Nama mereka tak tercatat di buku keluarga, tapi bertingkah bak pemilik utama. Dalam rapat keluarga, mereka bersuara lantang, menyanggah putra sulung, di hadapan orang banyak, tuan rumah tersenyum, entah malu, entah gentar, sementara adab hanya jadi sisa di altar.
Benar, mereka datang karena diundang, tapi undangan ke ruang tamu bukan ke gudang, apalagi masuk dapur, membuka lemari, lalu bilang “Gordenmu harusnya warna gading, bukan merah.”
TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Dalam tata kelola normal, tamu datang, duduk manis, minum kopi, lalu pulang dengan sopan. Tapi di belantara birokrasi hari ini, peta logika tampaknya sudah dibalik, kini tamu bukan hanya duduk, tapi mulai mengatur letak kursi, memarahi pelayan, bahkan menunjuk siapa yang layak tinggal di rumah.
Kelompok tamu tamu ini yang sejatinya tak punya hak dirumah, tak ikut saat mengecat dinding, dan tak tercantum dalam struktur keluarga, tiba-tiba tampil bak pemilik rumah.
Hadir dalam rapat keluarga, menyanggah putra semata wayang tuan rumah, dan itu dilakukan didepan kerabat kerabat lain. Bahkan dengan enteng memberi instruksi seolah-olah tamu ini sedang memimpin rapat keluarga. Etika? Adab? Ah, itu urusan nanti.
Memang benar, mereka datang atas undangan tuan rumah. Tapi undangan ke ruang tamu bukan berarti bebas bongkar dapur. Fungsi mereka mestinya sebatas tamu di keluarga tersebut. Tidak lebih.
Dan sebagai tamu yang diundang oleh tuan rumah, tamu ini seharusnya hanya mendengar, dan kalau ada kesalahan boleh memberi bisikan secara pribadi kepada tuan rumah, bukan malah ikut nimbrung mengatur keluarga dan putra semata wayang tuan rumah tadi.
Coba bayangkan kediri kita, bagaimana rasanya ketika tamu datang kerumah kita, terus mencoba memasuki kamar tidur, mengobok obok dapur, mengatur warna gorden, menghukum anak, keluarga dan kerabat dekat tuan rumah, maka yang dipertaruhkan bukan hanya harga diri keluarga, tapi juga wajah dari tuan rumah itu sendiri.
Lalu, pertanyaannya? apakah tuan rumah tak sadar bahwa rumahnya sedang diambil alih pelan-pelan? Ataukah ini memang rumah kontrakan, yang sewanya dibayar nyicil, bukan kontan?
TAJUK RENCANA | insetgalusnews | pandangan ini merupakan kondisi birokrasi kita hari ini yang disampaikan melalui pendekatan metaforis. Segala perumpamaan bersifat umum dan tidak ditujukan kepada pihak atau individu tertentu. Redaksi menjunjung tinggi kode etik jurnalistik dalam menyampaikan kritik dan pandangan.


































