Bagi warga Gayo Lues yang terisolasi, bantuan itu bukan hanya soal kebutuhan perut. Ia adalah kabar. Di luar sana masih ada saudara yang peduli. Masih ada daerah yang rela berbagi di tengah keterbatasan. Kelak, ketika jalur Gayo Lues kembali normal dan bencana tinggal catatan sejarah, ingatan tentang Abdya yang datang saat jalan terputus harus tetap hidup. Sebab, di saat paling gelap itulah, solidaritas menemukan maknanya.
TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Bencana hidrometeorologi bukan hanya merobohkan jembatan dan menimbun jalan di Gayo Lues. Ia juga menguji satu hal yang paling hakiki. Apakah kita masih saling mengingat ketika akses terputus dan harapan menipis. Di saat itulah Kabupaten Aceh Barat Daya datang, berulang kali, dengan satu bahasa yang paling mudah dipahami korban bencana dan kepedulian.
Ketika truk logistik tak bisa melintas dan jalur keluar Gayo Lues terbelah oleh longsor dan banjir, bantuan dari Abdya terus menemukan jalannya. Bukan sekadar dari pemerintah kabupaten, tetapi juga dari masyarakat biasa, partai politik, hingga jajaran kepolisian. Ada tangan-tangan warga Abdya yang ikut mengemas bantuan, ada empati yang berjalan lebih dulu daripada perintah formal.
Bagi warga Gayo Lues yang terisolasi, bantuan itu bukan hanya soal kebutuhan perut. Ia adalah kabar. Di luar sana masih ada saudara yang peduli. Masih ada daerah yang rela berbagi di tengah keterbatasan. Dalam sunyi pengungsian dan sulitnya komunikasi. Bantuan Abdya menjelma menjadi penguat batin. Tanda penderitaan ini tidak ditanggung sendirian.
Solidaritas Abdya-Galus mengajarkan satu pelajaran penting. Kemanusiaan selalu lebih cepat dari infrastruktur. Jalan boleh terputus, tetapi rasa persaudaraan tak mengenal longsor atau banjir. Di saat negara hadir dengan prosedur, saudara hadir dengan empati.
Tajuk ini patut dikenang, bukan untuk memuja satu daerah di atas daerah lain, melainkan sebagai cermin nilai-nilai Aceh yang sesungguhnya. Di tanah ini, hubungan antarsesama lebih kuat dari sekat administratif. Ternyata, bencana justru membuka ruang bagi persaudaraan untuk bekerja.
Kelak, ketika jalur Gayo Lues kembali normal dan bencana tinggal catatan sejarah, ingatan tentang Abdya yang datang saat jalan terputus harus tetap hidup. Sebab, di saat paling gelap itulah, solidaritas menemukan maknanya.
Catatan Redaksi | Tajuk rencana ini merupakan pandangan redaksi Insetgalusnews sebagai bagian dari fungsi pers dalam mengangkat nilai kemanusiaan dan solidaritas antardaerah.


































