KUALA LUMPUR | Insetgalusnews.com | Pemerintah Malaysia dan Brunei Darussalam sepakat mendorong penyelesaian persoalan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan lintas batas diwilayah Kalimantan melalui mekanisme regional ASEAN.
Kesepakatan tersebut dicapai dalam Pertemuan Konsultasi Pemimpin ke-27 antara Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dan Sultan Brunei Darussalam Sultan Hassanal Bolkiah.
Anwar mengatakan mekanisme ASEAN dinilai sebagai opsi terbaik untuk menangani persoalan kabut asap yang berdampak terhadap sejumlah wilayah di kawasan.
“ Kami berdua sepakat bahwa mekanisme ASEAN merupakan opsi terbaik. Kami telah meminta Menteri Luar Negeri Datuk Seri Mohamad Hasan untuk menangani persoalan ini,” ujar Anwar dalam konferensi pers penutupan kunjungan kerja dua hari di Brunei Darussalam, dikutip dari The Star, Minggu (23/8/2026).
Langkah tersebut ditempuh menyusul memburuknya kualitas udara di Sarawak akibat kepungan asap karhutla. Kondisi itu bahkan menyebabkan ratusan sekolah terpaksa ditutup.
Pemerintah Malaysia melalui Kementerian Lingkungan juga akan menyurati Sekretariat ASEAN untuk mengaktifkan koordinasi regional dalam upaya pencegahan dan penanganan persoalan asap lintas batas.
Krisis asap akibat karhutla selama ini menjadi persoalan lingkungan yang melibatkan lebih dari satu negara di Asia Tenggara. Karena itu, Malaysia memilih pendekatan regional melalui ASEAN agar penanganannya dapat dilakukan secara terkoordinasi dan tidak berhenti pada respons masing-masing negara.
Mekanisme tersebut diharapkan dapat memperkuat kerja sama negara-negara ASEAN dalam pemantauan titik api, pencegahan kebakaran hutan dan lahan, pertukaran informasi, serta penanganan dampak pencemaran udara lintas batas.
Redaksi | insetgalusnews


































