Sosok di Balik Seragam “Catatan Jurnalisme Sastra dari Tanah Seribu Bukit”

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Selasa, 1 Juli 2025 - 22:36 WIB

501,368 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Photo | Sketsa | Kapolres Gayo Lues AKBP Hyrowo SIK dan Ny Pipit Hyrowo

Photo | Sketsa | Kapolres Gayo Lues AKBP Hyrowo SIK dan Ny Pipit Hyrowo

“AKBP Hyrowo tak menulis puisi, tapi langkahnya adalah bait demi bait yang ditulis dengan peluh dan kasih, pada halaman hati rakyat yang pernah merasa sepi. Ia tak menerbitkan buku, tapi kisahnya hidup di antara senyum warga desa dan bisik doa anak-anak panti”


Gayo Lues | Insetgalusnews.com | Di tengah gegap gempita Hari Bhayangkara ke-79, ketika panggung-panggung berdiri megah dan seragam kebanggaan menyala dalam sorotan kamera.

Di Gayo Lues, ada narasi lain yang tak tertulis dalam protokol. Bukan soal pangkat, bukan pula soal barisan, melainkan tentang seseorang yang hadir bukan hanya sebagai aparat, tapi sebagai manusia.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namanya AKBP Hyrowo SIK Kapolres Gayo Lues. Lahir pada 5 Juli 1984, lulusan Akpol 2006, dan kini, tak hanya membawa tongkat komando, tapi juga membawa seberkas cahaya kehangatan yang menyentuh jantung masyarakat.

Bagi sebagian orang, polisi adalah bayangan tegas di tengah jalan raya. Tapi bagi banyak warga di dataran tinggi Seribu Bukit ini, sosok Hyrowo menjelma menjadi sahabat dalam sunyi. Ia bukan hanya berdiri tegak dalam apel, tapi juga membungkuk hormat di depan warga lansia. Ia tak hanya memberi perintah, tapi juga mendengar keluh kesah petani, pedagang kaki lima, anak yatim, dan ibu-ibu pasar tradisional yang sering kali lupa jadi berita.

Sejak mengemban amanah sebagai Kapolres Gayo Lues, belum genap setahun, ia lebih banyak berjalan kaki ke kampung-kampung daripada duduk di balik meja. Menyapa, menyalami, merangkul dengan ketulusan yang tak bisa dipoles protokoler. Rumah ibadah, warung kopi sederhana, hingga pelataran sekolah-menjadi saksi dari kepemimpinan yang lebih mengedepankan hati.

Disiplin dan ketegasan tetap ada, tentu. Tapi dalam keseharian, ia lebih sering terlihat duduk bersila di pelataran surau, berdialog ringan dengan warga desa, atau membantu dan memberi arahana kepada warga sekitar. Dalam banyak kesempatan, ia datang tanpa sirene. Dalam banyak hati, ia tinggal tanpa perlu izin.

Di balik sosoknya, berdiri pula seorang perempuan yang menjadi cermin kepekaan yang sama: Ny Pipit Hyrowo. Istri, sahabat, sekaligus rekan kemanusiaan. Bersama, mereka menyusuri banyak ruang yang sering luput dari perhatian-panti jompo, rumah-rumah anak yatim, komunitas perempuan pedalaman, dan berbagai ruang sunyi yang tak pernah diliput media besar.

Kini, saat Bhayangkara dirayakan di seantero negeri dengan parade dan panggung besar, di Gayo Lues, perayaan itu berjalan dengan warna berbeda. Lebih senyap, tapi lebih terasa. Karena ada langkah yang benar-benar menyentuh bumi. Ada pemimpin yang tak hanya menyapa dari atas podium, tapi datang memeluk luka masyarakat secara langsung.

AKBP Hyrowo mungkin tidak menulis puisi. Tapi tindakannya menjelma sajak yang ditulis dari ladang-ladang kering, dari peluh rakyat kecil, dan dari harapan yang disematkan pada sosok berbaju cokelat itu.

Ia tak menerbitkan buku. Tapi kisah hidupnya telah menjadi narasi panjang yang hidup dalam benak banyak orang.

Bhayangkara, di tangannya, bukan lagi simbol kekuasaan. Tapi telah menjadi wajah kemanusiaan. Menjaga, merawat, dan hadir saat dibutuhkan.


Redaksi Insetgalusnews.com mengucapkan Selamat HUT Bhayangkara ke-79 Semoga Bhayangkara semakin dekat dengan rakyat, dan semakin bermakna dalam setiap langkahnya.

Berita Terkait

EPISODE 4 (TAMAT) SERIAL FEATURE EDWAR CANTO; Pada akhirnya, setiap perjalanan akan bermuara pada satu tujuan “pulang”.
SERIAL FEATURE EDWAR CANTO; Kembali ke Gayo Lues, Mengabdi Tanpa Henti
SERIAL FEATURE “EDWAR CANTO” Di Antara Dentuman Senjata dan Mimpi Menjadi Peneliti
SERIAL FEATURE “EDWAR CANTO” Dari Pedalaman Pining Menuju Pentas Pengabdian Nasional
Meniti Jalan Dakwah dan Pengabdian, Secuil Kisah Ustad Amsyarullah di Negeri Seribu Bukit
Mengenal Lebih Dekat Sosok Inspiratif Doktor Sartika Mayasari
Menapaki Jejak Pengabdian Bung Khairuddin, dari Ruang Kelas hingga Kursi Ketua KIP Gayo Lues
Mudik yang Tertunda, Drama di Balik Terungkapnya Pembunuhan di Hari Fitri 1447H

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 11:39 WIB

Hujan Deras Picu Air Meluap, Kendaraan Roda Enam Terguling di Aih Bobo

Rabu, 26 Agustus 2026 - 17:49 WIB

Kebakaran Hanguskan 11 Rumah di Kampung Lokop Baru Gayo Lues

Senin, 24 Agustus 2026 - 23:50 WIB

Dari Gayo Lues ke Jakarta, Bupati Suhaidi Perjuangkan 7 Jembatan dan Jalan Lesten

Selasa, 18 Agustus 2026 - 21:45 WIB

Tegang di Dukuh Atas, 1.814 Mahasiswa Suarakan Delapan Tuntutan kepada Pemerintah

Selasa, 11 Agustus 2026 - 12:36 WIB

Muhammadiyah Gayo Lues Galang Dana untuk Korban Kebakaran di Jagong Jeget

Minggu, 26 Juli 2026 - 21:16 WIB

Satu Tewas dalam Bentrokan Antar Kelompok di Menteng, Delapan Orang Diamankan Polisi

Sabtu, 25 Juli 2026 - 18:52 WIB

Jelang Kongres II PNA, Irwandi Yusuf Nyatakan Siap Pimpin Kembali Partai

Kamis, 23 Juli 2026 - 14:05 WIB

Di Balik Konten yang Menuai Kecaman, Ada Penyesalan; Dea Arranoya Memilih Meminta Maaf ke Publik

Berita Terbaru

Pimpinan Cabang Bank Aceh Syariah Gayo Lues, Mahara Miko serahkan bantuan kepada korban kebakaran Desa Ulun Tanoh yang diterima langsung oleh Pengulu setempat, Suhardinsyah, Kamis (10/9/2026)

GAYO LUES

Bank Aceh Syariah Hadir, Bantu Korban Kebakaran Desa Ulun Tanoh

Kamis, 10 Sep 2026 - 17:31 WIB

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan