GAYO LUES | insetgalusnews.com | Di antara sorai ribuan penonton dan riuhnya kompetisi pencak silat berskala internasional di Medan, Sumatera Utara, nama Haura Nazihah bergema dengan gemilang.

Gadis kecil asal Kutelintang, Blangkejeren, Gayo Lues itu berhasil mencuri perhatian dunia lewat gerakan pencak silatnya yang anggun namun bertenaga.
Lahir di Kotacane pada 6 Juli 2012 dari pasangan Rike Ahmadi dan Kartika Sari, Haura adalah cucu pertama dari mantan anggota legislatif Gayo Lues, H Idris Arlem. Meski masih duduk di bangku kelas 2 SMPT Muhammadiyah, ia telah mencatatkan prestasi luar biasa-mengharumkan nama sekolah, keluarga, dan daerahnya di kancah internasional.

Yang menarik, bakat Haura dalam pencak silat mulai tumbuh bukan dari pelatihan khusus di luar, melainkan dari kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya. Dari sanalah ia pertama kali mengenal dan jatuh cinta pada seni bela diri tradisional ini.
Dengan disiplin dan semangat belajar yang tinggi, Haura terus mengasah kemampuannya, hingga akhirnya mampu tampil di ajang dunia.
Dalam kejuaraan bergengsi 3rd International Indonesian Pencak Silat Open Championship 2025, yang diikuti lebih dari 3.265 pesilat dari 20 negara, Haura tampil memukau di kategori seni tangan kosong kreatif pra-remaja putri.
Ia tak hanya sekadar bertanding, tetapi benar-benar menghidupkan panggung lewat koreografi silat yang matang dan penuh ekspresi. Hasilnya-medali emas berhasil diboyong pulang ke Tanoh Gayo.
Tak sendiri, Haura berangkat ke Medan bersama 32 atlet lainnya dari Gayo Lues. Namun di antara kerumunan itu, namanya bersinar terang. Keberhasilannya menjadi simbol bahwa anak-anak dari daerah terpencil pun mampu bersaing di level dunia, asalkan diberi ruang dan kesempatan.
“Kami tidak menyangka Haura bisa sampai sejauh ini,” ujar sang ibu, Kartika Sari, haru. “Sejak kecil dia memang aktif, suka seni dan bela diri. Tapi kemenangan ini benar-benar di luar dugaan kami.”
Kemenangan Haura bukan sekadar medali. Ia adalah simbol harapan baru dari Gayo Lues, daerah yang selama ini lebih dikenal dengan alamnya yang indah dan kopi Arabikanya. Lewat tangan mungil Haura, setidaknya dunia kini mengenal Gayo sebagai tanah lahir pesilat muda berbakat.
Redaksi | insetgalusnews


































