BERITA UTAMA | insetgalusnews.com | Kasat Narkoba Polres Gayo Lues, Iptu Bambang Pelis SH, mengungkap alasan utama sulitnya menangkap bandar narkotika di wilayah Gayo Lues. Menurutnya, para bandar tidak berdomisili di daerah tersebut serta memiliki pola distribusi yang sangat terstruktur dan terorganisir.
“Bandarnya tidak tinggal di Gayo Lues. Mereka berasal dari wilayah Sumatera Utara dan memiliki pola komunikasi yang rapi. Kurir biasanya berkomunikasi dengan bandar setiap 15 menit. Begitu kurir tertangkap, bandar langsung mengetahui dan punya waktu untuk melarikan diri,” ujar Bambang Pelis, Jumat (24/10) kepada insetgalusnews.
Ia menambahkan, para kurir juga menggunakan kode-kode tertentu dalam beroperasi, yang semakin menyulitkan aparat untuk menelusuri jejak mereka. “Sering kali saat ditangkap, tersangka langsung membuang ponselnya, sehingga kami kesulitan melacak jaringan bandarnya,” jelas Bambang.
Untuk memutus rantai distribusi narkoba hingga ke tingkat bandar, ia menilai diperlukan langkah strategis lintas wilayah. “kedepan kami merencanakan strategi lain dan salah satunya adalah menempatkan personel di wilayah Sumatera Utara. Jadi ketika kurir terungkap di Gayo Lues, personel di Sumut bisa langsung bergerak menangkap bandarnya,” terang Bambang.
Meski menghadapi keterbatasan, Kasat Narkoba kelahiran Blangkejeren ini menegaskan komitmennya dalam memerangi narkotika di Bumi Seribu Bukit dan perlu dukungan Masyarakat dan Pemerintah daerah. Ia menyebut tahun ini sebagai momentum penting, karena Polres Gayo Lues mencatat pengungkapan kasus narkoba paling fenomenal sejak berdiri.
Setidaknya, Polres Gayo Lues berhasil menorehkan sejarah baru dalam pemberantasan narkotika dengan mengungkap 1,95 ton ganja siap edar yang melibatkan 22 tersangka.
Tidak hanya itu, jajaran Satresnarkoba juga mengamankan 2,7 kilogram sabu dari 30 tersangka, serta 28 butir ekstasi yang menyeret 4 tersangka.
Selain pengungkapan jaringan peredaran, petugas turut memusnahkan sekitar 60 hektare ladang ganja yang tersebar di empat kawasan pegunungan di Kabupaten Gayo Lues.
Kasus besar yang terungkap tahun ini menjadi bukti bahwa perlawanan terhadap narkoba di Gayo Lues terus bergerak maju. Meski sebagian bandar masih beroperasi dari luar daerah, Bambang Pelis memastikan perjuangan tidak akan berhenti hingga jaringan peredaran narkotika benar-benar lumpuh dan generasi muda terbebas dari ancaman kehancuran.
Namun, ia menegaskan perang melawan narkoba bukan hanya tanggung jawab kepolisian, melainkan membutuhkan dukungan penuh seluruh elemen masyarakat agar mata rantai peredaran bisa diputus hingga ke akar-akarnya.
Redaksi | insetgalusnews.com


































