Petue Jabo “Cahaya dari Terangun yang Tak Pernah Padam”

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Minggu, 19 Oktober 2025 - 17:51 WIB

501,402 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Alm) H Hasan Burhan bersama Putra sulungnya Amintra | Fhoto | doc | keluarga

(Alm) H Hasan Burhan bersama Putra sulungnya Amintra | Fhoto | doc | keluarga

Cerita ini mungkin membuat Anda tiba-tiba kangen ayah, ingin jadi orang baik, atau minimal berniat bangun sebelum azan subuh meski besok pagi alarm tetap jadi musuh utama. Bacalah dengan hati terbuka, karena keteladanan sang Petue Jabo bisa saja mengetuk pintu nurani Anda tanpa permisi.

PARIWARA | insetgalusnews.com | Di sebuah kampung yang sejuk di Terangun, ada seorang lelaki yang tak pernah terkenal karena kekayaannya, tetapi selalu dirindukan karena ketulusannya. Ia tidak meninggalkan gedung megah, tetapi meninggalkan jejak langkah yang dikenang di setiap jalan menuju masjid. Namanya Tgk H Hasan Burhan bin H Jafar Siddiq, yang dikenal luas sebagai Petue Jabo, bukan karena pangkat resmi, tetapi karena kepercayaan masyarakat yang menempatkannya sebagai sosok penuntun, tempat bertanya, dan pelipur jika hati sedang gusar.

Lahir pada 1 Juni 1934, Tgk Hasan Burhan tumbuh dengan nilai kesederhanaan yang kelak menjadi fondasi seluruh kiprah hidupnya. Ia menjalani hidup bukan untuk menjadi besar, tetapi untuk membuat orang di sekitarnya merasa berarti. Dalam dunia pelayanan agama, ia dipercaya menjadi Kepala KUA Kecamatan Terangun, kemudian bertugas di Kutepanyang, hingga akhirnya memimpin KUA Kecamatan Blangkejeren sampai pensiun.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, perjalanan pengabdiannya tidak berhenti sebatas pelaksanaan tugas formal. Pada era Orde Baru, ketika Partai Golkar menjadi poros utama pemerintahan dan menjadi saluran pengabdian bagi banyak tokoh masyarakat, Tgk Hasan Burhan tampil sebagai sosok yang memaknai politik sebagai ibadah sosial.

Saat itu, Gayo Lues masih berstatus sebagai Pembantu Bupati di bawah Kabupaten Aceh Tenggara. Dalam lanskap politik yang kuat dikendalikan pusat, beliau tidak menjadikan Golkar sebagai panggung pencitraan, melainkan sebagai sarana menjaga marwah rakyat pedalaman.

Pada tahun 1982 dan kembali pada tahun 1992, beliau dipercaya duduk sebagai Anggota DPRD Aceh Tenggara mewakili Kecamatan Terangun, bukan karena janji yang diumbar, tetapi karena keteduhan akhlaknya. Bagi generasi muda Golkar hari ini, kisah Petue Jabo menjadi pengingat bahwa warna kuning bukan sekadar simbol kemenangan, tetapi cahaya kejujuran, ketulusan, dan kesetiaan kepada rakyat yang diwakili.
Dalam lingkup keluarga, berdiri teguh sosok istri yang menjadi sandaran hati dan sahabat sejatinya dalam perjuangan, yaitu Almh Hj Darwisyah. Dari rumah yang sederhana namun penuh kasih itu lahir anak-anak yang menyerap nilai keteladanan ayahnya, Alm Imanuddin Hasbur, Muhammad Amin, SAg (Amintra), Jaharuddin Am Kep., Alm Burhanuddin ST, Harfayani SP, dan Ns Mariana Dewi.
Anak keduanya, Muhammad Amin, SAg (Amintra), masih menyimpan kenangan yang tak pernah pudar. “Sejak kecil saya terbiasa melihat ayah bangun sebelum azan berkumandang. Beliau selalu berkata, ‘Hidup itu bukan soal apa yang kita punya, tapi seberapa banyak kita bisa memberi. “Kata-kata itu masih terngiang hingga kini, menjadi pedoman hidup kami,” ujarnya dengan suara pelan namun penuh rasa hormat.

Masyarakat tidak hanya mengenangnya sebagai pejabat KUA atau mantan anggota dewan, tetapi sebagai sosok yang hadir dalam suka dan duka rakyatnya. Ia mendamaikan perselisihan tanpa meninggikan suara, menikahkan pasangan muda dengan doa yang menenangkan, serta tak jarang meneteskan air mata saat mendengar kabar musibah menimpa warganya. “Beliau bukan hanya kepala KUA, tapi juga bapak, guru, dan penuntun hati,” ungkap seorang warga yang pernah mendapat nasihat darinya.

Kini, meski langkahnya telah berhenti, gema perjuangannya masih terasa di udara. Dalam setiap subuh yang sunyi, masyarakat yang pernah mengenalnya seolah dapat melihat bayang-bayangnya melangkah perlahan menuju masjid. Dalam setiap musyawarah adat dan agama, namanya sering disebut sebagai teladan kebijaksanaan. Dan dalam hati mereka yang pernah disentuh oleh nasihatnya, ia tetap hidup sebagai cahaya yang tidak padam.
Perjalanan hidup Tgk Hasan Burhan adalah bukti bahwa anak kampung dapat menjadi pelita bagi bangsa. Ia membuktikan, jabatan hanyalah alat, pengabdian adalah tujuan, dan ketulusan adalah kunci agar nama dikenang bukan karena pangkat, tetapi karena manfaat.
Dari Terangun ia berangkat. Ke hati masyarakat ia menetap. Dan di sepanjang jejak sejarah Gayo, ia akan tetap dikenang sebagai Petue Jabo, ulama pengayom yang tak pernah lelah menebar rahmat.


Redaksi | insetgalusnews Cerita ini mungkin membuat Anda tiba-tiba kangen ayah, ingin jadi orang baik, atau minimal bertekad bangun sebelum azan subuh (meski akhirnya ketiduran lagi). Bacalah dengan hati terbuka, karena keteladanan sang Petue Jabo bisa saja mengetuk pintu nurani Anda tanpa permisi, bahkan ketika Anda sedang rebahan sambil scroll berita. Redaksi tidak bertanggung jawab atas efek samping berupa keinginan mendadak untuk rajin salat, menabung pahala, atau berhenti ngomel di grup WhatsApp keluarga. Semua akibat positif dari bacaan ini sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Berita Terkait

EPISODE 4 (TAMAT) SERIAL FEATURE EDWAR CANTO; Pada akhirnya, setiap perjalanan akan bermuara pada satu tujuan “pulang”.
SERIAL FEATURE EDWAR CANTO; Kembali ke Gayo Lues, Mengabdi Tanpa Henti
SERIAL FEATURE “EDWAR CANTO” Di Antara Dentuman Senjata dan Mimpi Menjadi Peneliti
SERIAL FEATURE “EDWAR CANTO” Dari Pedalaman Pining Menuju Pentas Pengabdian Nasional
Meniti Jalan Dakwah dan Pengabdian, Secuil Kisah Ustad Amsyarullah di Negeri Seribu Bukit
Mengenal Lebih Dekat Sosok Inspiratif Doktor Sartika Mayasari
Menapaki Jejak Pengabdian Bung Khairuddin, dari Ruang Kelas hingga Kursi Ketua KIP Gayo Lues
Mudik yang Tertunda, Drama di Balik Terungkapnya Pembunuhan di Hari Fitri 1447H

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 22:51 WIB

Jalan Blangkejeren-Kutacane Kembali Longsor, Pengguna Jalan Diminta Waspada

Selasa, 16 Juni 2026 - 10:42 WIB

42 Santri Al Bunayya Ikuti Haflah Takrim, Karmilawati Tuntaskan Hafalan 30 Juz

Selasa, 16 Juni 2026 - 09:24 WIB

Peringati Tahun Baru Islam, Santri Bunayya Tampilkan Tari Saman Cilik dan Raih Penghargaan Prestasi

Jumat, 29 Mei 2026 - 11:55 WIB

Petani Resah, Harimau Dilaporkan Berkeliaran di Pegunungan Blang Pegayon

Selasa, 26 Mei 2026 - 18:29 WIB

Ridwansyah SP, Budaya “Panglo” Kearifan Lokal Menekan Biaya Tanam Kopi

Senin, 25 Mei 2026 - 12:13 WIB

Bantuan Bibit Kopi Pemerintah Picu Kebingungan Petani soal Aturan Hutan Lindung

Selasa, 19 Mei 2026 - 20:01 WIB

Harimau Sumatera Serang Warga di Gayo Lues

Rabu, 13 Mei 2026 - 20:11 WIB

Kunjungi Gayo Lues, Kapolda Aceh Minta Polisi Perkuat Pelayanan ke Masyarakat

Berita Terbaru

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan