“ODE UNTUK GAYO LUES”
By: Malik Lingga
Detak kota melambat. Seperti jantung yang meraba-raba cahaya, warung‑warung menahan napas, beras di karung menunggu tangan yang tak kunjung bergaji. Lampu kantor berkedip-sebuah isyarat bahwa harapan pun butuh listrik.
Lalu terdengar satu denting. Keras. Muda. Tak gentar-Fahmi Sahab memecah sunyi. Menyebut anggaran sebagai darah yang harus mengalir. Bukan beku di lemari birokrasi.
Ia mengetuk meja. Namun gema itu seharusnya menjadi palu bersama-sebab DPRK bukan satu nama. Melainkan paduan suara yang seharusnya menenangkan gemuruh perut rakyat.
Petani palawija menatap ladang dengan mata yang menyimpan musim. Tak ada dana untuk bibit, padahal hujan sudah berbisik. Jika tunas tak sempat tumbuh, apakah kita rela menuai lapar?
Maka, bukalah data. Sebarkan terang ke sudut-sudut ruang rapat. Biarkan publik menghitung bersama
berapa rupiah terperangkap, berapa hari terbuang.
Duduklah satu meja-eksekutif, legislatif, UMKM yang menulis untung di tepi rugi. Tokoh adat yang menjaga bara kebersamaan-karena krisis ini bukan deretan angka, melainkan denyut manusia.
Dan kepada rakyat. Jangan biarkan suara kau lipat dalam saku yang sudah koyak. Tulislah resahmu. Tinggikan data di atas dusta. Jadikan media sosial ladang bukti bahwa kita masih bernafas dan bertanya.
Jika semua palu diketuk bersama. Maka dinding sunyi akan retak. Anggaran akan mencair, seperti hulu yang akhirnya sampai ke hilir. Membangunkan pasar. Menghidupkan tungku. Mengeringkan air mata honorer. menjadi harapan yang menyejukkan Gayo Lues.
Karena demokrasi. Tanpa denyut rakyat. Hanyalah lencana kosong. Mari pulihkan nadi, sebelum kota ini menjadi puisi duka yang tak selesai dibaca.
Blangkejeren, 5 Juli 2025


































