“Ketika Uang Tak Mengalir”
By Malik Lingga
Di Blangkejeren, pagi datang tanpa harap, pasar lengang, suara tawar menawar menghilang, warung kopi menggigil tanpa pelanggan, dan kontraktor hanya menghitung hari. Bukan laba.
Duit dari negeri tak kunjung turun, sementara perut rakyat tetap menuntut isi, anak-anak tetap sekolah, meski seragam mereka tak lagi baru, tak lagi penuh mimpi.
Pegawai negeri memandang langit, bukan mencari ilham, tapi upah yang tertunda, pedagang kecil memeluk dagangan yang kini hanya jadi pajangan.
Namun, di ladang-ladang Putri Betung, masih terdengar bunyi cangkul menembus tanah, di sela sayur dan palawija, hidup tetap bergerak, meski perlahan.
Mereka yang punya tanah, punya napas lebih panjang dari rapat-rapat kosong dan janji pejabat yang menguap bersama kopi dingin di meja birokrasi.
Apakah uang itu tersesat di ruang ruang gelap kekuasaan? Atau sengaja ditahan, demi permainan singgasana Jika benar, maka laknat bukan lagi kata, tapi nyata, yang terasa di piring kosong rakyat jelata.
Wahai Pemkab, bangun dari tidur panjang, rakyatmu butuh lebih dari seremoni dan retorika, mereka ingin perputaran, bukan penundaan, ingin penghidupan, bukan alasan.
Sudah saatnya ladang-ladang ditanam bukan hanya oleh petani, tapi oleh kebijakan yang berpihak, sudah saatnya APBD bukan jadi alat kuasa, melainkan cahaya bagi yang di bawah.
Sebab kami lelah berharap pada kas yang tak pasti, kami ingin hidup dari kerja dan hasil bumi, bukan dari anggaran yang mandek, bukan dari janji yang mati berdiri.
Blangkejeren, 2 Juli 2025


































