Di rumah sempit ia menyalakan lampu teplok, sementara di forum dunia ia menyalakan cahaya bangsa. KH Agus Salim mungkin tak punya tabungan di bank, tapi ia menabung harga diri di lembar sejarah
TAJUK RENCANA | Insetgalusnews.com | Bayangkan seorang menteri luar negeri yang menguasai belasan bahasa, disegani di forum internasional, bahkan ikut mengetuk pengakuan dunia bagi Republik yang baru lahir, tapi pulang ke rumah hanya menunggu pemilik kontrakan menagih uang sewa. Itulah KH Agus Salim. Sosok pejabat yang pantas jadi panutan.
Di negeri yang kadang sibuk menimbun proyek dan tunjangan, Agus Salim justru sibuk menimbun kata, gagasan, dan doa. Ia tinggal di gang sempit, mendidik anak-anaknya di ruang tamu seadanya, sambil menolak godaan untuk menjadikan kursi menteri sebagai kursi empuk penuh rupiah.
Ironis? Ya. Tapi juga heroik. Karena justru dari kemiskinan itulah lahir kekayaan yang tak bisa dicuri yaitu “integritas”. Bung Karno menyebutnya guru, Hamka menyebutnya manusia bernilai sejuta. Dunia menunduk hormat pada diplomasi lidahnya, sementara ia sendiri tetap menunduk mencari remah nasi untuk keluarganya.
Hari ini, ketika sebagian pejabat mungkin sibuk “menghitung hasil sampingan”, Agus Salim memberi kita cermin, kekuasaan bukan soal berapa rupiah yang masuk ke saku, tapi berapa nilai yang kau tinggalkan untuk bangsamu.
Catatan Redaksi | Tajuk ini bukan sindiran personal, melainkan refleksi sejarah. KH Agus Salim hanyalah contoh nyata bagaimana seorang pejabat bisa miskin harta tapi kaya jiwa. Jika ada pejabat hari ini yang merasa “tersindir”, mungkin itu karena cermin sejarah sedang bekerja.


































