Pagi-pagi, petani Gayo Lues mungkin lebih rajin menyeduh kopi daripada pemerintah daerah menyeduh kebijakan. Kopinya sudah punya cita-cita keliling dunia, pelaku usaha mulai membuka pintu ekspor, koperasi ikut berbenah, dan BNNK turun tangan. Sementara bibit yang ditunggu petani masih seperti tamu undangan. Kabarnya sudah datang, tetapi kursinya belum juga terlihat.
Lucunya, kopi tidak pernah ikut rapat, tidak punya jabatan, apalagi punya kartu tanda penduduk. Namun ia justru tampak paling sibuk mencari jalan keluar bagi ekonomi masyarakat. Ia tumbuh, dipanen, diolah, lalu bersiap mengetuk pasar internasional.
Pemerintah? Masih ditunggu di kebun.
Bukan untuk membawa termos kopi, tentu. Petani menunggu sesuatu yang lebih penting: kebijakan yang benar-benar sampai ke tanah, bibit yang datang tepat waktu, pasar yang jelas, dan program GERETEK yang tidak hanya terdengar bagus ketika disebut di podium
TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Di Gayo Lues, ada satu perlombaan yang menarik untuk disaksikan. Kopi rupanya lebih cepat menemukan jalan menuju pasar internasional daripada pemerintah daerah menemukan jalan menuju kebijakan yang nyata. BNNK sudah bergerak, koperasi mulai berbenah, perusahaan menyiapkan pasar. Sementara pemerintah daerah? Jadwal penyaluran bibit saja masih molor. Jangankan ekspor, mungkin kopinya masih menunggu giliran diseduh.
Ini bukan soal siapa paling cepat berlari. Ini soal siapa yang semestinya berada di garis depan.
Kopi Arabika bukan tanaman kemarin sore. Ia tumbuh di lereng-lereng Gayo Lues dan menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat. Dalam konteks pemberantasan narkotika, kopi bahkan punya peran yang lebih penting. Ia dapat menjadi pilihan ekonomi bagi masyarakat di kawasan yang rentan terhadap budidaya ganja.
Dengan kata lain, kalau ganja punya pasar, kopi juga harus punya pasar. Bedanya, kopi bisa membuat petani sibuk menghitung hasil panen tanpa harus menghitung risiko berurusan dengan hukum.
Di sinilah GERETEK-Gerakan Restorasi Ekonomi-semestinya diuji.
GERETEK jangan sampai hanya menjadi nama yang gagah di spanduk, sementara petani masih bertanya kapan bibit datang. Sebab petani tidak bisa menanam slogan. Slogan tidak tumbuh menjadi buah kopi. Apalagi bisa dijual untuk membayar kebutuhan rumah tangga.
Petani membutuhkan hal yang jauh lebih sederhana. Bibit yang datang tepat waktu, modal yang mudah diakses, pendampingan yang berkelanjutan, kepastian pasar, pengolahan pascapanen, sertifikasi, hingga akses ekspor.
Pertanyaannya kemudian sederhana. Siapa yang mengurus semua itu?
Ketika BNNK Gayo Lues mulai mendorong pemberdayaan masyarakat, koperasi berbenah dan pelaku usaha membuka peluang pasar internasional, pemerintah daerah semestinya tidak cukup menjadi penonton dari pinggir lapangan.
Pemerintah memiliki sesuatu yang tidak dimiliki petani. Anggaran, regulasi, perangkat birokrasi dan kewenangan. Semua modal itu seharusnya digunakan untuk membangun ekosistem kopi, bukan sekadar menghiasi dokumen perencanaan.
Jangan sampai petani diminta meninggalkan tanaman terlarang dan beralih ke kopi, tetapi ketika kopi sudah dipanen, pemerintah mendadak kehilangan sinyal.
Ini yang membuat GERETEK perlu dibicarakan secara serius.
Jika program itu memang dimaksudkan sebagai gerakan restorasi ekonomi, ukurannya tidak boleh berhenti pada berapa kali nama GERETEK disebut dalam pidato atau berapa banyak spanduk yang terpasang. Ukurannya sederhana, apa yang berubah di kebun petani?
Berapa luas kebun yang mendapat pendampingan? Berapa petani memperoleh akses modal? Berapa koperasi diperkuat? Berapa fasilitas pengolahan dibangun? Berapa kopi terserap pasar? Dan berapa rupiah tambahan pendapatan yang masuk ke kantong petani?
Pertanyaan semacam itu memang kurang cocok untuk seremoni. Sebab pertanyaan itu membutuhkan angka, pekerjaan dan jawaban.
Kopi Gayo Lues sebenarnya tidak kekurangan potensi. Yang sering kekurangan adalah keberanian mengubah potensi menjadi kebijakan yang konsisten.
BNNK sudah mencoba membuka pintu melalui pendekatan alternatif ekonomi. Koperasi mulai menata diri. Perusahaan mulai menghitung peluang pasar internasional. Bahkan proses menuju audit standar perdagangan kopi internasional mulai dipersiapkan.
Lalu pemerintah daerah berada di mana?
Pertanyaan ini bukan untuk mencari kambing hitam. Apalagi mencari kambing untuk kemudian disuruh ngopi. Ini kritik terhadap kebijakan yang seharusnya bisa menjawab kebutuhan masyarakat.
Pemerintah daerah tidak harus mengerjakan semuanya sendiri. Tetapi pemerintah harus menjadi penghubung. Jika petani siap menanam, koperasi siap mengumpulkan, perusahaan siap membeli dan BNNK siap mendorong alternatif ekonomi di kawasan rawan ganja, pemerintah tinggal memastikan mata rantainya tidak putus.
Sebab petani tidak hidup dari koordinasi. Petani hidup dari hasil kebun.
Jangan pula sampai kopi Gayo Lues kelak benar-benar go international, tetapi nilai tambahnya justru lebih banyak dinikmati pihak di luar daerah. Pemerintah daerah baru muncul ketika ekspor sudah berjalan, lalu ikut berfoto di depan kontainer.
Itu bukan hilirisasi. Itu namanya hilir-hilir ikut.
Karena itu, GERETEK perlu keluar dari panggung slogan dan masuk ke kebun. Program tersebut harus mempunyai target yang jelas, jadwal yang pasti, anggaran yang transparan, indikator keberhasilan yang dapat diukur dan keberpihakan yang bisa dirasakan petani.
Pemerintah daerah juga perlu menjawab satu pertanyaan yang sederhana tetapi penting, apa yang sudah dilakukan untuk kopi Gayo Lues sampai hari ini?
Kalau jawabannya masih berupa rencana, mungkin sudah waktunya rencana itu mulai bekerja.
Sebab kopi tidak bisa menunggu terlalu lama. Petani juga demikian.
Dan jangan sampai kelak sejarah mencatat ironi yang lucu sekaligus getir. Ketika kopi Gayo Lues sudah mengetuk pintu pasar dunia, pemerintah daerah justru masih sibuk mencari kunci.
Kopi sudah siap diseduh. Petani sudah siap bekerja. Pasar mulai terbuka. Tinggal pemerintah. Mau hadir sebagai penggerak, atau cukup menjadi penonton yang ikut menikmati aromanya.
REDAKSI | insetgalusnews | Tulisan ini adalah tajuk rencana, bukan surat cinta untuk pemerintah daerah. Jika ada bagian yang terasa menyentil, mungkin karena kopinya memang pahit-bukan karena redaksi lupa menambahkan gula.
Semua kritik ditujukan pada kebijakan dan kinerja, bukan pada pribadi. Jika ada pihak yang merasa tersindir, silakan anggap sebagai undangan untuk ngopi dan berdiskusi.
Sebab dalam urusan kopi Gayo Lues, yang kami harapkan bukan pemerintah tersinggung, melainkan petani tersenyum.
Catatan kecil: kopi boleh pahit, tetapi kebijakan jangan sampai ikut-ikutan pahit.


































