GAYO LUES | insetgalusnews.com | Polemik kepengurusan Masjid Agung As-Shalihin Kabupaten Gayo Lues yang sempat ramai diperbincangkan di media sosial akhirnya mendapat penjelasan resmi dari pihak pengurus.
Sekretaris Pengurus Masjid Agung As-Shalihin, Ustaz Suhada S.H.I, kepada insetgalusnews.com, Kamis (25/9/2025), menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah memberhentikan Imam Masjid Agung. Menurutnya, imam yang bersangkutan justru mengundurkan diri secara tertulis dan ditandatangani di atas materai. Pengunduran diri itu, kata Suhada, tidak dilatarbelakangi konflik internal.
“Ketika dilibatkan kembali, mereka menolak dan mengaku tidak bisa maksimal melaksanakan tugasnya. Karena itu dilakukan pergantian,” ujarnya.
Suhada mengajak masyarakat agar lebih bijak menyikapi informasi yang beredar di media sosial. Ia menegaskan, pengurus sangat terbuka menerima masukan dari jamaah, sehingga kritik tidak perlu disampaikan melalui akun anonim.
Oleh karenanya mari sama-sama kita makmurkan masjid Agung, orang-orang yang profesional di luar sana mari duduk bersama di masjid kita musyawarah untuk sama-sama membangun, jangan hanya bicara di Media Sosial tanpa klarifikasi terlebih dahulu.
Terkait kajian rutin Sabtu dan Minggu Subuh, Suhada meluruskan isu soal sarapan pagi. Menurutnya, pengurus tidak pernah menggunakan kas masjid untuk penyediaan sarapan. Hidangan setelah kajian Minggu pagi merupakan sedekah dari jamaah, ibu-ibu pengajian, maupun pihak Madrasah Hifzil Qur’an (MHQ). “Sarapan hanya disediakan karena pengajian ibu-ibu berlangsung hingga pukul delapan pagi,” jelasnya.
Ia juga menepis tudingan bahwa menjadi pengurus masjid adalah “proyek besar” karena dikelola pemerintah daerah. “Pengurus Masjid Agung tidak digaji Pemda maupun dari kas masjid. Honor hanya diberikan kepada imam salat rawatib, muazin, dan petugas kebersihan,” kata Suhada.
Kas masjid, lanjutnya, digunakan sepenuhnya untuk kebutuhan operasional, seperti listrik, air, kebersihan, kegiatan Jumat, insentif kajian, hingga perbaikan sarana. Ia menambahkan, pengurus tidak pernah terlibat dalam proyek pembangunan, termasuk pembangunan MCK yang pengerjaannya dilakukan pihak ketiga sesuai anggaran yang tersedia.
Suhada mengajak semua pihak untuk bersama-sama memakmurkan Masjid Agung As-Shalihin. “Masjid ini bukan milik golongan tertentu. Jangan mengaitkan pengurus dengan isu SARA. Siapapun berhak beribadah dan menjadi pengurus disana. NU, Muhammadiyah, Alwashliyah, Persis, Jamaah Tabligh, atau kelompok lainnya hanyalah washilah. Tujuannya sama, yakni mencari ridha Allah SWT,” terang ustaz Suhada.
Redaksi | insetgalusnews


































