Dalam kitab tua disebut, “Soal jika kita ditanya, jawab bahwa…” Tapi kini sebelum soal datang, jawaban telah dihamparkan oleh tangan yang tak semestinya.
Lemari buku dibuka, surat undangan disunting, dan perabot disusun seperti panggung sandiwara.
Apa gerangan rumah ini, jika tamborin ingin mengatur simfoni? Apa jadinya kapal layar, jika juru masak merasa bintangnya lebih terang dari sang nahkoda?
TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Dalam rumah yang tertata baik, seorang pembantu seharusnya tahu di mana letak sendok, bukan menentukan siapa yang layak duduk di meja makan.
Ia membantu merapikan taplak, bukan mengganti pola ubin. Tapi akhir-akhir ini, di rumah-rumah tertentu, pembantu mulai merasa punya hak memilih warna tirai dan menentukan siapa yang boleh masuk ke ruang tamu.
Barangkali ini zaman baru, zaman di mana bunyi langkah pelayan terdengar lebih nyaring daripada suara tuan rumah. Mereka bukan sekadar membantu di dapur, tapi mulai membuka lemari buku, mengatur susunan perabot, bahkan mengedit surat undangan yang belum sempat ditandatangani pemilik rumah.
Tentu, ini bukan celaan bagi mereka yang bekerja dengan sepenuh hati. Tapi ketika peran berubah arah dan batas mulai kabur, rumah akan kehilangan porosnya. Yang seharusnya sekadar memberi teh, kini sibuk membacakan isi agenda. Yang mestinya mendengar aba-aba, kini melafalkan komando.
Bayangkan saja sebuah kapal layar, di mana juru masak mulai memutar kemudi karena merasa lebih hafal bintang di langit. Atau orkestra, di mana pemain tamborin menepuk keras untuk menyaingi sang konduktor. Lucu, jika itu hanya panggung drama. Tapi bagaimana jika ini benar-benar terjadi di rumah kita, rumah bernama pemerintahan?
Tanda-tandanya sudah tampak. Beberapa tangan yang seharusnya menopang, malah mulai mendongak. Beberapa mulut yang semestinya menyampaikan, kini sibuk menyanggah. Dan sementara tuan rumah menjaga sopan santun, pembantu mulai menentukan siapa yang boleh bertamu.
Dalam rumah yang sehat, perabot tahu tempatnya, suara tahu nadanya, dan setiap peran dijalankan dengan tahu diri. Ketika kesadaran ini luntur, rumah bukan lagi tempat tinggal-melainkan panggung rebutan peran yang melelahkan.
Pada akhirnya, ini bukan soal siapa lebih cakap, tapi siapa yang tahu di mana berdiri. Sebab dalam kehidupan yang waras, tak semua boleh mengatur menu. Apalagi ketika yang disajikan bukan sekadar sarapan, melainkan masa depan.
Tugas pembantu memang di dapur, tapi jangan sampai ikut menyusun resep dan mengatur selera makan tuan rumah.
Sastra tulisan melayu kuno dalam kajian kitab Masailal pernah menyebut “soal jika kita ditanya jawab bahwa?”
Catatan Redaksi: “Soal jika kita ditanya jawab bahwa” adalah Refleksi Kitab Masailal-Su’al mengajarkan bahwa hidup ini penuh dengan pertanyaan, dan setiap pertanyaan membutuhkan jawaban yang berpijak pada ilmu, adab, dan tanggung jawab. Ia adalah cermin bahwa dalam kehidupan yang kompleks, Islam menyediakan metode berpikir dan jalan menuju kebenaran yang bernas dan manusiawi.
TAJUK RENCANA | insetgalusnews | Tulisan ini adalah tajuk bernuansa satir yang disusun untuk menyentil dinamika birokrasi hari ini secara simbolik dan reflektif, tanpa bermaksud menyerang pribadi atau kelompok tertentu. Semua ditulis dalam semangat menjaga etika jurnalistik dan mendorong tata kelola yang lebih sehat.


































