YOGYAKARTA | insetgalusnews.com | Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Aceh, A. Malik Musa, melaporkan penyaluran bantuan pusat sebesar Rp500 juta untuk korban banjir dan longsor di Aceh kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Laporan tersebut disampaikan Malik dalam pertemuan resmi dengan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Dr Haedar Nashir, di Kantor Pusat Muhammadiyah, Jalan Teuku Cik Ditiro, Yogyakarta, Selasa (27/1/2026) ba’da zuhur.
Malik menjelaskan seluruh bantuan telah disalurkan kepada masyarakat terdampak melalui mekanisme satu pintu One Muhammadiyah One Response (OMOR) sesuai arahan PP Muhammadiyah. Penyaluran dilakukan bekerja sama dengan pos koordinasi daerah di wilayah terdampak bencana.
“Dana umat harus kembali kepada umat. PWM Aceh hanya menjadi perantara amanah agar bantuan tepat sasaran,” kata Malik.
Selain laporan pertanggungjawaban, Malik juga menyampaikan kebutuhan lanjutan penanganan bencana menjelang Ramadan 1447 Hijriah. Kebutuhan tersebut meliputi bantuan psikososial serta program rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah yang mengalami kerusakan parah akibat banjir dan longsor.
Menanggapi laporan itu, Prof Haedar Nashir meminta penjelasan terkait kondisi terkini penanganan bencana di Aceh, termasuk persoalan endapan lumpur pascabanjir.
Malik menyampaikan Muhammadiyah Aceh tengah menjajaki pendirian pabrik pengolahan batu sebagai solusi jangka panjang penanganan material lumpur. Gagasan tersebut mendapat respons positif dari Ketua Umum PP Muhammadiyah.
Dalam pertemuan tersebut, Malik juga melaporkan keterlibatan relawan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Hingga saat ini, sebanyak 355 relawan MDMC telah diterjunkan ke 14 kabupaten terdampak di Aceh, terdiri dari tim medis, psikososial, logistik, dan evakuasi.
Ia menambahkan, sejumlah relawan dari berbagai provinsi turut membantu penanganan bencana dengan pembiayaan mandiri tanpa membebani PWM Aceh
Insetgalus | Ibrahim Aceh


































