Provinsi Tengah Aceh “Pisah Ranjang, Tapi Masih Satu Atap”

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Selasa, 22 Juli 2025 - 21:06 WIB

501,521 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Karikatur Pisah Ranjang Tapi Masih Satu Atap hanya sekedar untuk pemanis artikel | doc | inset |

Karikatur Pisah Ranjang Tapi Masih Satu Atap hanya sekedar untuk pemanis artikel | doc | inset |

“Kami di tengah, bukan di pinggir, Suara lirih dari bukit dan kabut, Ingin dapur sendiri, Tanpa harus keluar rumah ke rumah tetangga. Kami tetap Aceh, jangan salah paham, Hanya ingin strategi baru, bukan kiblat baru, Syariat tetap kami junjung, Dengan sarung tebal, bukan celana cingkrang. Bukan rebutan warisan, Kami cuma ingin jembatan diperbaiki Tanpa proposal tiga jilid dan lima musim. Kalau besok ada Provinsi Tengah Aceh. Itu bukan makar, Cuma anak kos yang pengin ngontrak, Tapi tetap pulang kalau rindu ibu”

TAJUK RENCANA | Insetgalusnews.com | Di sebuah belahan Aceh yang tak selalu diundang dalam rapat-rapat besar provinsi, suara lirih dari pegunungan Gayo dan Alas mulai menggema “Boleh kami punya provinsi sendiri, tapi jangan khawatir… kami tetap Aceh, kok.”

Seperti pasangan suami istri yang lelah tinggal serumah tapi tak ingin cerai, wilayah tengah Aceh tampaknya ingin pisah ranjang administratif, namun tetap tidur dalam selimut ke-Acehan yang hangat dan harum aroma kopi arabika.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Wilayah tengah bukan sekadar dataran tinggi berkabut. Di sanalah kopi terbaik dunia tumbuh tanpa banyak seremoni. Sayangnya, jalan menuju kebun terasa seperti dilalui kawanan gajah patah hati-rusak, sepi perhatian.

“Setiap musim Musrenbang, kami lebih sering dapat tepuk tangan daripada anggaran,” keluh seorang tokoh adat sambil menyeruput kopi pahit. Tanpa gula. Tanpa harapan.

Maka muncul gagasan-kalau tak dianggap anak emas, mungkin waktunya punya rumah sendiri. Bukan kabur, tapi supaya bisa masak sendiri, jemur sendiri, dan tak terus-menerus pinjam colokan dari rumah tetangga.

Beberapa dari pesisir menyebut ini manuver politik. “Kenapa harus buat provinsi baru? Bukankah kita satu darah?”
Tentu. Tapi darah pun butuh pembuluh sendiri agar tidak buntu. Saking sibuknya urat nadi di Banda Aceh, daerah tengah kadang tak kebagian oksigen pembangunan. Bahkan memperbaiki jembatan gantung yang sudah tak bergantung pun perlu proposal berjilid-jilid.

Sebagian khawatir, “Kalau pisah provinsi, jangan-jangan mereka tidak ikut syariat lagi!”
Tenang, Pak. Ini bukan soal ganti agama, hanya ganti strategi. Syariat tetap dijunjung tinggi. Tapi kalau di pesisir celana cingkrang adalah simbol taat, di gunung cukup sarung tebal, karena dingin lebih menguji daripada godaan.

Pembentukan provinsi baru ini bukan rebutan warisan atau harta gono-gini. Kami tidak minta saham tambang. Cukup bisa urus jalan desa, bikin akta kelahiran tanpa menunggu musim durian, dan menyala­kan lampu dapur tanpa minta izin ke rumah induk.

Kalau nanti terbentuk Provinsi Aceh Leuser Antara dari wilayah Tengah Aceh, jangan buru-buru mengangkat alis. Kami bukan makar. Kami hanya lelah jadi penonton di rumah sendiri. Ini bukan perceraian. Ini anak kos yang akhirnya bisa ngontrak. Masih sering pulang, tapi tidak harus izin kalau mau hidupkan kompor.

Aceh itu indah karena beragam. Tapi ragam itu jangan sekadar jadi pajangan. Tengah Aceh ingin tumbuh dan bergerak tanpa harus menempuh belasan jam perjalanan ke ibu kota provinsi hanya demi urusan cap basah.

Kami tidak sedang memecah belah. Kami cuma ingin membelah pisang goreng agar adil dibagi. Kalau ada yang tersinggung, mungkin sedang duduk di kursi empuk tanpa ventilasi atau berada persis di jalur kritik ini.

Provinsi baru? Itu urusan pemerintah. Tapi tulisan ini? Ini suara hati warga yang ingin masak air sendiri, tanpa harus pinjam kompor ke rumah sebelah.

Jangan baper. Ini bukan maklumat makar. Kami hanya sedang menyeduh opini. Disajikan hangat, seperti kopi Gayo-pahit, tapi bikin melek. Insetgalusnews.com | Media bebas dari subsidi, tapi penuh nutrisi bagi nalar yang lapar.


TAJUK | insetgalusnews | ini adalah karya satire. Setiap kalimatnya dimaksudkan untuk mengajak berpikir, bukan menghasut. Jika terasa menyindir, mungkin karena cermin sedang diarahkan ke sudut yang tepat.

Kami tidak sedang menggalang makar, hanya mengumpulkan harapan. Tidak sedang memecah Aceh, hanya mencoba menjahit yang terasa longgar di tengah.

Segala kemiripan dengan tokoh, lembaga, atau kebijakan nyata adalah hasil dari kenyataan itu sendiri, bukan fiksi kami.

Insetgalusnews.com tidak bertanggung jawab atas luka ego akibat tersandung kebenaran yang dibungkus kelakar.

Kalau Anda tersinggung, mohon periksa posisi: apakah sedang duduk nyaman terlalu lama, atau lupa bahwa rakyat juga bisa bersuara-meski dengan nada bercanda.

Berita Terkait

ANEKDOT Tiga Sekawan Dan Mukjizat Tanaman Kopi
Dia Tu Lagi Lucu Lucunya…. Jaman Dulu; Kerja-Baru Prestasi-Jaman Digital; Penghargaan Dulu-Kerja Nanti
Negeri dalam Mode “Siap, Pak!” Kalau Semua Bilang “Siap”, Siapa yang Bilang Salah?
Kopi Sudah Mau Go International, GERETEK Masih Cari Sinyal
Jembatan Darurat Pintu Rime-Pining. Menutup Kekosongan Kebijakan Pasca Bencana. Siapa Yang Berperan?
Kriminal Ramai, Akhlak Sepi
Huntara dan Tanggung Jawab Pelaksana yang Tak Boleh Samar
Ganja Dibasmi, Kemiskinan Dibiarkan? Setelah Dibakar, Lalu Mau Diapain?  

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 15:58 WIB

AML Nilai MBG Lebih Tepat Dikelola Melalui Dapur SPPG

Rabu, 26 Agustus 2026 - 17:49 WIB

Kebakaran Hanguskan 11 Rumah di Kampung Lokop Baru Gayo Lues

Senin, 24 Agustus 2026 - 23:50 WIB

Dari Gayo Lues ke Jakarta, Bupati Suhaidi Perjuangkan 7 Jembatan dan Jalan Lesten

Selasa, 18 Agustus 2026 - 21:45 WIB

Tegang di Dukuh Atas, 1.814 Mahasiswa Suarakan Delapan Tuntutan kepada Pemerintah

Selasa, 11 Agustus 2026 - 12:36 WIB

Muhammadiyah Gayo Lues Galang Dana untuk Korban Kebakaran di Jagong Jeget

Minggu, 26 Juli 2026 - 21:16 WIB

Satu Tewas dalam Bentrokan Antar Kelompok di Menteng, Delapan Orang Diamankan Polisi

Sabtu, 25 Juli 2026 - 18:52 WIB

Jelang Kongres II PNA, Irwandi Yusuf Nyatakan Siap Pimpin Kembali Partai

Kamis, 23 Juli 2026 - 14:05 WIB

Di Balik Konten yang Menuai Kecaman, Ada Penyesalan; Dea Arranoya Memilih Meminta Maaf ke Publik

Berita Terbaru

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan