GAYO LUES | insetgalusnews.com | Harga beras di Kabupaten Gayo Lues mengalami kenaikan signifikan dalam dua bulan terakhir. Berdasarkan pantauan di sejumlah pasar, harga beras kemasan 15 kilogram yang sebelumnya dijual Rp210.000–Rp215.000 per sak, kini melonjak menjadi Rp230.000–Rp250.000.
Sementara itu, harga beras lokal yang biasanya dibanderol Rp240.000–Rp250.000 per kaleng kini naik menjadi Rp270.000–Rp280.000. Jika dikonversikan, harga tersebut setara dengan Rp16.850–Rp17.850 per kilogram, dengan asumsi satu kaleng berisi 16 kilogram beras.
Kenaikan harga ini dikeluhkan masyarakat, terutama pedagang kecil dan ibu rumah tangga, karena berdampak langsung terhadap pengeluaran harian.
“Setiap belanja kebutuhan pokok, pengeluaran jadi bertambah. Kami berharap pemerintah bisa mencari solusi,” keluh Nurliasari, seorang ibu rumah tangga di Blangkejeren, Rabu (9/7/2025).
Selain menurunkan daya beli masyarakat, lonjakan harga ini juga berdampak pada sektor usaha kecil seperti warung makan dan pedagang sembako. Banyak pelaku usaha harus menyesuaikan harga jual atau mengurangi volume penjualan untuk menghindari kerugian.
Analis ekonomi lokal dari Gayo Lues, AML, menilai kenaikan harga beras berpotensi memperlambat perputaran ekonomi lokal jika tidak segera ditangani.
“Kondisi ini dapat menekan konsumsi rumah tangga, yang merupakan tulang punggung ekonomi daerah. Jika daya beli terus turun, maka UMKM dan pasar tradisional akan ikut terpukul,” ujarnya.
Menurut AML, solusi jangka pendek seperti operasi pasar dan pemantauan distribusi harus segera dilakukan, disertai upaya jangka panjang untuk memperkuat produksi dan cadangan beras daerah.
Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari instansi terkait mengenai penyebab utama kenaikan harga beras. Namun, sejumlah pedagang menduga hal ini dipicu oleh berkurangnya pasokan dan gangguan distribusi dari daerah penghasil beras.
Redaksi | insetgalusnews|


































