Hujan turun tanpa jeda, dan Aceh kembali belajar arti kehilangan. Rumah hanyut, jalan terputus, ladang terkubur lumpur; di balik semua itu, iman manusia dipanggil untuk menjawab satu pertanyaan sunyi? masihkah kita setia menjaga alam yang dititipkan Yang Kuasa?
TAJUK RENCANA | insetgalusnew.com | Bencana hidrometeorologi yang melanda berbagai wilayah Aceh bukan sekadar peristiwa alam yang berulang. Ia adalah luka yang terasa hingga ke ruang-ruang paling sunyi kehidupan warga. Anak-anak belajar di pengungsian, para petani kehilangan harapan panen, dan keluarga-keluarga bertahan dengan kecemasan yang tak selalu terucap.
Dalam keimanan, musibah tidak datang tanpa makna. Al-Qur’an mengingatkan;
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali.” (QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini tidak hadir untuk menyalahkan mereka yang tertimpa bencana, melainkan mengajak semua pihak bercermin. Ketika hutan kehilangan pelindungnya, ketika sungai kehilangan ruangnya, dan ketika keserakahan mengalahkan kearifan, maka alam pun memberi isyarat dengan caranya sendiri.
Namun iman juga mengajarkan, di balik duka selalu ada kekuatan untuk bertahan. Allah berfirman;
“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Kesabaran yang dimaksud bukanlah diam tanpa upaya. Kesabaran adalah tetap saling menggenggam ketika segalanya terasa runtuh. Aceh kembali memperlihatkan wajah imannya. Dalam gotong royong yang hidup, relawan yang datang tanpa pamrih, dan doa-doa yang tak putus di tengah keterbatasan.
Lebih dari itu, iman menuntut tanggung jawab. Manusia diciptakan bukan sebagai penguasa, melainkan penjaga bumi. Allah berfirman;
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30)
Menjadi khalifah berarti menjaga keseimbangan, bukan merusaknya. Merawat hutan adalah ibadah. Melindungi sungai adalah amanah. Menyusun kebijakan pembangunan yang menghormati daya dukung alam adalah wujud syukur yang paling nyata.
Aceh pernah bangkit dari luka besar bernama tsunami. Hari ini, bencana hidrometeorologi kembali mengetuk kesadaran kita. Maka pertanyaannya bukan semata tentang bantuan dan rehabilitasi, tetapi tentang keberanian untuk berubah-agar bencana tidak terus menjadi siklus yang berulang.
Sebab iman yang hidup tidak hanya terdengar dalam doa dan mimbar, tetapi tercermin dalam cara manusia memperlakukan alam dan sesamanya. Ketika alam menangis, sejatinya iman sedang dipanggil-untuk lebih jujur, lebih peduli, dan lebih bertanggung jawab.
Pada akhirnya, bencana hidrometeorologi di Aceh tidak hanya meninggalkan lumpur dan puing, tetapi juga pertanyaan yang tak boleh lagi dihindari. Apakah kita akan terus menenangkan diri dengan doa tanpa perubahan, atau menjadikan iman sebagai kompas untuk bertindak? Sebab alam tidak meminta banyak, ia hanya menuntut keadilan. Dan jika iman masih hidup di dada kita, maka ia seharusnya hadir bukan hanya saat bencana datang, tetapi jauh sebelum hujan pertama jatuh.
TAJUK| insetgalusnew | ini merupakan refleksi redaksi atas bencana hidrometeorologi di Aceh, tidak dimaksudkan untuk menyalahkan siapa siapa, melainkan mendorong kesadaran kolektif, tanggung jawab ekologis, dan kepedulian bersama.


































