Cuaca, Agusen, Reko, dan wilayah di atas 1.200 mdpl yang cocok untuk arabika, sementara daerah menengah seperti kecamatan lainnya yang berada di kisaran 800–1.000 mdpl dapat lebih sesuai untuk pengembangan robusta.
“Petani Gayo Lues bisa menyesuaikan berdasarkan letak lahan. Di wilayah tinggi tetap bisa fokus arabika, sementara dataran menengah dapat memaksimalkan robusta yang saat ini harganya juga mulai kompetitif,” ujarnya menambahkan.
Eka menilai, pemetaan lahan berdasarkan ketinggian dapat membantu petani menentukan jenis tanaman yang paling efisien dari sisi perawatan, produktivitas, dan peluang pasar.
“Silakan pilih yang paling cocok berdasarkan lokasi dan kemampuan perawatan, karena keduanya punya nilai jual jika dikelola tepat,” ujar Eka kepada insetgalusnews.
Redaksi | insetgalusnews


































