Bismillahi Rahmanirahim Abdul Karim mulai caritra, Museheded Tauhid, Museheded Rasul, Di dalam usul mulahir nyata.”
Adalah lantun awal yang mengalir lembut. “La hoya sare,” gema keyakinan, “La syarikallahu,” tiada sekutu Tuhan, Dalam irama, makna terajut pelan, Ketauhidan menari dalam keindahan.
Bukan hanya tangan yang bersatu, Tapi hati yang menyatu satu-satu, Gerak dan syair saling merangkul, Jika satu memanjang, yang lain menyusul
BUDAYA | insetgalusnews.com | Tari Saman bukan sekadar pertunjukan seni; ia adalah denyut spiritual yang tumbuh dari akar dakwah Islam di Tanoh Gayo. Asal-usulnya bermula dari metode pengajaran agama Islam yang dibawa oleh Teungku Syech Syaman, seorang ulama dari wilayah Pase.
Perjalanan dakwah beliau melintasi sejarah-dari Pase ke Perlak, lalu menuju Gayo Lukup, hingga akhirnya menyebar ke wilayah Gayo Deret, yang kini kita kenal sebagai Gayo Lues.
Dalam khazanah sastra lisan masyarakat Gayo, suku Gayo terbagi ke dalam tiga kelompok besar berdasarkan wilayah geografis dan dialek mereka.
Gayo Deret, yang bermukim di wilayah Gayo Lues. Gayo Lut, yang menempati kawasan Takengon, Aceh Tengah,dan Gayo Lukup, yang berada di Serbejadi, Aceh Timur.
Pada awalnya, ajaran Islam diperkenalkan secara halus melalui pendekatan sufistik dan ilmu ketauhidan. Syair menjadi medium utama dalam menyampaikan ajaran ini. Dibacakan dalam bentuk naratif dan dinyanyikan dalam irama khas Gayo, syair-syair tersebut menghidupkan nilai-nilai spiritual dalam bentuk estetika budaya.
Salah satu penggalan syair yang menggambarkan semangat awal dakwah tersebut berbunyi:
“Bismillah Abdul Karim mulai caritra, Museheded Tauhid, Museheded Rasul, Di dalam usul mulahir nyata” (red-Gayo).
Syair ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah tafsir lisan atas prinsip ketauhidan, yang menyatu dalam tubuh budaya Gayo. Dalam syair-syair itu pula kita menemukan istilah seperti “La hoya sare”, turunan dari ungkapan “La syarikallahu”, yang berarti “Tiada sekutu bagi-Nya”-menegaskan bahwa inti dari dakwah, sekaligus fondasi Tari Saman, adalah keesaan Tuhan.
Keindahan Tari Saman tidak hanya terletak pada kekompakan gerakan tangan dan tubuh, tetapi juga dalam kekuatan syair yang menyertainya. Salah satu yang paling dikenal berbunyi:
“Lagu e rantol redet e singket, singket redet e rantol lagu e” (red-Gayo).
Kalimat ini mencerminkan harmoni antara syair dan gerak. Jika syairnya panjang, maka gerakannya akan disingkat; sebaliknya, jika gerakannya panjang, syairnya dipadatkan. Ini bukan sekadar teknik, melainkan filosofi.
Ia melambangkan keseimbangan, kebijaksanaan, nilai-nilai religius, dan semangat kolektivitas yang hidup dalam jiwa masyarakat Gayo.
Tari Saman adalah warisan luhur yang lahir dari tanah spiritual, tumbuh dalam budaya lisan, dan hidup dalam setiap hentakan irama tubuh para penarinya. Ia adalah dakwah yang menari, ilmu yang bersyair, dan sejarah yang masih bergetar hingga hari ini.
Redaksi | insetgalusnews | Artikel ini masih banyak kekurangan dan perlu masukan dari berbagai pihak. Disusun untuk kepentingan dokumentasi budaya dan sejarah lisan masyarakat Gayo. Beberapa bagian memuat interpretasi naratif dari sumber tradisi lisan dan keyakinan kolektif masyarakat setempat. Tidak dimaksudkan sebagai dalil teologis atau klaim absolut sejarah, melainkan sebagai upaya pelestarian dan pemaknaan warisan budaya daerah.
“Laillahaillallah hu Tiada Tuhan Selain Allah” lafal akhir dalam tarian saman.


































