NEW DELHI | insetgalusnews.com | Laporan awal dari Biro Investigasi Kecelakaan Pesawat Udara India (AAIB) mengungkap kebingungan di kokpit sesaat sebelum pesawat Air India Boeing 787 Dreamliner jatuh dan menewaskan 260 orang pada 12 Juni 2025 lalu.
Pesawat dengan nomor penerbangan AI117 itu lepas landas dari Bandara Internasional Sardar Vallabhbhai Patel, Ahmedabad, menuju London. Namun, beberapa saat setelah tinggal landas, pesawat kehilangan daya dorong dan mulai menurun. Rekaman CCTV bandara menunjukkan pesawat sempat mencapai ketinggian 650 kaki sebelum menghantam sebuah bangunan dan meledak dalam bola api.
Dalam laporan yang dirilis Sabtu (12/7) dini hari, AAIB menyebutkan bahwa dua sakelar pemutus bahan bakar mesin berpindah hampir bersamaan dari posisi “run” ke “cutoff”, menyebabkan mesin kekurangan bahan bakar. Kondisi itu membuat pesawat kehilangan tenaga secara mendadak saat baru mengudara.
Rekaman suara kokpit mengungkap perbincangan antara dua pilot yang menunjukkan kebingungan mengenai siapa yang memutus pasokan bahan bakar. “Kenapa kamu memutus bahan bakar?” tanya salah satu pilot. “Saya tidak melakukannya,” jawab yang lain. Identitas masing-masing pembicara tidak dijelaskan dalam laporan.
Komandan penerbangan diketahui bernama Kapten Sumeet Sabharwal (56), seorang instruktur Air India dengan lebih dari 15.000 jam terbang. Kopilotnya, Clive Kunder (32), memiliki 3.403 jam pengalaman terbang.
Hingga kini, AAIB belum bisa memastikan penyebab teknis perpindahan sakelar ke posisi cutoff. Para ahli penerbangan menilai perpindahan sakelar secara tidak sengaja sangat kecil kemungkinannya. “Jika benar dilakukan oleh pilot, maka perlu dipertanyakan alasannya,” ujar Anthony Brickhouse, pakar keselamatan penerbangan asal AS.
Pakar lain, John Nance, mengatakan jeda satu detik antar-sakelar mengindikasikan kemungkinan perpindahan manual, yang dinilainya sangat tidak lazim dilakukan saat pesawat dalam fase pendakian. Biasanya, sakelar cutoff hanya digunakan saat mesin dimatikan di darat atau dalam kondisi darurat seperti kebakaran.
Meski begitu, saat ditemukan, kedua sakelar berada di posisi “run”, dan terdapat tanda-tanda bahwa mesin sempat menyala kembali sebelum kecelakaan. Pesawat juga dilaporkan sempat menabrak beberapa pohon dan cerobong asap sebelum akhirnya menghantam bangunan.
AAIB menyatakan bahwa semua arahan kelayakan udara dan buletin peringatan telah dipenuhi oleh pesawat dan mesin, yang menggunakan mesin buatan GE Aerospace.
Kecelakaan tersebut menewaskan 260 orang, termasuk 19 warga sipil di darat. Hanya satu penumpang yang selamat dari total 243 orang yang berada di dalam pesawat. Tragedi ini disebut sebagai kecelakaan penerbangan paling mematikan di dunia dalam satu dekade terakhir.
Pihak keluarga kopilot Clive Kunder enggan memberikan komentar kepada media saat menghadiri acara doa bersama di Mumbai, Sabtu (12/7).
Air India dalam pernyataannya menyebutkan pihaknya bekerja sama penuh dengan otoritas India dalam penyelidikan, namun menolak memberikan pernyataan lebih lanjut. Sementara itu, Boeing menyatakan terus mendukung proses penyelidikan. GE Aerospace belum memberikan tanggapan resmi.
Lembaga keselamatan penerbangan Amerika Serikat, NTSB, menyampaikan apresiasi atas kerja sama Pemerintah India dan mencatat bahwa tidak ada rekomendasi khusus yang ditujukan kepada operator Boeing 787 atau mesin GE dalam laporan awal tersebut. FAA menyatakan akan menindaklanjuti setiap risiko keselamatan yang ditemukan selama proses penyelidikan.
Di sisi lain, Air India juga tengah menghadapi sorotan terkait dugaan pelanggaran pada anak usahanya, Air India Express. Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa (EASA) menyatakan tengah menyelidiki maskapai tersebut setelah laporan Reuters menyebutkan keterlambatan penggantian suku cadang mesin Airbus A320 dan pemalsuan catatan kepatuhan.
Pemerintah India menegaskan komitmennya untuk menjadikan negara tersebut sebagai pusat penerbangan global. New Delhi menargetkan India sebagai hub penerbangan internasional yang mampu bersaing dengan kota-kota seperti Dubai.
Reuters | insetgalusnews


































