Biar baca sejarahnya tidak tegang. Tulisan ini tidak bermaksud membuat Anda panik karena baru tahu ada “presiden tambahan” dalam sejarah Indonesia. Tidak untuk ujian, tidak untuk debat kusir. Nikmati saja. Sejarah kadang memang penuh plot twist.
PARIWARA | insetgalusnews.com | Dalam perjalanan panjang Republik Indonesia, ada bab yang jarang disorot, seolah hanya menjadi catatan kaki. Padahal, di dalam bab itu ada dua tokoh yang memegang peran kunci ketika negara berada di ujung tanduk, Syafruddin Prawiranegara dan Mr Assaat. Dua nama ini tidak sefamiliar para presiden lainnya, tetapi tanpa mereka, jalannya sejarah Indonesia mungkin berbeda.
Pada tahun 1948, republik menghadapi masa paling genting. Yogyakarta diserang, para pemimpin bangsa ditawan, dan dunia siap menyimpulkan bahwa Indonesia telah runtuh. Dalam situasi penuh ketidakpastian itu, Syafruddin Prawiranegara mengambil tanggung jawab besar yang tidak dipersiapkan siapa pun, memimpin negara dari Bukittinggi melalui Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Keputusannya menjaga eksistensi republik secara politik dan diplomatik. Titik krusial yang membuat Indonesia tetap diakui sebagai negara merdeka.
Tahun berikutnya, ketika struktur negara berubah menjadi Republik Indonesia Serikat, hadir sosok Mr Assaat, memimpin Republik Indonesia berbasis Yogyakarta. Ia menjadi presiden sementara, pemimpin yang memastikan republik tetap berjalan hingga akhirnya NKRI dipulihkan. Dengan sikap tenang dan tanpa sorotan berlebihan, ia memikul tugas menjaga kesinambungan negara yang masih rapuh.
Kedua tokoh ini tampil bukan pada masa gemilang, tetapi di tengah krisis yang mengancam keberadaan republik sendiri. Mereka tidak memimpin di bawah gemerlap panggung sejarah, tetapi dalam senyap yang penuh tanggung jawab. Tidak banyak yang memberi mereka penghargaan setimpal, tidak banyak yang mengingat bahwa mereka juga presiden yang pernah melindungi Indonesia.
Kini, tugas kita sebagai bangsa ialah mengakui peran mereka secara layak. Mengingat berdirinya negara ini tidak hanya dijaga oleh tokoh-tokoh besar yang sering disebut, tetapi juga oleh mereka yang bekerja dalam sunyi.
Karena republik ini pernah dititipkan kepada dua pemimpin yang mungkin jarang kita kenal, tetapi sangat besar jasanya. Dan kita berutang untuk mengingat mereka.
Redaksi insetgalusnews | Jika setelah membaca ini Anda tiba-tiba merasa ingin memperbaiki pelajaran sejarah waktu sekolah dulu-tenang, itu reaksi normal.


































