Emas Bisa Habis, Tapi Hutan Tak Akan Kembali

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Minggu, 3 Agustus 2025 - 03:58 WIB

50652 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Emas Habis Hutan Tak Kembali | doc | inset

Ilustrasi Emas Habis Hutan Tak Kembali | doc | inset

Artikel ini bukan titipan sponsor, bukan juga bisikan jin. Murni jeritan hati redaksi Insetgalusnews.com demi hutan Tengkereng tetap adem, budaya gak punah, habitat terjaga, masyarakat sejahtera. Kalau ada yang kepanasan, yuk sediakan kipas diskusi! untung rugi

TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Bayangkan seorang petani kopi Gayo yang mempertimbangkan membakar kebun kopi warisan kakeknya demi kayu bakar semalam. Ia berdiri di depan kebun, korek api di tangan, berdalih hanya ingin “melihat-lihat dulu” seberapa besar api yang dibutuhkan. Inilah gambaran yang pas untuk menjelaskan situasi eksplorasi tambang emas di kawasan hutan Tengkereng, Gayo Lues, saat ini.

Hutan Gayo Lues bukan sekadar hamparan hijau, tapi jantung Ekosistem Leuser, rumah terakhir bagi orangutan, harimau, dan gajah Sumatera. Layaknya rumah adat yang menyimpan pusaka leluhur, hutan ini melindungi kekayaan hayati yang tak ternilai. Namun kini, dalih “kajian awal” dan “survei pendahuluan” mulai membuka jalan bagi eksplorasi. Seolah-olah menguji seberapa dalam pisau bisa masuk sebelum benar-benar menikam.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Istilah “eksplorasi” sering dibungkus sebagai proses ringan dan minim dampak. Padahal, kenyataannya melibatkan pengeboran, pengambilan sampel batuan, pembukaan jalan, dan pembangunan fasilitas sementara-semua ini mengubah bentang alam secara nyata.

Menurut tren yang diamati organisasi lingkungan seperti Greenpeace dan WALHI, sebagian besar wilayah yang memasuki tahap eksplorasi akhirnya berlanjut ke eksploitasi aktif¹. Seperti korek api yang sudah dinyalakan, tinggal menunggu tumpukan jerami menyala.

Tahap eksplorasi hanyalah awal dari proses yang sulit dihentikan. Seperti seseorang yang menaksir harga sawah pusaka sambil berkata “belum dijual kok, cuma dilihat-lihat dulu.” Aktivitas ini secara perlahan mulai mengganggu habitat satwa, mengubah aliran air, dan membuka jalur masuk bagi kegiatan ilegal. Bila masyarakat Gayo tidak bersuara sejak sekarang, maka saat pohon tumbang dan lubang tambang menganga, penyesalan tak akan berguna.

Jika potensi emas ditemukan-dan itu biasanya sudah diasumsikan dari awal-maka tambang akan berjalan belasan tahun. Sedangkan dampak ekologisnya bisa bertahan ratusan tahun. Akses jalan yang dibuka untuk eksplorasi menjadi rute permanen. Fasilitas “sementara” menjadi infrastruktur tetap. Izin “sementara” kerap diperpanjang hingga tak berbatas waktu.

Mari kita berhitung dengan jujur. Menurut sejumlah studi internasional, Ekosistem Leuser memiliki nilai ekonomi ekologis yang diperkirakan mencapai lebih dari $7 miliar per tahun, termasuk dari penyerapan karbon, pengaturan air, dan keanekaragaman hayati². Gayo Lues sendiri bergantung pada hutan lindung ini sebagai sumber utama air untuk 15 sungai yang mengairi ribuan hektar sawah dan kebun kopi di dataran tinggi Gayo. (Gayo Lues, Aceh Tengah, Bener Meriah)

Industri kopi Gayo yang mengandalkan sumber air bersih dari hutan lindung ini menyumbang devisa lebih dari $45 juta per tahun dan menopang sekitar 80.000 keluarga petani secara berkelanjutan³. Ekowisata yang berbasis pada alam dan budaya Gayo juga berpotensi menyumbang belasan juta dolar per tahun jika dikembangkan secara optimal⁴.

Bila dibandingkan, potensi ekonomi jangka pendek dari tambang terlihat seperti recehan di tengah kerugian jangka panjang yang besar. Studi valuasi ekonomi lingkungan menyebutkan bahwa setiap hektar hutan lindung yang rusak bisa menyebabkan kerugian jasa ekosistem senilai ribuan dolar per tahun⁵. Ibarat menjual kerbau perah hanya untuk satu kali makan sate-keputusan yang keliru secara moral dan ekonomi.

Tentu saja, menolak eksplorasi tambang bukan perkara mudah. Janji pekerjaan dan pembangunan bisa sangat menggoda, seperti harga tinggi untuk sebidang sawah. Namun seperti pepatah Gayo “Temas Besilo Ken Legih Te Puren” Apa yang tampak menguntungkan di awal belum tentu membawa kebaikan di akhir.

Sekarang adalah waktu terbaik untuk berkata “tidak” saat api belum menyala, saat pohon masih berdiri, saat sungai masih mengalir jernih. Jangan menunggu hingga kebakaran terjadi untuk memanggil pemadam. Hutan yang dijaga hari ini bisa menjadi laboratorium biodiversitas dan destinasi wisata edukatif yang mengangkat kearifan lokal ke panggung dunia.

Pada akhirnya, ini bukan semata soal ekonomi atau lingkungan. Ini soal amanah. Leluhur Gayo menitipkan tanah ini dengan semangat budaya seperti istilah Gayo “Enti sempat dunie telangis, malu tertawan” hidup harmonis dengan alam dan sesama. Eksplorasi tambang bertentangan dengan semangat itu.

Apakah kita ingin dikenang sebagai generasi yang menjaga pusaka? atau generasi yang menggadaikan masa depan demi keuntungan sesaat? Jika kelak anak cucu bertanya mengapa kopi Gayo tak lagi harum, mengapa harimau hilang, apakah jawaban kita adalah “Dulu, kakek memilih emas daripada hutan”?

Seperti petani bijak yang tak membakar kebun kopi warisan demi semalam hangat, kita pun harus menolak membakar hutan lindung demi keuntungan sesaat. Karena ketika emas habis, hutan yang rusak takkan pernah bisa diseduh kembali jadi secangkir kopi Gayo.

Mari menjadi generasi yang menghentikan api sebelum menyala, bukan generasi yang memadamkan bara di atas abu. Menolak eksplorasi hari ini adalah investasi bagi Gayo Lues yang lestari dan bermartabat.


TAJUK ini merupakan pandangan redaksi Insetgalusnews.com terkait aktivitas eksplorasi tambang di kawasan hutan Tengkereng Gayo Lues. Ditujukan sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan, budaya, dan ekonomi masyarakat lokal untuk mendorong diskusi terbuka guna mencari solusi terbaik yang tidak mengorbankan masa depan generasi mendatang.


RUJUKAN:

1. Greenpeace Indonesia dan WALHI, tren konversi izin eksplorasi menjadi eksploitasi tambang, berbagai laporan 2020–2022.

2. UNEP-WCMC & Fauna & Flora International, The Ecosystem Service Valuation of Leuser Landscape, 2020.

3. Data ekspor kopi Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues dari BPS Aceh dan SCAI (2022).

4. Estimasi potensi ekowisata berbasis data Disbudpar Aceh dan studi IDEAS Indonesia, 2021.

5. Studi valuasi ekonomi lingkungan oleh Universitas Syiah Kuala dan CIFOR, 2021.

Berita Terkait

Jembatan Darurat Pintu Rime-Pining. Menutup Kekosongan Kebijakan Pasca Bencana. Siapa Yang Berperan?
Kriminal Ramai, Akhlak Sepi
Huntara dan Tanggung Jawab Pelaksana yang Tak Boleh Samar
Ganja Dibasmi, Kemiskinan Dibiarkan? Setelah Dibakar, Lalu Mau Diapain?  
Bencana Hidrometeorologi Aceh-Pengingat Bagi Kamu Aku dan Dia
Bencana Hidro! Alam Berdzikir dan Amanah Diuji
Cermin Retak Perbaikan Jalan Blangkejeren-Kutacane, Negara Diuji di Pegunungan Gayo Lues
Sodara Dari Abdya, Ia Ada Bersama Kita

Berita Terkait

Selasa, 21 April 2026 - 09:36 WIB

Bupati-Wabup Tegaskan Disiplin ASN, Plt Sekda; Kepala SKPK Wajib Awasi dan Evaluasi

Kamis, 26 Maret 2026 - 18:42 WIB

Ketua HWK Apresiasi Kinerja Polres Galus, Soroti Pentingnya Perlindungan Perempuan

Senin, 23 Maret 2026 - 18:04 WIB

Polres Gayo Lues Targetkan Ungkap Kasus Pembunuhan 2×24 Jam

Selasa, 17 Maret 2026 - 19:43 WIB

Pererat Silaturahmi Pengurus, DPD II Partai Golkar Gayo Lues Gelar Buka Puasa Bersama

Rabu, 25 Februari 2026 - 12:46 WIB

Warga Temukan Jasad Membusuk di Sangir, Polisi Lakukan Penyelidikan

Selasa, 24 Februari 2026 - 15:14 WIB

Vendor Sebut Pembangunan Huntara di Pungke Jaya Di Hentikan Tanpa Penjelasan

Senin, 23 Februari 2026 - 20:01 WIB

Mantan Calon Bupati Terlibat, Polres Galus Bongkar Jaringan Ganja Yang Dikendalikan Dari LP

Minggu, 15 Februari 2026 - 21:01 WIB

Progres Pembangunan Huntara Capai 50 Persen, Sejumlah Lokasi Ditarget Rampung Sebelum Ramadhan

Berita Terbaru

Jakaria SHut Praktisi Petani Kopi yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Perumahan & Permukiman Kabupaten Gayo Lues

GAYO LUES

Jakaria S Hut; Tanaman Kopi Dorong Pertumbuhan Ekonomi Warga

Kamis, 23 Apr 2026 - 21:22 WIB

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan