Di sebuah warung kopi, tiga sekawan mendadak menemukan “mukjizat” baru; tanaman kopi belum ditanam, bibit masih tersimpan di gudang, tetapi prestasinya sudah lebih dulu dipanen dan penghargaan sudah menanti di ibu kota. Rupanya, di negeri birokrasi, ada tanaman yang bisa tumbuh lebih cepat dari kopi-yakni prestasi di atas kertas.
TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Suasana warung kopi Mak Lasmi mendadak riuh. KIlam baru saja datang sambil mengacungkan koran lokal dengan wajah penuh keheranan.
“Hebat betul Boss kita yang baru ini,” kata Kilam sambil mengempaskan tubuhnya ke kursi bambu. “Di Brazil, petani baru tahu hasil panen setelah dicek laboratorium. Di Afrika, mereka harus tunggu riset tanah berbulan-bulan.”
Tono yang sedang mengaduk kopi hitamnya menoleh. “Memangnya Boss kita kenapa, Kil?”
“Ini lihat beritanya!” Kilam menunjuk foto halaman depan. “Program Swasembada Kopi unggulan daerah kita baru saja diresmikan kemarin. Bibitnya saja masih di dalam gudang, belum dibagikan ke satu pun kelompok tani. Tapi hari ini, Boss kita sudah terbang ke ibu kota untuk terima penghargaan ‘Pelopor Ketahanan Pangan Nasional’!”
Pak Rauna, sesepuh desa yang sedang mengisap rokok klobotnya, langsung terkekeh mendengar ucapan Kilam. Beliau menyeruput kopi sasetannya perlahan, lalu meletakkan cangkir dengan ketukan dramatis.
“Kalian ini tidak paham konsep efisiensi birokrasi modern,” kata Pak Rauna tenang.
“Efisiensi bagaimana, Pak? Menanam saja belum, kok sudah menang penghargaan?” protes Tono bingung.
Pak Rauna tersenyum penuh arti, memilin kumis putihnya. “Di luar negeri, penghargaan itu diberikan berdasarkan hasil keringat dan panen nyata. Di tempat kita, kreativitas itu jauh lebih mahal harganya.”
“Maksudnya, Pak?” tanya Kilam penasaran.
“Boss kita itu visioner. Jangankan menunggu kopi itu tumbuh, berbuah, dan dipetik tiga tahun lagi,” sahut Pak Rauna sambil tertawa renyah. “Baru jadi program di atas kertas dan selesai difoto buat baliho saja, kesuksesannya sudah bisa dipastikan mengalahkan hukum alam! Penyerahan bibit itu cuma formalitas, yang penting penyerahan pialanya sudah dijadwalkan!”
Warung kopi Mak Lasmi seketika riuh oleh tawa getir para petani yang hadir. Di bawah spanduk program pemerintah yang mentereng, mereka sadar di daerah ini, prestasi memang tumbuh jauh lebih cepat daripada tanaman kopi mereka sendiri.
Insetgalusnews | Tulisan ini adalah anekdot, satire, dan humor editorial yang sengaja dibumbui dengan hiperbola, sindiran, serta dialog imajinatif untuk mengajak pembaca tertawa sekaligus berpikir.
Tokoh, dialog, dan kejadian dalam cerita merupakan karya satir, bukan laporan fakta atau tuduhan terhadap pihak tertentu. Jika ada yang merasa tersindir, mungkin bukan karena penulis menunjuk. Barangkali cerminnya memang sedang diletakkan di depan. 😄
Tidak ada tanaman kopi yang dipaksa tumbuh sebelum waktunya dalam penulisan artikel ini. 🌱☕ Salam Arabica


































