Data Tak Sesuai Realita, Pengusaha Kilang Padi Kritik Klaim Surplus Padi Gayo Lues

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Selasa, 10 Juni 2025 - 15:10 WIB

502,921 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GAYO LUES | insetgalusnews.com | Pemerintah Kabupaten Gayo Lues didesak untuk mengkaji ulang data hasil gabah dan luasan lahan persawahan yang ada di wilayah tersebut. 

Desakan ini muncul seiring kekhawatiran masyarakat terhadap keakuratan data yang disampaikan oleh kepala Dinas Pertanian yang mengatakan Gayo Lues surplus beras.

Pengusaha Kilang Padi UD Netral, Suhardinsyah, Minggu (8/6/2025) kepada kru-insetgalusnews.com, mengatakan bahwa validitas data sangat penting dalam menentukan kebijakan pertanian yang tepat.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, jika data yang disampaikan tidak akurat, maka akan menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat dan berpotensi menimbulkan ketidakadilan dalam penyaluran bantuan serta program pertanian lainnya.

“Biar jangan ada data yang tidak valid, supaya jangan ada pertanyaan yang ambigu dari masyarakat. Karena ketika instansi berwenang menyajikan data yang salah, akan berdampak langsung kepada hajat orang banyak,” ujar Suhardinsyah.

Berdasarkan analisis dan pengalamannya sebagai pengusaha kilang padi. Ia menjelaskan bahwa dalam satu hektare lahan sawah hanya mampu menghasilkan sekitar 2,9 ton gabah (catatan: satu hektare setara dengan enam kaleng bibit). Jika angka ini dikalikan dengan total luas lahan sebagaimana disebutkan oleh Kepala Dinas Pertanian, yakni 4.246 hektare, maka total produksi gabah yang dihasilkan adalah, 4.246 ha x 2,9 ton = 12.313,4 ton gabah.

Dari jumlah tersebut, jika dikonversikan menjadi beras, maka hasil akhirnya hanya sekitar 8.249 ton beras.

Contoh ujarnya, dari 11 kg gabah dengan kelembaban 20 (pengukur tester MMGM) apabila dikeringkan hingga mencapai kadar air 14%, akan diperoleh sekitar 9,8 kg gabah kering siap giling. Selanjutnya, dari 9,8 kg gabah kering tersebut, proses penggilingan akan menghasilkan sekitar 6,7 kg beras.

Sisa hasil penggilingan berupa limbah atau ampas terdiri dari, Sekam: 1,27 kg. Dedak: 1,75 kg. Bekatul: 0,08 kg. Itu dasar perhitungan kami sebagai pengusaha penggilingan padi, ujar Suhardin.

Oleh karena itu ia berharap Bupati Gayo Lues segera menginstruksikan Dinas Pertanian untuk mengevaluasi ulang hasil gabah yang dilaporkan, serta melakukan pemetaan wilayah persawahan secara komprehensif.

Langkah ini, lanjut Suhardinsyah, bertujuan untuk memastikan pendataan luasan lahan pertanian benar-benar mencerminkan kondisi riil di lapangan, sehingga kebijakan yang diambil pemerintah dapat lebih tepat sasaran dan berpihak pada petani.

“Ayo adu data, mana datamu ini dataku” tantangnya kepada Dinas Pertanian.

Namun sayang hingga berita ini dinaikkan kru-insetgalusnews.com belum mendapat jawaban resmi dari Dinas Pertanian.

Amatan insetgalusnews.com, sebagian besar pasokan beras ke Gayo Lues berasal dari daerah Bireuen. Hal ini disebabkan oleh harga beras diwilayah tersebut relatif lebih murah dibandingkan dengan harga beras lokal Gayo Lues. Pedagang dapat memperoleh beras dari Bireuen dengan harga berkisar antara Rp13.000 hingga Rp14.000 per kilogram, sementara harga beras lokal umumnya berada di atas Rp15.000 per kilogram.

Redaksi | insetgalusnews.com

Insetgalusnews.com akan terus menelusuri dan menyajikan perkembangan terbaru terkait dugaan rekayasa data ini.

Berita Terkait

Jalan Blangkejeren-Kutacane Kembali Longsor, Pengguna Jalan Diminta Waspada
42 Santri Al Bunayya Ikuti Haflah Takrim, Karmilawati Tuntaskan Hafalan 30 Juz
Peringati Tahun Baru Islam, Santri Bunayya Tampilkan Tari Saman Cilik dan Raih Penghargaan Prestasi
Mobil Pikap Terjun ke Pinggir Sungai di Ruas Blangkejeren-Kutacane, DPRK Soroti Penanganan Longsor
Petani Resah, Harimau Dilaporkan Berkeliaran di Pegunungan Blang Pegayon
Ridwansyah SP, Budaya “Panglo” Kearifan Lokal Menekan Biaya Tanam Kopi
Bantuan Bibit Kopi Pemerintah Picu Kebingungan Petani soal Aturan Hutan Lindung
Harimau Sumatera Serang Warga di Gayo Lues

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 22:51 WIB

Jalan Blangkejeren-Kutacane Kembali Longsor, Pengguna Jalan Diminta Waspada

Selasa, 16 Juni 2026 - 10:42 WIB

42 Santri Al Bunayya Ikuti Haflah Takrim, Karmilawati Tuntaskan Hafalan 30 Juz

Senin, 15 Juni 2026 - 09:30 WIB

Mobil Pikap Terjun ke Pinggir Sungai di Ruas Blangkejeren-Kutacane, DPRK Soroti Penanganan Longsor

Jumat, 29 Mei 2026 - 11:55 WIB

Petani Resah, Harimau Dilaporkan Berkeliaran di Pegunungan Blang Pegayon

Selasa, 26 Mei 2026 - 18:29 WIB

Ridwansyah SP, Budaya “Panglo” Kearifan Lokal Menekan Biaya Tanam Kopi

Senin, 25 Mei 2026 - 12:13 WIB

Bantuan Bibit Kopi Pemerintah Picu Kebingungan Petani soal Aturan Hutan Lindung

Selasa, 19 Mei 2026 - 20:01 WIB

Harimau Sumatera Serang Warga di Gayo Lues

Rabu, 13 Mei 2026 - 20:11 WIB

Kunjungi Gayo Lues, Kapolda Aceh Minta Polisi Perkuat Pelayanan ke Masyarakat

Berita Terbaru

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan