Tidak semua orang yang sukses di luar daerah memilih pulang.
Sebagian menetap di kota besar.
Sebagian mengejar jabatan yang lebih tinggi.
Namun Edwar Canto memilih jalan berbeda.
Ia pulang ke Gayo Lues.
PARIWARA | insetgalusnews.com | Ketika kembali ke tanah kelahirannya pada tahun 2007, Edwar membawa bekal pengalaman panjang sebagai peneliti pertanian.
Ia dipercaya menduduki berbagai jabatan strategis di lingkungan Pemerintah Kabupaten Gayo Lues.
Mulai dari Kepala Seksi Penyuluhan Pertanian, Kepala Bidang Program dan Evaluasi, Kepala Bidang Pertanian, Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan hingga Sekretaris Dinas Pertanian.
Bagi banyak orang, jabatan adalah tujuan.
Bagi Edwar, jabatan hanyalah sarana untuk bekerja lebih luas.
Ia aktif mendampingi petani, menjadi narasumber pelatihan, mengembangkan konsep pertanian berbasis agroekologi, serta mendorong berbagai inovasi yang berpihak kepada masyarakat.
Salah satu gagasan yang banyak dikenal adalah pengembangan pertanian alternatif untuk mengalihkan ketergantungan masyarakat terhadap tanaman yang tidak produktif secara ekonomi menuju komoditas pertanian yang lebih bernilai.
Ia juga dikenal sebagai salah satu penggagas lahirnya Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) untuk pengelolaan alat dan mesin pertanian di Gayo Lues.
Di tingkat nasional, pengabdiannya berlanjut ketika bergabung dengan Badan Pangan Nasional Republik Indonesia.
Dari sana ia terlibat dalam berbagai agenda strategis tata kelola pangan nasional serta berkoordinasi dengan instansi pangan di seluruh Indonesia.
Meski demikian, mereka yang mengenalnya menyebut satu hal yang tidak pernah berubah dari dirinya.
Kesederhanaan.
Tidak ada jarak dengan masyarakat.
Tidak ada kesan birokratis yang berlebihan.
Ia tetap menjadi “Pak Edo” yang mudah ditemui dan ringan berdiskusi.
Kini, menjelang masa purnatugas, fokus hidupnya mulai bergeser.
Bukan lagi tentang jabatan.
Bukan pula tentang penghargaan.
Melainkan keluarga.
Ia ingin mendampingi ketiga anaknya yang sedang memasuki masa dewasa dan mempersiapkan diri untuk menunaikan ibadah haji pada 2027.
“Disiplin, ketangguhan, dan kompetensi,” katanya singkat ketika ditanya tentang prinsip hidup yang selalu dipegang.
Tiga kata sederhana. Namun tiga kata itulah yang menjelaskan perjalanan panjang seorang Edwar Canto.
Dari jejak Guru Angong di pedalaman Pining hingga ruang-ruang perencanaan pangan nasional, Edwar Canto membuktikan pengabdian tidak selalu harus dilakukan dari panggung besar.
Kadang-kadang, perubahan lahir dari orang-orang yang bekerja dalam senyap.
Dan mungkin, itulah alasan mengapa kisah hidupnya layak dikenang.
(Bersambung ke Episode 4: “Jejak Karir dan Pengabdian”)
Redaksi | insetgalusnews


































