Konon, ilmu itu seperti kopi pahit. Awalnya membuat dahi berkerut, lama-lama justru bikin mata melek dan hati hangat. Begitulah perjalanan Dr Andi Putra. Seorang pemuda desa yang membuktikan jalan menuju kebijaksanaan tak selalu dimulai dari kota besar, melainkan dari niat tulus yang diseduh dengan kesabaran
PARIWARA | Insetgalusnews.com | Dari sudut sunyi Desa Terangun, lahir seorang putra daerah yang menapaki lorong-lorong ilmu hingga ke panggung akademik internasional. Namanya Dr Andi Putra Lc MA. Sosok yang membuktikan bahwa asal kampung bukan batas mimpi, melainkan titik tolak pengabdian.
Ia menamatkan studi doktoralnya di Universitas Malaya pada 2017 dengan spesialisasi Tafsir Al-Qur’an. Sebelumnya, ia meraih gelar sarjana dari Universitas Al-Azhar, Mesir, pada 2007, lalu melanjutkan magister bidang Al-Qur’an dan Hadis di Universitas Kebangsaan Malaysia pada 2010. Latar akademik lintas negara itu membentuk perspektif keilmuan yang luas sekaligus mendalam.
Jejak Pemikiran dan Karya Ilmiah
Sebagai akademisi, Andi Putra aktif menulis kajian keislaman. Beberapa karya ilmiahnya antara lain analisis pemikiran Shaykh Muhammad Sayyid Tantawi, telaah terhadap pemikiran Jemaat Ahmadiyah dalam tafsir The Holy Qur’an with Translation and Commentary di Indonesia, serta kajian tentang Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad dan pengaruhnya di Sumatera Utara. Tulisan-tulisan tersebut menunjukkan minatnya pada studi tafsir, pemikiran Islam kontemporer, dan dinamika aliran dalam masyarakat.
Kini ia mengemban amanah sebagai Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Syariat Islam di Dinas Syariat Islam Gayo Lues. Di luar tugas struktural, ia dikenal aktif mengisi pengajian rutin di berbagai masjid di wilayah kabupaten, serta menjadi penceramah pada peringatan hari besar Islam.
Dakwah yang Membumi
Kedekatannya dengan masyarakat terlihat dalam kegiatan temu ramah dan temu kangen anggota PWRI di Cafe Hj Jamilah, Raklunung. Dalam tausiah menyambut Ramadhan 1447 Hijriah, ia mengajak jamaah mempersiapkan diri secara menyeluruh. Membersihkan hati melalui taubat dan niat, menjaga kesehatan fisik, memperbanyak ibadah sunnah, mempererat silaturahmi, serta menetapkan target peningkatan kualitas ibadah puasa.
Pesannya sederhana namun kuat. Ramadhan bukan sekadar agenda tahunan, tetapi kesempatan memperbarui diri dan memperdalam iman.
Acara berlangsung hangat dan ditutup dengan kebersamaan menikmati hidangan ringan serta salat Asar berjamaah. Bagi masyarakat, sosok Andi Putra bukan hanya penceramah, melainkan bukti hidup bahwa ilmu yang tinggi akan menemukan maknanya saat kembali mengabdi di tanah kelahiran.
Pariwara | Insetgalusnews | ini mengandung jejak kekaguman, serpihan humor, dan sejumput filsafat kampung. Jika pembaca merasa termotivasi, itu efek samping yang tidak perlu diresepkan dokter. Namun bila merasa tersindir, harap maklum. Cermin memang tidak pernah salah, hanya kadang terlalu jujur.
Insetgalusnews | Ibrahim Aceh


































