Merenung Sejenak! Dongeng dan Krisis Moral

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Sabtu, 7 Juni 2025 - 17:56 WIB

501,497 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opini | insetgalusnews.com | Setiap hari, kita disuguhi berita tentang korupsi, kecurangan, manipulasi, praktik culas hingga pelanggaran etika di lembaga-lembaga publik. Ironisnya, sebagian besar pelaku adalah orang-orang berpendidikan bahkan banyak yang lahir dari sistem pendidikan yang katanya menanamkan nilai moral dan budi pekerti.

Pertanyaan pun mengemuka, mengapa begitu banyak orang pintar tapi tidak jujur? Apakah ada yang keliru dalam proses pembentukan karakter sejak dini?

Mungkin salah satu faktor yang kerap diabaikan dalam pendidikan karakter adalah narasi atau cerita yang dikonsumsi anak-anak. Dongeng, sebagai bagian dari budaya tutur kita, sering dianggap sebagai sarana ampuh untuk menanamkan nilai-nilai moral. Namun, jika ditelaah lebih kritis, banyak dongeng yang justru memuat pesan ambigu atau bahkan kontraproduktif terhadap pembentukan etika.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ambil contoh cerita Kancil dan Buaya. Dalam dongeng ini, si Kancil digambarkan sebagai tokoh cerdik yang berhasil menipu kawanan buaya agar bisa menyeberang sungai. Ia berpura-pura hendak menghitung jumlah buaya demi membawa teman-temannya, padahal hanya ingin menipu agar bisa lewat. Anak-anak diajarkan bahwa tipu daya bisa dibenarkan atas nama kecerdikan. Tanpa sadar, kita membentuk persepsi bahwa kebohongan adalah bagian dari kepintaran.

Contoh lain adalah Timun Mas. Kisah ini mengisahkan seorang anak yang dikejar Buto Ijo, makhluk raksasa yang digambarkan menyeramkan dan jahat. Namun jika kita telusuri, Buto Ijo sebenarnya hanya datang untuk menagih janji. Ia tidak menipu, tidak memaksa, ia hanya meminta ibu Timun Mas memenuhi kesepakatan, menyerahkan anak yang telah dijanjikan ketika usia cukup. Namun, cerita berakhir dengan Buto Ijo dibunuh secara keji. Dalam narasi ini, pelanggaran janji seolah dimaklumi jika itu demi “kebaikan”.

Kedua dongeng tersebut hanyalah sedikit dari banyak cerita yang secara tak sadar menanamkan logika moral yang keliru. Kita menyodorkan kepada anak-anak bahwa manipulasi itu cerdas, dan bahwa pelanggaran janji bisa dibenarkan asalkan untuk tujuan yang dianggap baik. Bukankah ini bentuk awal dari permisivisme moral?

Tentu, kita tidak bisa menyalahkan dongeng secara mutlak. Cerita rakyat adalah bagian dari warisan budaya yang tumbuh dalam konteks sosialnya masing-masing. Namun sebagai orang tua, pendidik, dan pembuat kebijakan, kita perlu lebih cermat dalam menyaring dan menyampaikan cerita-cerita tersebut.

Sudah saatnya kita meninjau ulang narasi yang diwariskan kepada anak-anak. Kita perlu memilih cerita yang tidak hanya menarik dan imajinatif, tetapi juga membentuk landasan etika yang kuat: kejujuran, integritas, tanggung jawab, dan empati.

Beberapa langkah konkret bisa dilakukan. Pertama, mendampingi anak dalam memahami makna cerita. Jangan biarkan anak menelan bulat-bulat narasi yang ambigu; ajak mereka berdiskusi tentang benar-salah dan sebab-akibat. Kedua, ciptakan atau adaptasi ulang dongeng dengan sudut pandang moral yang lebih berimbang dan membangun. Ketiga, libatkan para penulis, pendongeng, dan kreator konten anak untuk menghasilkan cerita-cerita baru yang relevan dengan tantangan moral hari ini.

Karakter tidak dibentuk dalam ruang hampa. Ia tumbuh dari lingkungan, teladan, dan narasi yang diulang setiap hari. Jika kita ingin membangun generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas, maka kita harus mulai dari cerita yang mereka dengar sebelum tidur.

Karena dari cerita kecil, lahirlah karakter besar.

Redaksi | insetgalusnews.com 

Narasi ini terinspirasi dari akun JS88

Berita Terkait

“Gegurun” Saat Ruh Turun dan Tubuh Jadi Kuat
“Nyarang!”
Selsung: Salam Sakral di Tengah Rimba Gayo
Syair, Gerak, dan Tauhid: Menelusuri Akar Sufi Tari Saman
BAEN ITEM: Penjaga Bayangan Jiwa Dari Gayo
APAH ONOT: Makhluk Jelmaan
Kisah Menyentuh dari Tanah Huruf: Antara Gelar dan Makna
Membaca Ulang Cerita Rakyat. Yang Disembunyikan Dibalik Senyum Kancil

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 22:51 WIB

Jalan Blangkejeren-Kutacane Kembali Longsor, Pengguna Jalan Diminta Waspada

Selasa, 16 Juni 2026 - 10:42 WIB

42 Santri Al Bunayya Ikuti Haflah Takrim, Karmilawati Tuntaskan Hafalan 30 Juz

Senin, 15 Juni 2026 - 09:30 WIB

Mobil Pikap Terjun ke Pinggir Sungai di Ruas Blangkejeren-Kutacane, DPRK Soroti Penanganan Longsor

Jumat, 29 Mei 2026 - 11:55 WIB

Petani Resah, Harimau Dilaporkan Berkeliaran di Pegunungan Blang Pegayon

Selasa, 26 Mei 2026 - 18:29 WIB

Ridwansyah SP, Budaya “Panglo” Kearifan Lokal Menekan Biaya Tanam Kopi

Senin, 25 Mei 2026 - 12:13 WIB

Bantuan Bibit Kopi Pemerintah Picu Kebingungan Petani soal Aturan Hutan Lindung

Selasa, 19 Mei 2026 - 20:01 WIB

Harimau Sumatera Serang Warga di Gayo Lues

Rabu, 13 Mei 2026 - 20:11 WIB

Kunjungi Gayo Lues, Kapolda Aceh Minta Polisi Perkuat Pelayanan ke Masyarakat

Berita Terbaru

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan