GAYO LUES | insetgalusnews.com | Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Gayo Lues, Ridwansyah SP menyebutkan, Kabupaten Gayo Lues memiliki potensi besar di sektor pertanian, khususnya pada bidang perkebunan.
Kondisi geografis daerah ini memiliki variasi ketinggian unik, mulai dari 400 hingga 2.500 meter di atas permukaan laut (MDPL) menjadikannya sangat ideal untuk berbagai komoditas unggulan.
“Dari 11 kecamatan yang ada, sedikitnya tujuh kecamatan sangat berpotensi untuk pengembangan kopi arabika karena rata-rata berada di atas ketinggian 800 MDPL,” ujar Ridwansyah, Senin (10/11/2025).
Menurutnya, suhu udara yang relatif sejuk di dataran tinggi Gayo Lues sangat mendukung pertumbuhan tanaman kopi arabika, sayuran, dan buah-buahan khas pegunungan. Berdasarkan karakteristik topografi, wilayah Gayo Lues dapat dibagi menjadi dua zona utama;
Dataran rendah 400-800 MDPL, cocok untuk pengembangan kopi robusta, kakao, dan kelapa yang juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
Dataran tinggi di atas 800-2.500 MDPL, sangat potensial untuk kopi arabika, teh, kentang, wortel, dan berbagai sayuran dataran tinggi.
“Lebih dari 70 persen wilayah kita berada di dataran tinggi, jadi arah pengembangan pertanian ke depan memang difokuskan pada komoditas unggulan seperti kopi arabika Gayo yang sudah dikenal luas, serta tanaman hortikultura bernilai ekonomi tinggi,” lanjut Ridwansyah.
Ia menekankan pentingnya penyesuaian jenis tanaman dengan ketinggian lahan sebagai upaya meningkatkan produktivitas dan mencegah gagal panen. Pola tanam berbasis zonasi lahan dinilai menjadi strategi yang tepat untuk mengoptimalkan hasil pertanian.
“Petani harus tahu di ketinggian berapa lahannya berada, karena itu sangat menentukan tanaman apa yang paling cocok ditanam. Dengan pendekatan berbasis ketinggian ini, hasil tani bisa jauh lebih optimal,” jelasnya.
Ridwansyah juga memastikan bahwa Dinas Pertanian Gayo Lues akan terus memantau dan mendukung pengembangan pertanian sesuai potensi masing-masing wilayah.
“Kita punya potensi besar. Kalau dimanfaatkan dengan tepat, pertanian Gayo Lues bisa menjadi penopang utama ekonomi masyarakat,” tegasnya.
Ia menambahkan, untuk wilayah di atas 800 MDPL, kopi arabika menjadi tanaman paling direkomendasikan karena memiliki pangsa pasar luas dan harga yang menjanjikan. Sementara untuk wilayah 600-1.000 MDPL, petani disarankan menanam kopi robusta.
“Hari ini harga kopi arabika mencapai sekitar Rp70 ribu per bambu gabah, dan harga terendah tetap di kisaran Rp42 ribu pada tahun 2022,” ungkapnya.
Ridwansyah juga menegaskan, Dinas Pertanian tidak menutup peluang bagi masyarakat yang ingin mengusulkan program sesuai potensi wilayahnya.
“Meski anggaran daerah terbatas, Dinas Pertanian tetap berupaya memperjuangkan setiap usulan masyarakat agar bisa diajukan ke kementerian pusat,” ujarnya.
Redaksi | insetgalusnews


































