GAYO LUES | insetgalusnews.com | Sebuah desa kecil di Gayo Lues menjadi saksi bisu atas tragedi memilukan yang menyayat nurani. Di balik kehidupan yang tampak tenang di Desa Persiapan Sentang, Kecamatan Blangkejeren, tersimpan kisah kelam seorang anak perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual oleh orang yang seharusnya paling melindunginya, yakni ayah kandungnya sendiri.
Polan (43), seorang warga biasa yang dikenal energik dan berpendidikan oleh tetangga, ternyata menyimpan rahasia gelap sejak tahun 2021. Anak kandungnya, sebut saja Bunga (17), telah menjadi korban pemerkosaan berulang sejak duduk di bangku kelas 6 SD. Kini, korban tengah mengandung dengan usia kehamilan 2,5 bulan, buah dari perbuatan ayahnya sendiri.
Awal Terbongkarnya Tragedi
Terungkapnya kasus ini bermula dari kecurigaan sang ibu yang melihat kondisi fisik anaknya melemah disertai gejala muntah-muntah. Setelah dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan medis, dokter menyatakan Bunga positif hamil. Perasaan syok dan hancur menyelimuti sang ibu. Namun keterkejutan itu berubah menjadi kehancuran ketika Bunga, dalam kondisi trauma berat, mengaku bahwa ayah kandungnya adalah pelaku dari semua ini.
Reaksi Cepat Aparat
Laporan sang ibu langsung ditindaklanjuti oleh Kasatreskrim Polres Gayo Lues, Iptu Muhammad Abidinsyah, yang mengerahkan Unit IV PPA bersama Tim Opsnal untuk menyelidiki kasus tersebut. Informasi dari Bhabinkamtibmas membawa petugas ke sebuah rumah di Desa Blangbengkik, Kecamatan Blangpegayon, tempat pelaku bersembunyi. Penangkapan dilakukan tanpa perlawanan. Di hadapan petugas, H mengakui seluruh perbuatannya.
Namun, pengakuan itu tidak bisa menghapus penderitaan yang telah dialami Bunga selama hampir empat tahun. Trauma mendalam, kehamilan yang tidak diinginkan, serta luka psikologis yang membekas adalah harga yang harus ditanggung korban seumur hidup.
Pertanyaan Besar, Di Mana Sistem Perlindungan Anak?
Kasus ini membuka tabir kelam lemahnya sistem pengawasan dan perlindungan anak, bahkan di lingkungan terdekat sekalipun keluarga. Bagaimana mungkin kekerasan yang berlangsung selama bertahun-tahun tidak terdeteksi oleh lingkungan sekitar? Apakah masyarakat terlalu takut untuk bertanya, atau terlalu apatis untuk peduli?
Seorang tetangga korban yang enggan disebutkan namanya mengaku tidak tahu apa-apa. “Kami kira keluarganya baik-baik saja. Anaknya jarang keluar rumah, tapi kami tidak curiga,” celotehnya kepada media ini, Sabtu (31/05). Pernyataan ini mengungkap sisi lain dari persoalan budaya tutup mulut dan rasa tabu yang masih kuat dalam masyarakat terkait kekerasan seksual dalam keluarga.
Hukum Jinayat dan Komitmen Aparat
Kini, pelaku telah ditahan di Mapolres Gayo Lues dan akan dijerat dengan Pasal 47 jo Pasal 50 serta Pasal 49 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat, dengan ancaman hukuman maksimal hingga 200 bulan penjara.
Dalam siaran persnya, Sabtu (31/05/2025), Iptu Abidinsyah menegaskan bahwa tidak ada ruang bagi pelaku kekerasan seksual, terlebih terhadap anak. Ia juga menyatakan bahwa korban akan terus didampingi baik secara medis maupun psikologis.
Namun, pertanyaan yang mengemuka adalah, Apakah ada jaminan sistemik agar kasus serupa tidak terulang? Dan apakah hanya cukup dengan hukuman bilangan tahun dengan akibat trauma seumur hidup yang diderita sang anak. Selayaknya pelaku ini dihukum mati.
Seruan untuk Bangkit dari Diam
Tragedi ini menjadi cermin kelam masyarakat kita yang masih gagal membangun ruang aman bagi anak-anak, bahkan di rumah sendiri. Perlindungan anak tidak bisa hanya dibebankan kepada aparat hukum setelah kejadian, tapi harus dimulai dari kesadaran kolektif keluarga, sekolah, tetangga, dan tokoh masyarakat.
Kepolisian mengajak masyarakat untuk tidak takut melapor dan aktif menyuarakan dugaan kekerasan. “Kalau kita semua diam, kejahatan seperti ini akan terus terjadi dalam gelap,” ujar Iptu Abidinsyah menutup keterangannya.
Bunga bukan satu-satunya korban. Ia adalah satu dari sekian banyak anak yang menyimpan luka dalam diam, berharap suatu hari ada yang berani melihat dan bertindak.
Redaksi | insetgalusnews.com |


































