Dari sunyi Pining yang jauh di sepi, Anita melangkah tanpa janji pasti.
Berbalut doa, berpeluh asa, Ia percaya usaha tak pernah sia-sia.
Hujan ragu, badai rintangan. Tak goyahkan langkah di jalan impian.
Kini SK di tangan, senyum pun merekah. Ketabahan berbuah, harapan pun indah.
Untukmu, ibu, ayah, dan belahan hati. Terima kasih atas cinta yang tak henti.
Dari pinggiran negeri ia bersaksi, Bermimpi dan gigih, tak pernah rugi
PINING | insetgalusnews.com | Di ujung selatan Kabupaten Gayo Lues, tepatnya di Kecamatan Pining, tinggal seorang perempuan yang menyimpan kisah luar biasa tentang ketabahan dan kegigihan. Namanya Anita Mandasari Joga.
Setelah lebih dari satu dekade mengabdi sebagai tenaga honorer di tempat kelahirannya, tahun 2025 menjadi titik terang dalam perjuangannya. Ia dinyatakan lulus seleksi dan diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Namun keberhasilan itu bukanlah sesuatu yang datang dengan mudah. Di balik selembar Surat Keputusan tersebut, tersimpan perjalanan panjang seorang anak yatim yang memikul beban keluarga sejak usia muda, menembus keterbatasan wilayah, dan bertahan di tengah ketidakpastian.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Ini rezeki anak yatim. Orang tua saya sudah tiada sejak 10 tahun lalu. Sebagai anak sulung, saya harus menjadi tulang punggung keluarga. Rasanya tidak mudah, tapi saya tidak boleh menyerah,” tutur Anita dengan suara lirih, kepada insetgalusnews, Selasa (5/8/2025).
Tantangan yang dihadapi Anita bukan hanya soal ekonomi atau tanggung jawab keluarga, tapi juga soal akses yang jauh dari pusat kabupaten, sinyal telepon yang kerap terputus, hingga informasi yang sering terlambat tiba.
“Kadang saya ketinggalan informasi penting, tidak bisa ikut rapat atau pelatihan karena kendala akses dan transportasi. Tapi saya tetap berjuang, meski pelan-pelan,” ungkapnya.
Yang membuat kisah Anita begitu menyentuh adalah keteguhannya untuk tetap melangkah meski jalannya begitu terjal. Ia tidak memiliki kemudahan yang dimiliki banyak orang lain, namun ia punya satu hal yang kuat: tekad untuk tidak menyerah.
Bagi banyak tenaga honorer lain, terutama yang berada di pelosok, sosok Anita menjadi inspirasi bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk sukses. Bahwa perjuangan yang dilakukan dengan niat tulus, akan menemukan jalannya.
“Saya percaya, jika kita sabar dan tetap berusaha, Tuhan pasti membuka jalan. Sekecil apa pun, usaha itu tidak akan sia-sia,” ucapnya yakin.
Di tengah kebahagiaan itu, Anita tak lupa menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada orang-orang yang selama ini hadir dan memberi kekuatan di saat-saat sulit.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah mendukung saya. Terutama kepada keluarga, dan suami saya tercinta yang tidak pernah lelah memberi semangat, bahkan ketika saya hampir menyerah,” ucapnya penuh haru.
Dukungan suaminya, kata Anita, adalah salah satu alasan utama ia mampu bertahan menghadapi berbagai cobaan selama bertahun-tahun. Ketika fisik lelah dan pikiran mulai goyah, semangat dari orang terdekat itulah yang membuatnya terus berdiri.
Kisah Anita Marindasari bukan sekadar tentang kelulusan. Ini adalah pesan moral tentang arti sebuah ketabahan, bahwa dari tempat yang jauh pun, harapan bisa tumbuh, asal ada keyakinan, ketulusan, dan kemauan untuk terus melangkah, walau pelan.
Bagi sebagian orang P3K itu tidak berarti apa apa, tapi bagi dirinya itu adalah buah dari hasil kerja keras yang bisa dia capai seumur hidupnya.
Redaksi | insetgalusnews |


































