TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Sejarah bukan sekadar deretan tanggal dan peristiwa. Ia adalah alarm yang berbunyi bagi mereka yang mau mendengar. Awal dekade 2010, dunia Arab terguncang. Gelombang Arab Spring melanda dari Tunisia, Mesir, Libya, Yaman, hingga Suriah. Semua dimulai dari satu percikan-ketidakpuasan rakyat yang terlalu lama dipendam, lalu meledak bagai bara di bawah sekam.
Di Tunisia, tragedi Mohamed Bouazizi, seorang pedagang kecil yang membakar diri karena perlakuan aparat, menjadi sumbu. Api itu melompat lintas negara, merobohkan kursi-kursi kekuasaan, tapi juga menelan banyak korban dan meninggalkan puing-puing perang. Pesannya jelas, kekuasaan tanpa kepercayaan ibarat istana pasir, menunggu waktu untuk runtuh.
Di tanah air, kita tidak perlu menengok terlalu jauh. Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menjadi pelajaran segar. Penolakan warga terhadap kenaikan pajak di tengah ekonomi lesu, diperparah oleh ucapan Bupati Sadewo yang viral di media sosial, berubah menjadi gelombang aksi.
Bentrokan tak terhindarkan, dan ujungnya-pemakzulan. Konteksnya berbeda dengan Arab Spring, tetapi benang merahnya sama. Rakyat merasa tak dilibatkan, informasi simpang siur, dan kekhawatiran ekonomi serta lingkungan yang tak terjawab.
Gayo Lues, kecilnya wilayah bukan alasan untuk merasa aman. Di era media sosial, satu keluhan bisa menjadi trending, satu kebijakan yang dianggap tak adil bisa membangkitkan amarah kolektif. Gelombang protes kini tidak butuh waktu berbulan-bulan untuk mengkristal, cukup hitungan jam maka jadi.
Pemerintah daerah wajib belajar dari dua cermin ini. Transparansi anggaran, pemerataan pembangunan, layanan publik yang adil, serta keberanian membuka pintu kritik adalah benteng terbaik dari gejolak. Mengabaikan tanda-tanda awal adalah bermain api di ladang kering.
Bagi masyarakat, kritik adalah hak, tapi cara menyampaikannya menentukan hasil. Perubahan yang lahir dari musyawarah adalah perbaikan; perubahan yang lahir dari anarki hanya menambah puing.
Sejarah sudah memberi contoh. Pertanyaannya, apakah kita memilih memperbaiki rumah saat retakan masih kecil, atau menunggu roboh lalu menangisi reruntuhannya? “Pusing kita, kita kita pusing, alamak”
Catatan insetgalusnews: Tajuk ini bersifat edukatif, dimaksudkan untuk mengajak semua pihak belajar dari sejarah dan pengalaman daerah lain. Tidak untuk memprovokasi, menuding, atau menyamakan situasi Gayo Lues dengan Arab Spring maupun peristiwa di Kabupaten Pati.


































