Di negeri yang rajin merancang, Tapi malas mengeksekusi langkah, Waktu jadi korban paling awal, Tertinggal diam dalam berkas yang tak terbuka. Gayo Lues, tanah yang berharap, Dihujani anggaran, dijanjikan harapan, Namun tiba-tiba proyek batal, Tanpa hujan, tanpa badai, Hanya sunyi… dari laci birokrasi yang terkunci rapat. Tender bukan kerja lima menit, Ia butuh hari-hari panjang dengan syarat, sanggah, klarifikasi, dan drama administratif yang tak kalah klasik. Tapi semuanya lenyap dalam satu klik “Tender Batal”.
Padahal ini bukan soal cat pagar, atau beli spidol untuk rapat. Ini jalan rakyat, jalan sekolah anak-anak, dan sawah yang butuh aliran air. Waktu tak bisa dibatalkan,tak bisa ditender, tak punya tombol “tayang ulang”. Ia hanya berjalan ke depan, meninggalkan kita dengan file PowerPoint dan mimpi-mimpi infrastruktur.
TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Di negeri yang masih rajin membangun rencana, tapi sering lupa membangun realisasi, waktu ternyata jadi korban paling pertama.
Di Gayo Lues, sejumlah proyek fisik bernilai miliaran rupiah tiba-tiba batal tender. Ya, tender batal, bukan karena hujan badai, tapi karena alasan yang-hingga kini-masih disimpan rapi, mungkin di laci birokrasi yang terkunci.
Padahal kita tahu, proses pengadaan barang dan jasa bukan pekerjaan lima menit. Mulai dari penayangan paket hingga penandatanganan kontrak, rata-rata butuh waktu 20 sampai 30 hari. Dan itu belum termasuk waktu untuk penjelasan, klarifikasi, sanggah menyanggah, bahkan drama administratif lainnya.
Jadi ketika tender dibatalkan begitu saja, waktu yang sudah habis tak bisa dicicil kembali. Ia hilang begitu saja, dan yang lebih menyedihkan, tidak ada lembaga yang mengurus “ganti rugi waktu”.
Penelusuran kami di laman resmi LPSE Gayo Lues menunjukkan beberapa tender dengan status “Tender Batal”. Bukan satu atau dua, tapi cukup untuk membuat kita bertanya? apakah ini kelalaian, atau memang ada kebijakan tak terlihat yang sedang bermain?
Anehnya, Unit Layanan Pengadaan (ULP) diam. Tidak ada klarifikasi, tidak ada siaran pers, bahkan tidak ada copas pernyataan standar. Mungkin karena mereka percaya, diam adalah bagian dari strategi komunikasi paling efektif dalam situasi krisis.
Padahal publik layak tahu. Karena proyek yang batal ini bukan soal pengecatan pagar kantor atau pengadaan spidol. Ini proyek-proyek yang menyangkut kebutuhan dasar. Jalan, sekolah, pengairan sawah, pelayanan kesehatan. Ketika proyek itu ditunda atau gagal terlaksana, rakyat yang merasakan langsung, bukan para pengambil keputusan yang duduk nyaman dalam ruang ber-AC.
Dan jangan lupakan satu hal paling mahal dari semua ini, waktu. Ia tak bisa dibatalkan, tidak bisa ditayangkan ulang seperti paket di LPSE. Ia terus berjalan, meninggalkan kita dengan daftar panjang proyek yang katanya prioritas, tapi nyatanya tidak lebih dari sekadar rencana PowerPoint.
Kalau setiap tahun ada proyek yang dibatalkan tanpa penjelasan, dan setiap kali publik hanya diminta bersabar, maka yang sedang dibangun bukan infrastruktur, tapi budaya abai yang sistemik.
TAJUK RENCANA | insetgalusnews | ini bertujuan membuka ruang diskusi publik, bukan menyerang pribadi atau lembaga. Kami mengundang pihak ULP Gayo Lues untuk memberikan penjelasan.


































