Di negeri kami, rupanya prestasi tidak lagi harus menunggu pekerjaan selesai. Seorang bos baru saja mendapat penghargaan atas program yang belum pernah dikerjakan. Ini tentu kabar baik. Sebab kalau penghargaan saja sudah bisa diterima tanpa kerja, mungkin sebentar lagi ijazah kelulusan bisa diberikan sebelum ujian dimulai.
TAJUK RENCANA | Insetgalusnews.com | Ada kabar menggembirakan dari negeri kita. Seorang bos menerima penghargaan atas sebuah program yang konon luar biasa. Namanya terpampang di televisi, fotonya beredar di media sosial, dan ucapan selamat datang dari segala penjuru.
Sungguh prestasi yang patut diapresiasi. Hanya ada satu masalah kecil; Programnya belum pernah dikerjakan. Tapi jangan buru-buru curiga. Barangkali kita saja yang belum melihatnya.
Sebab zaman sekarang sudah canggih. Ada program yang bisa dilaksanakan di lapangan, ada yang dilaksanakan di atas kertas, dan ada pula yang pelaksanaannya cukup di depan kamera.
Yang terakhir ini paling hemat. Tidak perlu menunggu hasil. Tidak perlu menunggu masyarakat merasakan manfaat. Tidak perlu menunggu proyek selesai.
Yang penting spanduk sudah dicetak, sambutan sudah disiapkan, kamera sudah menyala, lalu…cling! – Penghargaan pun datang. Repot Kalau Prestasi Harus Menunggu Kerja
Dulu, logika pemerintahan sederhana. Kerja dulu. Hasil kemudian. Baru penghargaan.
Sekarang tampaknya logika itu perlu diperbarui. Rencana → publikasi → penghargaan → kerja kalau sempat.
Kalau program akhirnya benar-benar dikerjakan, itu bonus. Kalau tidak dikerjakan, setidaknya sudah ada dokumentasi program tersebut pernah ada.
Di televisi. Ini yang membuat rakyat kadang bingung. Mereka pergi ke lapangan mencari hasil pembangunan, tetapi yang ditemukan justru foto kegiatan.
Mereka mencari program, yang ditemukan baliho. Mereka mencari manfaat, yang ditemukan konferensi pers.
Mereka mencari keberhasilan, ternyata keberhasilan sedang menerima penghargaan di hotel.
Konon, seorang warga pernah bertanya kepada pegawai;
“Di mana program unggulan yang mendapat penghargaan itu?”
“Sudah ada.”
“Di mana?”
“Di dokumen.”
“Kalau di lapangan?”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Masih proses.”
“Proses apa?”
“Proses untuk memproses.”
Warga mengangguk. Ia baru sadar birokrasi memang punya kemampuan luar biasa. Satu pekerjaan bisa dibuat menjadi lima tahap, sementara hasilnya tetap satu.
Bahkan kadang hasilnya belum ada. Tetapi laporan keberhasilannya sudah lengkap.
Hebat. Televisi Memang Tidak Pernah Bertanya, Televisi juga punya kelebihan.
Televisi tidak akan bertanya; “Mana hasilnya?” Televisi hanya bertanya; “Siap wawancara?”
Bos tinggal tersenyum. Kamera mengambil gambar. Penghargaan diangkat tinggi-tinggi. Lalu narasi pun mengalir; “Prestasi ini merupakan bukti keberhasilan pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.”
Masyarakat yang mendengar tentu ikut bahagia. Walaupun sebagian mungkin bertanya; “Sejahtera yang mana?”
Jangan-jangan kesejahteraannya sedang dalam perjalanan. Atau mungkin tersesat.
Atau sedang menunggu anggaran. Atau sedang rapat membahas kapan akan mulai bekerja.
Yang Penting Bos Dulu. Kita tentu tidak boleh iri kepada bos. Bagaimanapun, mendapatkan penghargaan bukan perkara mudah. Apalagi penghargaan atas sesuatu yang belum dikerjakan.
Itu membutuhkan bakat khusus. Orang biasa perlu bekerja keras untuk mendapatkan penghargaan.
Orang luar biasa cukup terlihat bekerja keras. Yang satu menghasilkan pekerjaan. Yang satu menghasilkan tayangan. Dan di era kamera serta media sosial, keduanya kadang sulit dibedakan.
Maka jangan heran jika suatu hari nanti ada penghargaan baru; “Pemimpin dengan Program Paling Sukses yang Belum Pernah Dilaksanakan.” Kategori ini mungkin sangat kompetitif.
Namun, di balik semua kelucuan itu ada satu persoalan serius. Rakyat tidak makan piagam penghargaan. Petani tidak bisa menyiram sawah dengan sertifikat prestasi.
Pedagang tidak bisa membayar utang dengan foto pejabat di televisi. Anak sekolah tidak bisa belajar menggunakan trofi.
Dan jalan yang rusak tidak akan mulus hanya karena bosnya mendapat penghargaan.
Penghargaan boleh diterima. Televisi boleh menayangkan. Foto boleh dipajang. Tetapi setelah kamera mati, pekerjaan tetap harus dimulai.
Sebab ukuran keberhasilan pemerintah bukan seberapa besar fotonya terpampang di baliho.
Bukan pula berapa kali namanya disebut di televisi. Melainkan seberapa nyata masyarakat merasakan hasilnya.
Kalau program belum pernah dikerjakan tetapi penghargaan sudah datang, jangan-jangan yang sedang berkembang bukan ekonominya. Melainkan industri penghargaan.
Dan kalau suatu hari bos kembali masuk televisi dengan penghargaan baru, rakyat mungkin tidak lagi bertanya: “Program apa yang berhasil?”
Melainkan; “Kali ini program yang belum dikerjakan yang mana lagi?”
Itulah satire kecil dari sebuah negeri yang kadang mampu membuat sesuatu yang belum selesai terlihat sangat berhasil. Kameranya menyala, tepuk tangan bergemuruh, piagam berpindah tangan.
Tinggal satu yang belum; kerjanya.
TAJUK RENCANA | Ini satire, bukan surat dakwaan. Jika terasa menyindir, mohon jangan buru-buru marah. Bisa jadi tulisan ini memang sedang bercanda.
Kemiripan tokoh dan kejadian hanyalah kebetulan. Kalau terlalu mirip, mungkin kebetulannya yang sedang bekerja lembur.
Tidak ada nama disebut, tidak ada tuduhan ditujukan. Jadi, kalau ada yang merasa tersindir…silakan bercermin. Tapi jangan salahkan kacanya.


































